Harry Sufehmi wrote: > On 12/29/2005 at 5:21 AM Budi Rahardjo wrote: > >orang india membutuhkan waktu yang lama (tahunan) untuk membatalkan > >paten obat-obatan yang basisnya dari kunyit. mungkin karena orang > >amerika (maksudnya patent officernya) gak ngeh, > > Bukan mungkin, tapi memang iya begitu :-) > > Makanya sejak beberapa waktu yang lalu pada ribut soal "patent reform", agar > sistem paten Amerika yang sangat mudah utk di abuse bisa jadi lebih berpihak > kepada rakyat kecil. >
Bikin lebih kompleks lagi yuk,bukan hanya di AS tapi juga di negara lain seperti Jepang dan nantinya patent di malaysia,pilipina,etc karena mereka mempunyai peraturan yang beragam. Dilihat berdasarkan laporan dari URL diatas http://www.grain.org/briefings_files/tk-asia-2002-en.pdf yang dibuat oleh NGO di India,dalam kasus persh kosmetika Jepang Shiseido yang nyaris mempatenkan tradisional jamu Indonesia sebelum digagalkan oleh NGO/LSM kelihatan kompleksitas permasalahanya. Masalah lain lagi,saya baca di The Economist ternyata India yang mempunyai kemampuan dan industri R&D biotek mengalami kesulitan begitu pada tahap komersialiasi produknya karena hasil penemuannya bisa dibajak orang lain karena UU-nya tidak strict,jadi mereka cuman bisa jual ke LN. Kalau diamati lebih dalam,masalahnya bukan saja terletak pada peraturan negara tertentu; tapi pada wawasan,kemampuan(mengembangkan riset bio*) dan awareness sebuah negara terhadap bio* resources dan traditional knowledge. Carlos
