On Fri, Dec 23, 2005 at 07:19:54AM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> Bukan masalah dibayar atau tidak dibayarnya.
> Penelitian yang melibatkan manusia harus didukung dengan sound
> theory and methodology karena ... melibatkan manusia.
> Efek yang ditimbulkan kepada manusia akan fatal bukan pada
> sang voluntir itu sendiri, tapi kepada umat manusia.
> (Bagaimana kalau ternyata membuat virus yang tidak bisa atau
> belum bisa diobati? Bagaimana kalau ternyata anaknya menjadi
> cacat? Siapa yang harus bertanggungjawab? dan seterusnya.)

itu baru masuk ke fase 1. _tidak_ melibatkan manusia. pada fase ini
harus ada report, report ini yang menentukan apakah 'proyek' bisa
dilanjut atau tidak.

menyebutkan manusia sebagai 'kelinci percobaan', itu harus ada pada fase
2 minimal. please note, mengatakan bahwa di Indonesia mudah mencari
orang untuk dijadikan kelinci percobaan justru memberikan 'stigma'
negatif terhadap rekayasa genetika itu sendiri.

sorry, bukannya meremehkan, tapi sadar konsekuensinya Pak? mengatakan
_mudah_ mencari orang untuku jadi kelinci percobaan (diabuse maksudnya)
di Indonesia, artinya mudah mencari orang untuk dijebloskan ke dalam bui
(mudah, berarti tinggal tunjuk kan?).

barangkali yang dimaksud adalah 'informed consent' yang tidak begitu
dipahami oleh orang Indonesia (seperti kasus Kang Harry? kalau iya,
nah .. itu soal lain. jadi 'kelinci percobaan' itu sendiri sebenarnya
kan cuman sebutan, sejauh segala sesuatunya sudah 'diberesi', apa pun
namanya berarti ok.

> Ceritanya dulu saya mencoba membuat start up company
> (3 engineers, 2 dokter) untuk otomatisasi laparoscopy surgery.
> Kami membuat alat yang melakukan tracking mata dokter
> dan menggerakan alat sesuai dengan arah yang diinginkan
> sang dokter (saat itu - tidak tahu sekarang - prosesnya dilakukan
> dengan instruksi sang dokter ke nurse, dokter lihat di monitor).
> Teknologi "dipinjam" dari dep of defence :) he he he

saya (barangkali cuman saya?) belum bisa melihat contoh tsb. sebagai
memanfaatkan orang sebagai sekedar kelinci percobaan.

> he he he ... Jangan beranggapan bahwa masalah agama vs science
> ini hanya menjadi masalah di negara ketinggalan seperti kita ini lho.

nope. tidak. saya justru berpikir, itu next step, kalau kita mau
melakukan sendiri (rekayasa genetika). masalahnya, duit untuk ke situ
ndak sedikit, dan kita sendiri sudah menumpuk PR yang buanyak. bahkan
pernah utang 28,9T, sampai proyek berjalan 2 tahun (proyek 3 tahun),
daya serapnya cuman 5%, artinya apa? kita pinjam duit segitu cuman buat
bayar bunganya sampai 2 tahun (duit rakyat!), dan sebenarnya sampai
proyek selesai ...

> Jadi, jangan salah ... di Amerika itu orang juga lebih ekstrim
> untuk urusan agama.

ya, dimana saja, bukan cuma di AS. tapi ini di luar yang ingin saya
tekankan. ndak usah jauh-jauh lah, soal kontrasepsi spiral misalnya,
kalau orang mau sedikit 'aware', bisa ngomong berbulan-bulan untuk yang
satu ini. orang kita kan terkenal permisif, kemungkinan besar karena
memang kurang ngeh, dgn satu baris 'fatwa' saja, lantas it's ok lah ...
tapi ini bukan berarti mudah menjadikan orang indonesia sebagi kelinci
percobaan. implikasi legalnya lain.

> Soal stem cell, jangan kaget kalau misalnya ada peneliti yang tiba2
> dibunuh oleh orang yang tidak setuju dengan penelitian tersebut
> (karena masalah keagamaan). Dokter yang melakukan aborsi saja
> pernah dibunuh oleh penganut agama yang strict. Kalau di Indonesia?
> Untungnya hanya ngomong doang ... ha ha ha.

saya sekarang sudah tidak kaget lagi kalau ada anak enak-enak mau
berangkat sekolah, digorok lehernya. kita bisa bahas ini di lain topik.

> harus bagi-bagi tugas.  kalau semua mikirin kaki lima di pinggir jalan
> ... "gimana mau maju?" (he he he, sarcasm intended.)

ini ngomong soal tingginya angka morbiditas dan mortalitas terkait ISPA,
TB, malaria dll Pak? Sorry, no way :-) dikerjakan bersama-sama pun
(sudah puluhan tahun! come on ...), kita tidak becus mengatasi masalah
ini. bahkan sampai ngutang Pak. masih tegel bikin rekayasa genetika di
sini. kalau toh ada investor dari luar, mending uangnya dipakai buat
yang jelas-jelas butuh (dari pada ngutang).

ok. maaf kalau pernyataan saya berikut terlalu kasar, mudah-mudahan
point-nya bisa ditangkap: silakan hitung morbiditas dan mortalitas
parkinson di seluruh dunia, dibandingkan dengan angka morbiditas dan
mortalitas di indonesia _saja_ (boleh pakai jumlah total penduduk dunia
sebagai denominator kalau perlu). sekali lagi maaf, orang biasanya
sensitif dengan pernyataan: biarlah mati satu, yang penting 1000
selamat.

kalau kita bisa mengatasi masalah penyakit terkait higiene-sanitasi di
negara kita, justru kita bisa menjadi dewa penyelamat bagi *banyak*
penduduk dunia (india, cina, vietnam, thailand dll :-) dengan menularkan
pengalaman sukses kita. biarlah ada 'Budi Rahardjo' lain di US (atau di
negara maju yang lain, yang pola penyakit bergeser dari infektif ke
degeneratif) sana yang memikirkan soal parkinson.

kalau orang mau menekuni rekayasa genetika, bahkan karena kepintarannya
sampai direkrut oleh pusat penelitian luar. ok. selamat. salut. tapi,
kalau mau bikin rekayasa genetika di sini, kalau boleh saya pinjam
ungkapan ABG (kadang anak saya juga pakai :-): plis dong ah.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

-- 
Vaste monde, ma paroisse. Wide world, my parish - Yves Congar

Kirim email ke