Maklum pak Eko, masyarakat kita sudah terbiasa ikut-ikutan apa
yang terjadi di luar sana. Sebagian dari kita cenderung
menyukai sesuatu yang cenderung "wah" dan kurang melihat "apa
yang ada dibalik Wah" tersebut, "bagaimana proses Wah tersebut
dilakukan", "apa arti penting Wah" dan "Wah" "Wah" yang lain.
Sekedar popularitas? mengangkat "nama UNDIP"?. Lepas dari
aspek sejarah yang pak Eko jelaskan, Sampai sekarang saya
belum dapat jawaban yang 100% meyakinkan (bukan memuaskan
lho), apa sih sebenarnya Tujuan kegiatan semacam itu






---- Original message ----
>Date: Tue, 22 Jun 2004 09:38:52 +0700
>From: Agus B Raharjo <[EMAIL PROTECTED]>  
>Subject: [UNDIP] Sejarah Kontes Ratu-Ratuan  
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>Ajang pemilihan Ratu-ratuan (Miss Universe, Kakang-Mbakyu,
Indonesia 
>Model dll) memang bukan sekedar lomba kencantikan. Ada yang
lebih dari 
>itu. Ajang tersebut tak lain adalah juga merupakan
perpanjangan sejarah 
>perbudakan di balik kontes kemolekan tubuh perampuan.
Telitilah sejarah 
>Eropa dan Amerika abad ke-18. Bermula dari ulah sekelompok
sindikat 
>penjual budak yang ketika itu memulai sebuah eksebisi, para
budak 
>pilihan dikumpulkan di suatu tempat untuk dilelang. Mereka
disuruh 
>hilir-mudik di atas panggung, sementara para calon pembeli
menonton 
>dengan seksama. Eksibisi itu mengguncan tatanan moral perempuan 
>bangsawan Eropa. Namun akhirnya para gadis dan istri pembesar
itu tidak 
>mau ketinggalan dengan budaknya. Mereka campakkan kehormatan
demi yang 
>kepuasan yang mengginakan.
>
>Kaum entertainer modern dengan, ditopang oleh impresario Yahudi 
>melestarikan eksitensi eksibisi bdak dalm bentuk yang
dipercanggih, 
>dipoles se "wah" kontes miss universe. Anehnya, eksibisi
semacam itu 
>mendapat animo deras dari seluruh pelosok penjuru dunia.
Padahal, ada 
>banyak hal "ajaib" yang menjadi sasaran penjurian kontes.
Diantaranya 
>yang ajaib itu adalah ukuran dada, perut, dan bagian pinggul.
Demikian 
>juga warna kulit, jenis ramnut, bentuk alis, bola mata,
lesung  pipit 
>dan lekukan bibir. Tak ketinggalan bentuk paha, betis, dan kuku. 
>Bukankah dengan penilaian itu perempuan tak ubahnya laksana
bineka tanpa 
>nyawa yang pasrah untuk "ditelanjangi" di depan umum..?
Ironisnya kontes 
>seperti ini masih lestari, dan bahkan cenderung dupayakan untuk 
>dilestarikan.
>
>Gadis ramaj dengan rata-rata usia 18-24 tahun dan yang lebih
tua lagi 
>tak sungkan untuk dijuluki "Pussycat" yang harus
berlenggak-lenggok di 
>atas catwalk dengan pakaian yang mempertontonkan aurat dan
mengundang 
>nafsu syahwati. Meski dibungkus dengan dalih bahwa
pakaian-pakaian itu 
>adalah suatu hasi dari karya seni.
>
>Diambil dari majalah Sabili No. 25 th. XI 2 Juli 2004/14
Jumadil Awal 1425 H
>
>Jelaslah bahwa tujuan dari kontes ratu-ratuan adalah
menonjolkan sesuatu 
>yang sudah menonjol dalam diri perempuan. Tujuan akhir tentu
adalah 
>kepuasan Syahwat Hewani. Memang urusan syahwat sangat
diminati, apalagi 
>oleh laki-laki yang hidung belang dengan ditunjang kekuasaan
dan unang. 
>Kepada mahasiswa undip yang ikut dalam IM, semoga menang dan
selamat 
>menjadi santapan laki-laki hidung belang, dengan imbalan
harta benda 
>sebagai ukuran keberhasilan. Bukankah itu yang anda inginkan..???
>
>Agus B Raharjo
>
>
>--------------------------------------------------------------------------
>Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
>to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2195
>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList             
http://www.undip.ac.id
>
>
>
Anis Chariri
(02) 42284287


--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2197
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke