On Thu, Jan 05, 2006 at 06:38:19AM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> apa yang mau dilihat dari proses seleksi?
> IQ? EQ? SQ? kemampuan bicara? berdiskusi?
> atau apa? hint, please.

mestinya ini pertanyaan internal, seperti apa yang mau diseleksi, untuk
apa diseleksi, seperti apa seleksinya, output seleksi seperti apa
dst..dst..

> > - turunkan uang gedung
> > - turunkan spp

barrier-to-entry di atas menentukan tipe orang yang bisa masuk.
contoh yang jelas: menerima pegawai baru (yang khusus beragama X).
sengaja pakai contoh sensitif :-) dengan demikian jelas sekali
environment seperti apa yg akan terbentuk.

saya memandang perguruan tinggi sebagai sebuah treatment dari suatu
penelitian experimetal, jadi pemilihan obyek penelitian yang eligible,
menentukan hasil (kriteria yang tepat dan randomized).

> hubungannya dengan "membangun diskusi yang hidup" kira-kira
> dimana ya?

motivasi. orang yang ngempeng susah sekali memiliki motivasi.
apa sih faktor yang mendorong orang untuk bisa mengobrol dengan
'gayeng'? ya minat dan motivasi. soal cara, nomer dua lah (walaupun
seringkali orang terlalu sibuk dengan masalah cara ini, sehingga
pembicaraan menjadi sangat membosankan. no progress). maaf, sara,
biasanya orang kaya 'kepekaannya' kurang.

> asumsi kita tidak punya kendali dalam proses seleksi.
> jadi, sudah diberikan sebuah kelas dengan kondisi apa adanya.
> apa yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan proses diskusi?
> atau ... memang sudah tidak ada harapan lagi? (hopeless?)

ini yang saya lihat dari pertanyaan Budi Rahardjo dan Rahmat M
Samik-Ibrahim, yang berasumsi: 'kita' OK, what's wrong with YOU?
atau bahkan (barangkali): 'saya' OK, what's wrong with YOU?
jangan pernah berpikir apa yang sudah sivitas akademika berikan padamu,
tetapi apa yang sudah kamu berikan pada sivitas akademika :-)

padahal, karena barrier-to-entry di atas, ya sudah, yang masuk memang
seperti itu.

kalau berpikiran pendek, ya sudah, kita selesaikan saja yang di depan
kita saja, stop talking about bullsh*t :-) jadinya ya kasih insentif
saja, misalnya dikasih:
- permen
- tiket keluar kelas gratis
- di-'kuliah'-i (saya dulu, saking demennya berdiskusi, walaupun kebelet
  pipis, tetap saya tahan, demi diskusi)
- point
- menjaga penampilan (rambut pakai jeli, dasi, dll)
- improvisasi lain

apa mau berpikiran pendek? kalau ya, silakan diskusi dilanjutkan.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

Kirim email ke