On 12/23/05, adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > sorry, bukannya meremehkan, tapi sadar konsekuensinya Pak? mengatakan > _mudah_ mencari orang untuku jadi kelinci percobaan (diabuse maksudnya) > di Indonesia, artinya mudah mencari orang untuk dijebloskan ke dalam bui > (mudah, berarti tinggal tunjuk kan?).
he he he. wah kalau diskusinya mau syntax atau semantics, ntar kayak diskusi dengan "pakar" dong. apakah "mudah == tinggal tunjuk"? [deleted] > saya (barangkali cuman saya?) belum bisa melihat contoh tsb. sebagai > memanfaatkan orang sebagai sekedar kelinci percobaan. rencana produk laparoscopy kami itu dipakai untuk mengoperasi orang. alat untuk mengoperasikannya ditrack dengan mata dokter. jadi, butuh orang untuk test terakhir. > > he he he ... Jangan beranggapan bahwa masalah agama vs science > > ini hanya menjadi masalah di negara ketinggalan seperti kita ini lho. > > nope. tidak. saya justru berpikir, itu next step, kalau kita mau > melakukan sendiri (rekayasa genetika). masalahnya, duit untuk ke situ > ndak sedikit, dan kita sendiri sudah menumpuk PR yang buanyak. bahkan > pernah utang 28,9T, sampai proyek berjalan 2 tahun (proyek 3 tahun), > daya serapnya cuman 5%, artinya apa? kita pinjam duit segitu cuman buat > bayar bunganya sampai 2 tahun (duit rakyat!), dan sebenarnya sampai > proyek selesai ... nah ini dia. mengapa harus pakai duit rakyat indonesia? apakah kalau penelitian di indonesia harus didanai oleh indonesia? saya ngotot ada research center di indonesia itu mestinya jenis yang didanai oleh asing. hal lain yang perlu diperhatikan adalah kita perlu belajar bekerja dan belajar menerliti. (entah untuk keseberapa kalinya saya bilang hal ini ya? bosen kali ya? itulah sebabnya kita perlu ada orang yang meneliti di sini. atau, ya kita kirim orang kita ke luar negeri untuk belajar bekerja dan belajar meneliti.) > ini ngomong soal tingginya angka morbiditas dan mortalitas terkait ISPA, > TB, malaria dll Pak? Sorry, no way :-) dikerjakan bersama-sama pun > (sudah puluhan tahun! come on ...), kita tidak becus mengatasi masalah > ini. bahkan sampai ngutang Pak. masih tegel bikin rekayasa genetika di > sini. kalau toh ada investor dari luar, mending uangnya dipakai buat > yang jelas-jelas butuh (dari pada ngutang). 1. kalau begitu, ngapain kita ngomong soal IT dong ;-) lebih penting ngomongi sampah di selokan, kaki lima, ... milis teknologia ini sudah menghabiskan dana indonesia. daripada uangnya dipakai untuk bikin infrastruktur komunikasi, mendingan buat bikin WC umum yang bersih aja ;-) 2. kalau ada investor dari luar, apa mereka mau uangnya untuk ngurusi kaki lima? ;-) oh iya ya, untuk mengurusi kaki lima saja perlu studi banding ke luar negeri ya. (sarcasm intended.) uang investor mau diapakan, ya terserah investornya. saya jadi inget cerita, ada investor yang mau investasi di indonesia pakai alat-alat robotik. nggak boleh katanya, karena tidak menyerap tenaga kerja. ya akhirnya mereka pindah ke negara lain saja. akhirnya jelas2 tidak ada tenaga kerja di indonesia yng diserap. :( > ok. maaf kalau pernyataan saya berikut terlalu kasar, mudah-mudahan > point-nya bisa ditangkap: silakan hitung morbiditas dan mortalitas > parkinson di seluruh dunia, dibandingkan dengan angka morbiditas dan > mortalitas di indonesia _saja_ (boleh pakai jumlah total penduduk dunia > sebagai denominator kalau perlu). sekali lagi maaf, orang biasanya > sensitif dengan pernyataan: biarlah mati satu, yang penting 1000 > selamat. point saya: silahkan saja kalau ada yang mau buat penelitian XYZ, tidak ada yang melarang kok. > kalau orang mau menekuni rekayasa genetika, bahkan karena kepintarannya > sampai direkrut oleh pusat penelitian luar. ok. selamat. salut. tapi, > kalau mau bikin rekayasa genetika di sini, kalau boleh saya pinjam > ungkapan ABG (kadang anak saya juga pakai :-): plis dong ah. kenapa pusat penelitian luar tidak bisa tempatnya di sini? nah, sama seperti mas Adi ... saya juga mau meluruskan logika :P seperti sudah saya jelaskan di email terdahulu, saya bukan pendukung dan juga bukan pengganjel stem cells research. (terutama masih bingung soal sisi agama dan moralnya. misalnya, bagaimana pendapat anda tentang membuat embrio/anak hanya untuk dijadikan eksperimen? how do you feel?) hanya, saya mengusulkan agar kita jangan sampai menjadi pengganjel. belum apa-apa, sudah mengganjel. gitu maksud saya, mas adi. peace ... -- budi
