Mas Benny informasi dari anda menjadikan kita kaya akan wawasan.........
Kini semua keputusan tergantung dari keyakinan kan keimanan kita
masing-masing.
> Heri Susyanto
> ) [EMAIL PROTECTED]
> HP  0818-992013
> & 62 (0) 254 571333 Ext : 1809
> % 62 (0)254 572468  (fax)
> 
> ----------
> From:         Benny Ohorella[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         09 January 2001 17:37
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: [UNDIP] Ajinomoto
> 
> Saya dengar dari istri saya yg pernah di R&D utk
> produsen makanan....
> Mungkin sama seperti kasus halal-haramnya gula kristal.
> Untuk memperoleh kristal gula yang berwarna putih bersih
> dibutuhkan proses pemurnian yang menggunakan arang
> yang bisa berasal dari tumbuhan atau hewan.  Nah yang hewan,
> nggak tahu kenapa, biasanya dari tulang babi.  Jadi kalau
> ini terjadi maka gula itu menjadi haram, saya yakin
> dari LPPOM MUI nggak akan keluar sertifikat halalnya.
> Dan produk-produk yg dihasilkannya, seperti permen,
> coklat, biskuit, dll yang menggunakan gula itu akan
> ikut haram.  Dan arang itu sama sekali tidak ikut
> dengan gula tersebut.
> 
> Kenapa, soalnya, ada yang bilang produk Ajinomoto
> dalam kasus ini halal, karena dihasil akhirnya kan nggak
> ada unsur babinya.
> 
> Salam,
> Benny Ohorella
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Heri, Susyanto <[EMAIL PROTECTED]>
> To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: Akhmad, Khaqim <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Tuesday, January 09, 2001 4:10 PM
> Subject: [UNDIP] Ajinomoto
> 
> 
> >Fyi.......mudah-mudahan bermanfaat
> >> Heri Susyanto
> >> ) [EMAIL PROTECTED]
> >> HP  0818-992013
> >> & 62 (0) 254 571333 Ext : 1809
> >> % 62 (0)254 572468  (fax)
> >>
> >> ----------
> >> From: Akhmad, Khaqim
> >> Sent: 09 January 2001 15:46
> >> To: G IND PENI BKM
> >> Subject: FW: [tk-l] Ajinomoto
> >>
> >> berikut adalah penjelasan ttg kasus Ajinomoto dari salah seorang staf
> >> LPPOM MUI.
> >> Semoga bermanfaat.
> >>
> >>
> >> > Salam,
> >> > Akhir-akhir ini ramai berita ttg haramnya Ajinomoto.
> >> > Penjelasan ilmiah dibawah ini semoga dapat menghilangkan
> keragu-raguan
> >> > kita.
> >> >
> >>
> -------------------------------------------------------------------------
> -
> >> > -----------------------------------------
> >> >
> >> > Dear Kolega IPB,
> >> >
> >> > Saya menjadi sedih mengikuti pemberitaan kasus
> >> > Ajinomoto dan diskusi di milis ini.  Beginilah Indonesia, semua
> >> persoalan
> >> > selalu tidak lengkap dan jelas pemberitaannya sehingga selalu
> dipandang
> >> > negatif dan yang paling
> >> > parah adalah selalu dikaitkan dengan politik, padahal permasalahan
> >> > sebenarnya cukup sederhana yaitu KELALAIAN,KETIDAKTAHUAN DAN
> KEBANDELAN
> >> > (STUBBORN).  Seharusnya kita sebagai ilmuwan bisa lebih bijak dan
> teliti
> >> > dalam menyikapi suatu persoalan, cek dulu kebenaran dan duduk
> persoalan
> >> > yang sebenarnya.  Tetapi itulah ..akibat ketidaktahuan.. sehingga
> >> > menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak perlu.  Untuk itu perkenankan
> saya
> >> > memberikan beberapa penjelasan, yang saya yakin, cukup akurat karena
> >> saya
> >> > cukup mengetahui persis duduk persoalannya.
> >> > Hal-hal yang perlu saya jelaskan adalah sbb:
> >> >
> >> > 1. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika MUI(LPPOM MUI)
> >> > adalah lembaga yang dibentuk oleh MUI atas respons dan
> >> > tanggungjawab MUI dalam
> >> > masalah makanan halal, dimana lembaga ini dibentuk
> >> > setelah terjadinya kasus
> >> > lemak babi yang menghebohkan di tahun '80an.  Pada
> >> > waktu pendirian lembaga
> >> > ini MUI mengadakan kerjasama dengan IPB yang
> >> > dituangkan dalam bentuk MOU,
> >> > sehingga LPPOM MUI memiliki kantor di IPB dan
> >> > melibatkan cukup banyak
> >> > staf IPB untuk menjalankan tugas-tugas yang diemban.
> >> > Saya terlibat dalam tugas-tugas LPPOM MUI sejak tahun-tahun awal
> >> > berdirinya yaitu sebagai auditor.
> >> > LPPOM MUI memiliki missi membantu konsumen dan produsen dalam
> >> > memproduksi dan menyediakan pangan, obat-obatan dan kosmetika halal.
> >> > Dalam masalah ini MUI bekerjasama dengan Depkes dan Dep Agama, hal
> ini
> >> > dituangkan
> >> > dalam bentuk ikatan formal (maaf saya lupa bentuk ikatannya).
> >> > Walaupun demikian LPPOM MUI bekerja atas dasar voluntir,
> >> > tidak memiliki kekuatan hukum, yang memiliki kekuatan hukum yaitu
> >> lembaga
> >> > pemerintah,
> >> > sedangkan LPPOM MUI adalah lembaga nonpemerintah dan
> >> > nonprofit.  Jadi pemeriksaan halal akan dilakukan oleh MUI apabila
> ada
> >> > yang
> >> > meminta (bukan keharusan!!).  Pemeriksaan awal dilakukan oleh LPPOM
> MUI
> >> > (dalam banyak
> >> > kasus lain bersama-sama dengan auditor dari Depkes dan Depag) yang
> akan
> >> > menerjunkan para auditornya (kebanyakan staf IPB, untuk yang di
> pusat,
> >> > sedangkan yang di daerah, seperti di Jatim banyak melibatkan juga
> para
> >> > staf
> >> > pengajar baik yang dari Unibraw maupun PT lainnya),
> >> > yang akan memeriksa sistem jaminan halalnya, administrasi dan
> manajemen,
> >> > produksi dan bahan-bahan yang digunakan.  Hasil auditing kemudian
> >> > dibicarakan di tingkat LPPOM MUI pusat, apabila masih ada yang
> dianggap
> >> > kurang maka dikembalikan ke perusahaan yang diaudit untuk diperbaiki.
> >> > Apabila proses di tingkat LPPOM MUI dianggap selesai maka persoalan
> >> > dibicarakan di tingkat
> >> > komisi fatwa MUI.  Di komisi fatwa MUI, apabila tidak ada
> >> > hal-hal khusus (persoalannnya sudah jelas), maka tinggal
> >> > mengesahkannya sehingga keluarlah sertifikat halal.  Akan tetapi
> apabila
> >> > ada
> >> > hal-hal
> >> > khusus seperti hal-hal yang meragukan, maka komisi fatwa akan bekerja
> >> > lebih
> >> > lanjut untuk menetapkan kehalalannya dari segi syariah.  Jadi
> >> > pada dasarnya untuk menetapkan kehalalan ini para ilmuwan bekerjasama
> >> > dengan ulama syariah (komisi fatwa MUI).  Perlu diketahui pula bahwa
> >> > komisi fatwa MUI terdiri dari ahli syariah dari berbagai kalangan
> (NU,
> >> > MUhamadiyah, Persis, dll).  Perlu pula diketahui bahwa biaya yang
> >> > dikeluarkan oleh produsen
> >> > untuk sertifikasi halal ini sangat rendah, LPPOM MUI
> >> > hanya menarik biaya antara ratusan ribu sampai maks 2 juta rupiah per
> >> > produk (tergantung pada besar kecilnya perusahaan), biaya ini
> terendah
> >> di
> >> > dunia untuk suatu sertifikat halal.  Bayangkan kami sebagai auditor
> >> tidak
> >> > memiliki gaji,
> >> > yang ada hanya uang jalan yang besarnya Rp. 100.000 per
> >> > hari jika melakukan auditing, ada juga uang rapat auditor, tapi juga
> >> > sangat kecil.  Jadi saya yakin LPPOM MUI adalah benar-benar lembaga
> >> > nonprofit.
> >> >
> >> > 2. Dalam masalah Ajinomoto ini, sebetulnya memang benar yang
> >> dipersoalkan
> >> > adalah porcine (enzim dari babi) yang digunakan dalam salah satu
> >> rangkaian
> >> > produksinya, tepatnya adalah salah satu nutrient media untuk
> pertumbuhan
> >> > mikroba (perlu dicatat disini adalah nutrient ini diproduksi oleh
> >> > perusahaan lain, bukan oleh Ajinomoto).  Disini permasalahannya
> berbeda
> >> > dengan kotoran babi yang digunakan untuk pupuk
> >> > tanaman (jangan lupa dari segi memanfaatkan kotoran babi, ini adalah
> >> > kegiatan
> >> > haram, menurut saya, karena memanfaatkan produk babi yang haram,
> segala
> >> > kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan babi dan khamr serta
> >> turunannya
> >> > dilarang) karena kotoran tersebut terpisah dengan buah, juga tidak
> sama
> >> > dengan ikan yang makan kotoran manusia karena ikannya bisa
> dipuasakan.
> >> > Pada proses-proses bioteknologi yang melibatkan mikroba, semua media
> >> > (mengandung nutrien untuk pertumbuhan mikroba) bercampur dengan
> mikroba
> >> > dan
> >> > produk yang dihasilkan.  Pada waktu membuat starter, jika salah
> >> > satu nutriennya mengandung komponen turunan babi maka starter
> >> > tersebut akan bercampur dengan komponen tersebut.  Starter yang
> >> didalamnya
> >> > terikut komponen haram ini kemudian digunakan untuk memproduksi MSG.
> >> MSG
> >> > yang diperoleh kemudian dipisahkan dan dimurnikan.  Dari sini kita
> bisa
> >> > memahami jika komisi fatwa MUI memutuskan bahwa produk MSG dengan
> cara
> >> ini
> >> > haram karena logikanya dianalogikan dengan pembuatan whey dari air
> susu
> >> > dengan menggunakan porcine(enzim dari babi), whey yang dihasilkan
> haram.
> >>
> >> > Keharamannya menurut saya karena dua hal yaitu karena bercampur
> >> (walaupun
> >> > sesudahnya dipisahkan) dan karena memanfaatkan bahan yang berasal
> dari
> >> > babi
> >> > untuk pembuatan bahan pangan (pemanfaatan ini ada yang membolehkan
> >> apabila
> >> > digunakan bukan untuk konsumsi, dalam hal ini bersifat khilafiyah,
> >> tetapi
> >> > kalau untuk konsumsi setahu saya semua sepakat untuk
> mengharamkannya).
> >> > Terus terang kami di LPPOM MUI juga terjadi perdebatan seru mengenai
> >> ini,
> >> > tetapi akhirnya persoalan dibawa ke komisi fatwa MUI dan diputuskan
> >> > disana.  Sebetulnya fatwa MUI ini juga sejalan dengan pendapat moslem
> >> > scholar dari IFANCA (organisasi sertifikasi halal terbesar di USA)
> yaitu
> >> > Dr. Muhammad Munir Chaudry, yaitu produk bioteknologi akan halal
> >> > apabila dalam rangkaian produksinya menggunakan bahan-bahan yang
> halal,
> >> > termasuk media dan nutrien mikrobanya.  Ternyata untuk Kosher
> (makanan
> >> > halal
> >> > untuk Yahudi) menerapkan peraturan yang sama.  Silahkan baca Chaudry,
> M.
> >> > M.,
> >> > Regenstein, J. M., 1994. Implications of biotechnology and genetic
> >> > engeneering for kosher and halal foods. Trends in Food Sci. Technol,
> 5,
> >> > 165-168.
> >> >
> >> > 3. Sebetulnya dua tahun yang lalu MSG yang diproduksi oleh Ajinomoto
> >> > Indonesia telah dinyatakan halal dan telah mendapatkan sertifikat
> halal
> >> > dari MUI.  Dengan dasar sertifikat halal MUI itulah Ajinomoto
> Indonesia
> >> > dapat mengajukan pencantuman label halal ke Ditjen POM Depkes (yang
> >> > berwenang dalam masalah perlabelan produk pangan jadi adalah Depkes,
> >> bukan
> >> > MUI).  Masalahnya, pada 6 bulan terakhir ini pihak Ajinomoto merubah
> >> salah
> >> > satu ingredien yang digunakan untuk produksi dengan ingredien yang
> >> > bermasalah tanpa melaporkannya ke LPPOM MUI.  Dalam perjanjian yang
> >> > ditandatangani oleh pihak Ajinomoto, apabila terjadi perubahan maka
> >> > harus melaporkan ke LPPOM MUI sebagai yang memeriksa
> >> > kehalalannya untuk dievaluasi terus kehalalannya.  Seandainya
> prosedur
> >> > tsb dijalankan maka apa yang terjadi sekarang seharusnya tidak
> terjadi
> >> > karena tentu saja LPPOM MUI akan mengevaluasi dulu kehalalannya
> sebelum
> >> > produksi
> >> > dilangsungkan dan dipasarkan.  Jadi peyebabnya masalah ini yang
> >> > pertama adalah ..KELALAIAN..pihak Ajinomoto.
> >> >
> >> > 4. Sebetulnya pihak Ajinomoto juga beberapa bulan yang lalu pernah
> >> > menanyakan secara pribadi ke saya tentang masalah ini, pada waktu itu
> >> saya
> >> > jawab produknya tidak halal karena alasan-alasan yang saya kemukakan
> >> > diatas, tetapi mereka rupanya belum percaya.  Pada waktu diaudit oleh
> >> > auditor LPPOM MUI permasalahan ini juga sudah dikemukakan dan
> produknya
> >> > diragukan, akan tetapi kelihatannya pihak Ajinomoto belum bisa
> menerima
> >> > sehingga persoalannya dibawa ke komisi fatwa. Seandainya saja pada
> waktu
> >> > itu Ajinomoto mau merubah, mungkin persoalannyatidak akan mencuat
> >> seperti
> >> > sekarang.  Jadi inilah yang saya katakan penyebab masalah ini adalah
> >> > ...KETIDAKTAHUAN DAN STUBBORN....
> >> >
> >> > 5.  Kasus pemusnahan produk akibat menggunakan ingredien haram
> >> sebetulnya
> >> > bukan yang pertama kali terjadi.  Kasus ini terjadi di industri
> flavor
> >> > yang
> >> > memproduksi berbagai jenis flavorings untuk bahan pangan.  Kebetulan
> >> salah
> >> > satu auditor LPPOM MUI yang terlibat adalah saya sendiri.  Salah satu
> >> > produk flavor yaitu yang termasuk savoury/meat flavour (yang
> >> > digunakan diantaranya untuk mie instant) salah satu ingredien
> >> > yang dipakai untuk pembuatannya yaitu sistein.  Ternyata sistein ini
> >> > dibuat atau diperoleh dari rambut manusia.  Menurut kami (LPPOM MUI)
> >> > sistein ini tidak boleh digunakan, komisi fatwa MUI kemudian
> >> menegaskannya
> >> > bahwa ya barang itu haram. Pihak produsen diberitahu dan bagusnya
> mereka
> >> > cepat mengambil tindakan yaitu memusnahkan puluhan ton meat flavor
> >> > yang sudah diproduksi, sebagian lagi diekspor ke negara nonmuslim.
> >> Dengan
> >> > demikian selamatlah si produsen tadi karena kasusnya tidak terekspos
> >> > keluar.  Bisa dibayangkan kalau sempat terekspos yakin masyarakat
> akan
> >> > geger
> >> > karena dampaknya diantaranya hampir semua produk mie instant harus
> >> > ditarik, belum lagi produk-produk lainnya yang menggunakan flavor
> >> > tersebut.
> >> >
> >> > Jadi ... persoalan awalnya murni tidak ada unsur politik, persaingan
> >> > dagang, dll...  Kalau sekarang terlihat kisruh, ya itulah
> >> > Indonesia...baru sampai situ taraf budaya kita.  Ya kita yang intelek
> >> > tentunya harus bertindak, diantaranya:
> >> > 1. Menyumbangkan tenaga dan pemikiran kita untuk menuntaskan
> >> > permasalah-permasalahan umat, salah satunya yaitu produk bioteknologi
> >> ini,
> >> > bagaimana hukumnya.. apa saja syaratnya agar produknya menjadi halal.
> >> > 2. Menjaga jangan sampai ikut membingungkan masyarakat, masyarakat
> kita
> >> > masih sangat awam, kalau kita belum tahu duduk persoalannya lebih
> baik
> >> > diam
> >> > dulu, sambil mencari tahu dan mencoba mencari penyelesaiannya.
> >> > 3. Tidak berburuk sangka karena ..sebagian dari buruk sangka adalah
> dosa
> >> > ... (Al-Quran, Al-Hujuraat ayat 12).
> >> >
> >> > Demikian penjelasan saya, mohon maaf apabila ada penjelasan dan
> >> > kata-katasaya yang salah, apabila ada yang salah mohon bagi yang
> >> > mengetahui
> >> > kebenarannya untuk meluruskannya.
> >> >
> >> > Wasalam,
> >> >
> >> > Anton Apriyantono
> >> > Staf Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB.
> >> >
> >> >
> >> > >
> >> > > > From: A.K.Jailani[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> >> > > > Sent: Sunday, January 07, 2001 5:48 PM
> >> > > > Subject: Kode Haram
> >> > > >
> >> > > > Sebagai informasi saja, bersama ini saya sampaikan
> >> > > E-Code (emulsion)
> >> > > > yang digunakan dalam makanan atau minuman dalam
> >> > > kemasan yang dianggap
> >> > > > "tidak halal" (mengandung lemak babi atau
> >> > > alkohol). Kode tersebut
> >> > > > dapat ditemukan dalam kemasan makanan atau
> >> > > minuman.
> >> > > >
> >> > > > E100, E110, E120, E153, E210, E213, E214, E216,
> >> > > E234, E252, E270,
> >> > > > E280, E325, E326, E327, E334, E335, E336, E337,
> >> > > E422, E430, E431,
> >> > > > E432, E433, E434, E435, E436, E470, E471, E472,
> >> > > E473, E474, E475,
> >> > > > E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492, E493,
> >> > > E494, E542, E570,
> >> > > > E572, E631, E904.
> >> > > >
> >> > > > Demikian disampaikan, semoga bermanfaat.
> >> > > > A.K.Jailani
> >> > >
> >> > >
> >> > >
> >> >
> >> >
> >> > __________________________________________________
> >> > Do You Yahoo!?
> >> > Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
> >> > http://photos.yahoo.com/
> >> >
> >> > Visit Our Homepage : http://www.juanda16.org
> >> >
> >> >
> >> > To unsubscribe from this group, send an email to:
> >> > [EMAIL PROTECTED]
> >> >
> >> >
> >>
> >> ---------------------------------------------------------------------
> >> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >>
> >>
> >______________________________________________________________
> >>From "Heri, Susyanto" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> >Milis Archive: http://messages.to/archives or
> http://messages.to/archives2
> >DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
> >
> 
> ______________________________________________________________
> >From "Benny Ohorella" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
> 
______________________________________________________________
>From "Heri, Susyanto" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke