Absolutely agree...

 

Yang minta dukungan menang untuk menang PIMNAS dan sejenisnya saya turut doakan..:-)



Agus B Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ajang pemilihan Ratu-ratuan (Miss Universe, Kakang-Mbakyu, Indonesia
Model dll) memang bukan sekedar lomba kencantikan. Ada yang lebih dari
itu. Ajang tersebut tak lain adalah juga merupakan perpanjangan sejarah
perbudakan di balik kontes kemolekan tubuh perampuan. Telitilah sejarah
Eropa dan Amerika abad ke-18. Bermula dari ulah sekelompok sindikat
penjual budak yang ketika itu memulai sebuah eksebisi, para budak
pilihan dikumpulkan di suatu tempat untuk dilelang. Mereka disuruh
hilir-mudik di atas panggung, sementara para calon pembeli menonton
dengan seksama. Eksibisi itu mengguncan tatanan moral perempuan
bangsawan Eropa. Namun akhirnya para gadis dan istri pembesar itu tidak
mau ketinggalan dengan budaknya. Mereka campakkan kehormatan demi yang
kepuasan yang mengginakan.

Kaum entertainer modern dengan, ditopang oleh impresario Yahudi
melestarikan eksitensi eksibisi bdak dalm bentuk yang dipercanggih,
dipoles se "wah" kontes miss universe. Anehnya, eksibisi semacam itu
mendapat animo deras dari seluruh pelosok penjuru dunia. Padahal, ada
banyak hal "ajaib" yang menjadi sasaran penjurian kontes. Diantaranya
yang ajaib itu adalah ukuran dada, perut, dan bagian pinggul. Demikian
juga warna kulit, jenis ramnut, bentuk alis, bola mata, lesung pipit
dan lekukan bibir. Tak ketinggalan bentuk paha, betis, dan kuku.
Bukankah dengan penilaian itu perempuan tak ubahnya laksana bineka tanpa
nyawa yang pasrah untuk "ditelanjangi" di depan umum..? Ironisnya kontes
seperti ini masih lestari, dan bahkan cenderung dupayakan untuk
dilestarikan.

Gadis ramaj dengan rata-rata usia 18-24 tahun dan yang lebih tua lagi
tak sungkan untuk dijuluki "Pussycat" yang harus berlenggak-lenggok di
atas catwalk dengan pakaian yang mempertontonkan aurat dan mengundang
nafsu syahwati. Meski dibungkus dengan dalih bahwa pakaian-pakaian itu
adalah suatu hasi dari karya seni.

Diambil dari majalah Sabili No. 25 th. XI 2 Juli 2004/14 Jumadil Awal 1425 H

Jelaslah bahwa tujuan dari kontes ratu-ratuan adalah menonjolkan sesuatu
yang sudah menonjol dalam diri perempuan. Tujuan akhir tentu adalah
kepuasan Syahwat Hewani. Memang urusan syahwat sangat diminati, apalagi
oleh laki-laki yang hidung belang dengan ditunjang kekuasaan dan unang.
Kepada mahasiswa undip yang ikut dalam IM, semoga menang dan selamat
menjadi santapan laki-laki hidung belang, dengan imbalan harta benda
sebagai ukuran keberhasilan. Bukankah itu yang anda inginkan..???

Agus B Raharjo


--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2195
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id





Do You Wahyoo!?
Wahyoo!Movies make wide your smile.


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

Kirim email ke