Setahu saya perang terakhir dia di milis adalah
> mengenai masalah perlunya pendidikan S1 Informatika di Indonesia
> (dipicu dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0408/05/ipt02.html

Kalau SKTI okeh sajalah.

> dan http://www.sinarharapan.co.id/berita/0406/10/ipt02.html).

Masalah S1,D3 penggajian dari contoh URL diatas sebenarnya hanya
terjadi di Indonesia *doang*.Saya banyak contoh lulusan SMA tapi jenius
yang living standardnya lebih tinggi dari pHD sekalipun.

Di masyrakat yang mengandalkan kompetensi dan pengalaman,latar belakang
pendidikan tidak terlalu penting.Yang penting apakah kompetensi dan
pengalamanya sesuai dengan kondisi market,alias supply and demand.

Contohnya,lulusan SMA yang expert di SONET jauh lebih dihargai
dibanding Master yang hanya expert pada T1 framing.Ini kejadian nyata
lho. Kedua,karena supply vs demand, EE engineer yang master Analog
lebih dihargai daripada digital.


Terus di contoh diatas ada kata2 'bantuan luar negeri" lagi yang hampir
haram hukumnya.


> Btw, Batak ini belum ada implementasinya ya (konsep doang)? Saya
> sebetulnya tertarik dengan memory modelnya.

He he he... gak heran kenapa belum ada implementasinya (mungkin karena
berasal dari tempat yang sama)

> > memang dalam bahasa pemrograman Batak masih menggunakan bahasa
> > inggris, tapi sekurangnya ini adalah bahasa pemrograman buatan orang
> > indonesia, tidak seperti "java" yang walaupun dinamakan dengan nama
> > salah satu pulau di indonesia namun bukan buatan orang indonesia.
> >
> > catatan tidak penting: ridho ini juga salah satu korban teknik "ad
> > hominem" dari roy suryo, ketika ridho menawarkan diskusi satu meja
> > dengan roy suryo.
>
> catatan yang tidak kalah tidak penting : salut euy, mereka dua orang
> yang selalu melawan dunia (ada hubungan sodara beda ayah beda ibu kali
> :)
>

Buat saya sich tidak,karena memang mereka maunya begitu sich,bakat alam
barang kali :-)

Anyway untuk memajukan IT (lagi-lagi harus ditulis begini) harus
diperbanyak
bisnis bisnis baru (dan bisnis lama) dalam sektor IT sehingga terlihat
bahwa dengan mengerjakan bisnis/hal IT, "living standard" bisa
meningkat.Di negara lain itu sudah terjadi.Jadi masyrakat di"sono noh"
berbondong-bondong belajar IT karena dengan belajar IT sudah terbukti
bisa hidup enak.

Cara pendekatannya di negeri lain gak ribet koq,pemerintahnya bikin
peraturan (bisnis/ekonomi/pendidikan) sedemikian rupa sehingga
investasi di bidang IT meningkat,termasuk meng-endorse(apa nih
indonesianya?) sektor baru yang tadinya tidak ada (seperti
outsourcing).

FYA, dari buku ekonomi statistik yang saya baca,ternyata Indonesia
masih diurutan bottom 50 dan dibawah Iraq dalam kemudahan berbisnis :-)

Carlos

Kirim email ke