PR. Artikel. Selasa, 01 April 2003
Kebersamaan di Dusun Susuru
Tipologi Keberagamaan Masyarakat Liminal
Oleh DEDI AHIMSA RIYADI
CUKUP menarik menyaksikan kehidupan bersama di tengah
masyarakat Susuru Desa Kertayasa Kecamatan Panawangan
Ciamis. Bagi mereka, ada hal yang penting untuk
dipertahankan: kebersamaan. Dengan demikian, tak aneh
jika ada seorang Muslim Susuru yang mengikuti perayaan
Natal di gereja. Padahal, sebagaimana dikatakan oleh
Pak Kurdi Sopandi, tokoh kalangan Muslim di Susuru,
laku semacam itu dalam kitab Sulam bisa dianggap
murtad. Akan tetapi baginya, kemanusiaan lebih penting
daripada formalitas ritual. Malahan, ketika umat Islam
merayakan Hari Raya Idulfitri atau Iduladha,
penganut-penganut agama lain akan berbaur bersama
mereka untuk merayakannya dan mengucapkan selamat.
Memang, fenomena semacam itu sangat mudah ditemukan di
perkotaan yang lebih heterogen dan kosmopolit. Akan
tetapi, bagi masyarakat pedesaan -- Susuru terletak
kurang lebih lima kilometer dari jalan raya Panawangan
-- fenomena itu menjadi satu pemandangan yang luar
biasa. Bahkan bagi masyarakat sekitar dusun Susuru
pun, kebiasaan dan perilaku masyarakat Susuru dalam
beragama itu dianggap aneh.
Kebersamaan dalam keberagaman yang terdapat di Dusun
Susuru sudah menjadi fenomena yang sering diberitakan
dalam media, koran, dan elektronik. Penduduk Susuru
terdiri atas tiga kelompok keyakinan yang berbeda,
masing-masing Islam, Katolik, dan Penghayat
Kepercayaan. Pada awalnya, semua penduduk dusun Susuru
beragama Islam. Akan tetapi pada paruh pertama abad
ke-20, salah seorang penduduk Susuru yaitu Ki Sumarta,
yang telah masantren di Lumbung Kawali, memutuskan
untuk mencari elmu kamanusaan. Dalam usahanya itu ia
pergi ke Cirebon. Di sana ia bertemu dengan Pangeran
Madrais (sebelumnya bernama Sadewa Alibasya) yang
berasal dari keraton Gebang. Dari dialah Pak Sumarta
menemukan ilmu yang selama ini dia cari. Setelah
tamat, ia kembali ke Susuru dan menjadi penyebar utama
ajaran-ajaran Madrais yang dikenal dengan sebutan
Agama Djawa Sunda (ADS).
Pada perkembangan berikutnya, kurang lebih tahun
60-an, pemerintah melarang perkembangan ADS dan
pemimpinnya ketika itu, Pangeran Tejabuana,
memerintahkan para pengikutnya untuk memasuki agama
apa pun sesuai pilihan mereka. Dia sendiri kemudian
menganut agama Katolik.
Oleh karena itu, tak aneh jika banyak pengikutnya juga
menganut agama Katolik. Hal yang sama terjadi di dusun
Susuru (saat ini umat Katolik di dusun Susuru
berjumlah 162 jiwa dari 49 kk.). Akan tetapi,
sebagaimana dikemukakan oleh Pastor Rutten Osc., bahwa
masuknya mereka ke dalam agama Katolik bukan didasari
oleh keyakinan akan kebenaran ajaran Katolik, tetapi
mengikuti pemimpin mereka. Lebih jauh, pastor yang
berasal dari Belanda ini dan mulai bertugas di Cigugur
sejak tahun 1965, mengatakan, "Dari beberapa orang
yang beralih ke agama Katolik ada yang tidak puas
karena mereka secara massa, bukan berdasarkan
keyakinan.
Sehingga normal saja jika ada yang tidak merasa sreg,
tidak merasa pas karena mereka mengikuti pimpinannya.
Jadi ada yang kembali karena salah satu pemimpin
mendirikan kembali kebatinan dan mereka memasuki
kebatinan lagi. Yang harus dilihat adalah prosesnya.
Mereka masuk secara massal, bersama-sama, kalau tidak
puas ya mereka akan kembali lagi ke keyakinan awal
mereka. Ada juga beberapa orang yang merasa tidak
cocok dengan kebatinan dan di Katolik juga merasa
tidak menemukan kecocokan, tetapi masih tetap di
Katolik. Mereka terombang-ambing. Di antara mereka
juga ada yang masuk Protestan".
Fenomena itu memosisikan penduduk Susuru dalam satu
situasi ambang batas ketika mereka belum bisa
menegaskan pilihan dan memantapkan sikap keberagamaan
dengan jelas. Para penghayat kepercayaan, misalnya,
saat ini tampak telah pareumeun obor, atau kehilangan
pegangan karena keyakinan yang diajarkan oleh P.
Madrais belum mendarah daging dalam aktivitas
keseharian mereka. Salah satu ritual yang sampai saat
ini secara rutin dilakukan adalah kurasan, semacam
meditasi untuk melakukan ajirasa, sir, dan aji pikir
yang tujuannya mendekatkan diri kepada Nu Maha
Ngersakeun. Sampai saat ini, mereka masih mencari
formula yang tepat sebagai bentuk aplikasi dari elmu
kamanusaan.
Penelusuran berbagai bentuk ekspresi "budaya
spiritual" dan "budaya teknologis" dari beberapa
daerah di Tatar Sunda dimaksudkan untuk menemukan
kerangka aplikasi yang jelas tentang praktik beragama
berdasarkan adat karuhun Sunda. Keadaan seperti itulah
yang membuat beberapa pengikut kepercayaan merasa
gamang sehingga memutuskan untuk tetap di Katolik atau
mencoba mendalami agama Islam atau Protestan.
Situasi itu semakin berat karena selama ini, sebagai
kelompok minoritas, para penghayat kepercayaan
menyimpan trauma akibat represi yang dilakukan oleh
penguasa terhadap kelangsungan "agama" mereka. Menurut
Pak Adli Sukardi, seorang sesepuh penghayat di Susuru,
sejak zaman penjajahan Belanda, penguasa senantiasa
meminggirkan mereka dengan mencapnya sebagai aliran
sesat.
Karena kebijakan politik penguasa seperti inilah
sepanjang sejarahnya, kelompok ini pernah mengalami
pencekalan dan pelarangan berkali-kali. Mungkin akibat
hal ini pula sehingga para penghayat kepercayaan
bersikap apolitik, beberapa di antara mereka bahkan
merasa nyinyir untuk mendengar atau membicarakan
politik. Kata pulitik bagi sebagian penghayat telah
berubah makna menjadi keculasan, penipuan, dan
penjungkirbalikan fakta. Sikap apolitik itu memang
tidak ditampilkan secara terang-terangan. Mereka
misalnya tetap ikut mencoblos dalam pemilu, tetapi di
bilik suara mereka tidak mencoblos lambang partai apa
pun. "Toh, pemilu kan harus langsung, umum, bebas, dan
rahasia, dan saya bebas untuk tidak mencoblos," kata
salah seorang penduduk Susuru.
Kegamangan dan situasi liminal dalam beragama itu
tampaknya tidak hanya terjadi di kalangan umat Katolik
dan para penghayat kepercayaan. Di kalangan Muslim pun
tampaknya muncul kebimbangan untuk menentukan
identitas secara tegas. Situasi liminal di kalangan
umat Islam itu misalnya direpresentasikan oleh
tiadanya satu figur yang menjadi ideal bagi mereka.
Sosok yang selama ini dijadikan rujukan dalam berbagai
aktivitas keagamaan umat Islam adalah Pak Kurdi
Sopandi yang saat ini menjabat sebagai kepala Kantor
Urusan Agama Kecamatan Panawangan. Umat Islam
menjadikannya sebagai rujukan karena kapasitasnya
sebagai pejabat resmi pemerintah dalam bidang
keagamaan di daerahnya. Penanda lain terhadap
liminalitas sikap beragama umat Islam adalah minimnya
aktivitas dan ekspresi keagamaan umat.
Aktivitas keagamaan yang rutin dijalani oleh umat
Islam, selain ibadah salat, di Susuru adalah pengajian
agama yang diselenggarakan tiga kali seminggu.
Kesadaran untuk berzakat selain zakat fitrah, juga
belum muncul. Mungkin, ikon keislaman yang paling
tampak jelas adalah tiga masjid jami, satu pesantren
dan satu madrasasah tsanawiyah. Masih menurut Pak
Kurdi, pembangunan masjid-masjid jami itu dimaksudkan
untuk meningkatkan keberagamaan dan spiritualitas
masyarakat kampung Susuru meski tampaknya butuh
kesabaran dan perjuangan berat untuk mencapai tujuan
itu.
Akan tetapi, aspek yang paling jelas menunjukkan
liminalitas sikap beragama umat Islam di Susuru adalah
adanya kebimbangan untuk menentukan identitas
keislaman mereka. Orang-orang yang menjadi tokoh umat
Islam saat ini rata-rata dari kalangan muda yang sejak
kecil telah merasakan aroma pluralitas masyarakat
dusun yang terdiri atas tiga kelompok keyakinan yang
berbeda, tetapi tidak mengetahui bagaimana awal
munculnya keragaman itu. Pendidikan akademis keislaman
yang didapatkan oleh tokoh-tokoh Muslim itu cenderung
membuat mereka bersikap reformis. Misalnya, mereka
ingin menghapus takhayul dan tradisi yang sudah lama
berkembang di tengah masyarakat Susuru.
Menurut kalangan tua, Susuru memiliki beberapa orang
karuhun, di antara yang paling terkenal adalah Kiai
Panghulu Gusti, Eyang Anggayuda, Sang Adimana.
Dikatakan bahwa ketiga tetua itu merupakan pendiri
atau pembuka Dusun Susuru. Beberapa orang tua di sana
masih suka melakukan ritual memandikan benda-benda
pusaka yang diyakini sebagai peninggalan para karuhun.
Keinginan untuk menghapus mitos dan tradisi itu belum
juga terwujud karena dikhawatirkan akan merobek
kedamaian yang telah lama tercipta di dusun ini. Oleh
karena itu, para sesepuh Muslim di Susuru bersikap
untuk membiarkan tradisi itu. "Biarlah mereka yang
mengurusi masalah itu dan saya tetap mengurusi
akidah," begitu kata Pak Kurdi. Pemeliharaan rasa
kebersamaan dan kedamaian seakan telah menjadi
"ritual" yang paling utama.
Ajaran dan keyakinan yang terdapat dalam masing-masing
kelompok agama itu tampaknya mendukung dan menjamin
terlaksananya "ritual" itu. Dalam kepercayaan misalnya
dikenal konsep Pikukuh Tilu yang intinya mengajarkan
setiap manusia untuk berbuat baik kepada manusia lain
serta untuk mengenal diri sendiri didasarkan atas
cara-ciri salaku manusa, salaku bangsa, jeung salaku
urang Sunda.
Akan tetapi di luar yang bersifat religius, situasi
psikologis yang dialami dan dirasakan oleh
masing-masing kelompok keyakinan sangat mendukung
terpeliharanya kedamaian dan kebersamaan di dusun
Susuru.***
Penulis adalah alumni IAIN SGD Bandung, aktivis
SOPHiA; tulisan ini hasil kerja sama dengan Desantara
Cultural Studies, Jakarta.
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/