Tapi aku setuju Pak untuk tidak berkomentar bagus apa enggak, menyinggung pihak lain apa enggak, kalo belum liat sendiri.....
Salam, Mei
At 09:38 AM 2/27/2004 -0400, you wrote:
Manakala saya nonton the Passion of the Christ, yang ada dibenak saya bukan masalah khotbah agama. Justru disitu Mel Gibson membuktikan bahwa ybs adalah seorang produer film yang yahud.
Yang menitikkan air mata adalah sekuel terakhirnya ketika "Jesus" yang diperankan James Caviezel disiksa. (Perdebatan disini terjadi. Kalau menurut Islam yang dipaksa membawa salib itu bukan Jesus. Sementara kalangan mengatakan itu sebenarnya Judas sang pengkhianat.)
Namun lebih dari itu, bagi saya, nonton the passion of the christ itu bukan apa-apa selain untuk mengisi waktu luang saja. Saya anggap entertainment. Pesan agama nya mungkin nggak begitu tertangkap efeknya. Nggak ngaruh sebab bahasanya pakai bahasa Hebrew (kata teman saya. Namun kata Mel Gibson Armaik dan Latin). Bahasa Inggris hanya jadi sub title. Karena kebiasaan saya yang jarang ngikuti subtitle ketika nonton film ya akhirnya the Passion of the Christ menjadi film ala Charlie Chaplin saja. (Entahlah mau nonton lagi atau nggak ya enaknya).
Saya pikir kalau belum nonton filmnya nggak usah berkomentar yang nggak-nggak dulu sebab akan berbeda. Contohnya tuduhan Newsweek bahwa film itu akan mengobarkan sentimen anti semit. Ternyata tuduhan itu nggak terbukti. Bahkan seorang Rabi Yahudi di Halifax ketika diwawancarai TV lokal justru heran dimana anti semitnya. Jadi janganlah terjebak pada tulisan di koran yang ternyata sudah "biased".
Dibandingkan dengan Harry Potter, film Mel Gibson ini hanya rame di media namun nggak akan rame di bioskop.
Itu saja deh.
Salam dari Halifax,
IW
-------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1456 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
