misalnya pak made mau nonton 100 series discovery channel, cost : 5000
x 100= Rp. 500,000 ; bandingkan kalau mau nonton 100 series discovery
channel itu melalui subscribtion based yang hanya Rp. 50,000/misalnya.

Carlos itungan itu berlaku di USA, tidak berlaku di Jakarta/Indonesia :-),  coba hitung harga bandwidth, waktu download (jangan pakai asumsi, "seandainya bandwidth ada", pakai asumsi yang sudah ada sekarang)

Intinya selagi internet koneksi masih mahal dan DVD bajakan masih beredar teknologi ini rasanya sulit di terapkan walaupun bukan hal yang mustahil.

saya setuju pendapat Om Made untuk bisa mengcustomisasi content atau technologi dan make very simple, kenapa ?? karena kadang kalau kita adopted langsung dari negara asalnya jelas ngga bisa fit and macth dengan culture kita.

contohnya gini, ada applikasi bagus dengan framework yang canggih di install di operator, isi contentnya SMS Push tapi based dari data yang very update spt Wheater, di yurop cuaca berubah tiap menit content kayak gini laku di sini, tapi di indonesia cuman ada panas dan hujan heheheh.

demikian juga dengan teknologi, teknologi 3G misalnya karena masih mahal juga saya belum melihat content yang pass, masak make video phone terus buat nelpon istri laah nanti bisa ketahuan lagi dimana hehehehe. 

jadi sehebat apa-pun technology yang berhubungan langsung dengan end user sangat wajib untuk di adaptasi karena culture nya jelas memang beda. akhirnya business case juga harus beda, nah disini tantangannya, kalau cuma copy cat dari negara aslinya wah ngga seru karena ngga bersinggungan dengan kompleksitas, walaupun tujuan akhirnya membuat sesuatu itu jadi very simple, make it reality gitu lhooo ceritanya.


rgds

Adjie


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke