Pakcik wrote: > On 12/30/05, Zaki Akhmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> atau mungkin gak karna kita gak siap menerima keyakinan yang berbeda, om > Zaki? di diskusi orang2 barat, saya sering dengar begini, "I think mr.X will > disagree with me". seolah2 menunjukkan kesiapannya untuk berbeda pandangan. Pak Cik, saya masih anak kemarin sore. Kemampuan teknis saya masih script kiddies. Saya baru punya 2 ponakan. Jadi cuma 2 ponakan saya yang resmi berhak memanggil saya Om. Panggil saya Zaki saja ya. Saya lebih nyaman dengan itu ;) Saya cerita pengalaman saya saja soal kesiapan menerima keyakinan yang berbeda dengan orang lain. 2 minggu yang lalu, saya terpaksa marah-marah besar di salah satu milis komunitas yang saya ikuti. Marah karena ada perbedaan prinsip yang sudah melewati batas toleransi saya. Bayangkan: saya menulis tiga email dengan panjang 3 halaman untuk masing-masing email! Setiap kata-kata yang saya tulis saya perhatikan betul-betul. Dan saya sebutkan alasan-alasan saya mengapa saya harus bertindak seperti itu. Saya sebenarnya malas marah. Marah itu capek dan menghabiskan energi. Tapi bagaimana lagi, saya harus berani berpendapat dan siap menerima perbedaan pendapat. Beragam tanggapan pun datang. Ada yang bilang saya gila, saya sakit, malah ada ke tanya latar belakang saya: Zak, lo lagi ada apa sih? Diputusin cewek? Kehabisan duit bulanan? Ada lagi yang one-liner tanpa argumentasi jelas, ada yang masih memberikan balasan dengan alasan objektif, dan ada juga yang berani bilang "angkat topi" untuk saya. Semua saya terima. Dan saya jadikan feedback buat saya. Untung kala itu sudah beres satu tugas UAS, jadi tidak terlalu menganggu kuliah :D > demokrasi sering di artikan orang hanya hanya kebebasan berpendapat. tapi > yang paling susah dan penting itu sebenarnya kemampuan kita menerima > perbedaan. menurut saya ini yang terjadi dengan Indonesia sekarang. Kita gak > siap menerima perbedaan pendapat, keyakinan yang berbeda. Saya pribadi, lebih menghargai orang yang berani berpendapat dengan alasan yang kuat. Dan di tempat saya aktif berkegiatan dulu, budaya ini kami biasakan. Beda pendapat tidak masalah yang penting punya alasan di balik pendapat itu. Baru nanti alasan itu diadu, siapa yang lebih kuat. Kalau ada yang kalah, harus mengakui yang menang. Kalau masing-masing merasa menang tidak perlu kerjasama, tapi sama-sama kerja. Membuktikan siapa yang terbaik. > -- > Pakcik > Under Construction Zaki Akhmad http://www.zakiakhmad.info *masih script-kiddies*
