On 4/12/06, Estananto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


--- Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:

> Salah satu contoh trust model di P2P vs trust model
> di hierarki. Pada
> struktur sosial tertentu model hierarku lebih mudah
> diterima (dan bisa
>

Saya tertarik betul dengan pernyataan bahwa komunikasi
di komputer adalah formalisasi komunikasi di dunia
nyata. Nah. karena pola komunikasi di dunia nyata
berbeda2 tergantung kultur, demografi, dll, mestinya
ada arsitektur komunikasi berbeda antar daerah budaya
dong? Lalu bagaimana bentuk antarmuka antara mereka?

Suka atau tidak suka memang begitu, ini terlihat pada prefernsi model komunikasi yang lebih diterima oleh berbagai budaya (menurut Hofstede kita bisa klasifikaskan budaya berdasarkan grup etnis, latar belakang kerja dsb).  Sebagai contoh orang Indonesia memiliki kecenderungan mudah menerima teknologi "chat" ketimbang orang Jerman.

Begitu juga dalam penggunaan friendster, orkut berbeda sekali antara orang indonesia dan Jerman (he he walau sama-sama ABG). Hal ini akan mempengaruhi pola komunikasi, pola otentifikasi dsb

Pertanyaan lain: kalau tesis di atas valid, selama ini
kita memakai standar Barat/US, tapi kita sesuaikan
dengan kultur kita. Contohnya Friendster, kata pak
Made. Tapi apa mungkin yang terjadi sebaliknya, yaitu
kita membuat sistem komunikasi komputer yang spesifik
untuk kultur kita seperti misalnya information-based
agriculture business for small farmers?

Mengapa tidak pendekatan "ethnocomputing" memulai hal ini, Melihat kebutuhakn komputasi/komunikasi berdasarkan kultur yang ada.   Masalahnya kita sering menganggap dunia ini sama.

IMW 


Kirim email ke