On Tue, 2 Nov 1999, Agung Yogisworo wrote:
|Setuju Pak tanpa perlu Voting memang debat disini bukan level Bapak dan
|saya tunggu pengamatan bapak di media tv seperti ekonom-ekonom lain al. Sri
|Mulyani , Faisal basri , Anggito Abimanyu , Syahril dll.
|
saya hanya ingin tahu, apa dalam diskusi ada level 1, 2 atau level"serat
jiwa"? saya kira, jangan lihat siapa yang bicara tapi coba dengar apa
katanya (dari ebiet). Mungkin saya yang bodoh ini tidak bisa mengungkapkan
dengan menggunakan bahasa yang berlevel tinggi serta beranalisis njelimet,
namun mungkin saya hanya bisa melihat yang global dan dangkal saja, yang
mungkin terlupkan oleh yang berpengetahuan tinggi?
Bukankah orang yang berlevel tinggi justru malah bisa menyesuaikan diri??
Saya selalu ingat tutur kakek saya yang buta huruf, yang selalu bilang
" orang yang berlilmu tinggi, harus pula bijak, sehingga dia bisa mengatur
keran keluaran saat mana, dimana, kala apa dan dengan siapa dia bicara"
lanjut si mbah saya " kamu nggak bisa cerita banyak sama si mbah yang buta
huruf dan kampungan ini, tapikalau kamu bisa "NGDONG KE" si mbah yang
goblok ini dan juga si AAA yang pinter dalam kala bersamaan, maka kamu
cucu yang paling pinter"
Lalu saya bertanya pada diri saya "masih relefankah apa ungkapan si mbah
saya ini??"
maaf kalau kurang berkenan, mohon untuk di beri pelajaran.
______________________________________________________________
>From [EMAIL PROTECTED] to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id