[EMAIL PROTECTED] wrote:
> Seringkali kita merasa pesimis jika melihat
> realita masyarakat Muslim di sekitar kita tidak seindah apa
> yang ada di negeri-2 yang notabene bukan negara muslim. Yang
> seharusnya kita cermati adalah mengapa dan bagaimana sikap
> positif ini bisa terbentuk?metode apa yang digunakan untuk
> membentuk masyarakat yang demikian?
***********************************************

Eko Raharjo:
Yang namanya REALITA itu selalu terdiri dari baik dan buruk,
indah dan ugly, tidak perduli di masyarakat barat atau timur
Muslim atau non Muslim. Adalah keliru kalau melihat bahwa
kehidupan di barat (non Muslim) baik melulu. Cuma bedanya,
masyarakat barat terus maju dengan masalah dan tantangan BARU,
masyarakat Indonesia berkutet dengan masalah itu-itu saja dan
yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Perkara pencurian sandal di Mesjid, orang harus melihat
realita baik-baik. Apakah bukan karena masih ada kelompok 
masyarakat yang tidak mampu membeli sandal? Kalau memang
demikian, masyarakat harus responsive terhadap kebutuhan
kaum kecil dilingkungan yakni dengan gerakan donasi sandal
di mesjid-mesjid. Hal yang sama dilakukan disini, setiap
mau memasuki musim Winter selalu ada aksi Jacket Racket,
dimana masyarakat mengumpulkan donasi jackets, coats dst
untuk the needy. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali
dengan perkara dosa. Kalau ada yang berdosa itu adalah
justru pihak masyarakat mampu namun ignorant terhadap
kebutuhan kelompok yang tidak mampu.

Saya mengamati banyak orang Muslim yang belum berusaha
mikir sudah merasa minder: "Di mesjid sandal jepit di
tilap sedangkan di gereja piano dan organ selalu ada".
Let me explain, kalau gereja tidak dikunci saya tanggung itu
barang pasti kabur. Kalau pengin tidak kehilangan sandal
japit, ya gembok saja (dan dikalungkan keleher). Tentu saja
ruginya sembahyang jadi tidak khidmat. Gereja di gembok
ada juga ruginya yakni bisa disalah gunakan untuk perbuatan
mesum dari Pastor pemilik gereja. Saya tidak ngarang!. Banyak
bukti dan alegasi mengenai hal ini. Poin saya, mesjid tidak
perlu dibandingkan dengan gereja.  

Juga kita tidak perlu obsessive membandingkan dinamika
masyarakat diluar negeri dengan di tanah air. Mengapa
disini banyak jualan TANPA ditunggui termasuk juga di
gas station (pompa bensin), sebab kebanyakan orang pada
sibuk dan tenaga kerja mahal! Di Indonesia dimana banyak
orang nganggur kenapa sok tiru-tiru masyarakat disini,
kan lebih baik kasih kerjaan itu orang, atau berilah
kesempatan untuk bervolunteer. 

Marilah pakai common sense, apa gunanya PAMER
atau punya impian bahwa masyarakt Muslim hendaknya
jujur,  menuntut kalau ada makanan di meja yang bukan
miliknya meskipun perut lapar dan kantong kosong (atau
ada tapi untuk bayar uang pangkal sekolah) sebaiknya
dipandangi saja itu makanan. Ini namanya menyiksa orang!
dan justru tidak islami. Dalam masyarakat barat (non
Islam) pun tidak kurang copet, maling, gentho dst.
Namun bedanya masyarakat disini pakai common sense  
dan hukum benar-benar ditegakkan.

Akhir kata, syah-syah saja bermimpi mengenai surga
namun selesaikan dulu perkara dunia. Kurang masuk akal
kalau berkotbah mengenai kejujuran sementara itu
kita tidak perduli terhadap kemiskinan orang.
Juga kurang etis untuk bicara soal dosa dengan
orang yang kelaparan.

Wassalam,
Eko Raharjo

---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #112
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke