Upami nengetan ieu perkawis, saenyana nu ngadamel sikep toleransi antar umat beraga di dusun susuru, kumargi mayoritas eta wargi dusun susuru masih islam, urang sunda umumna komo nu muslim pasti gaduh rasa toleran nu luhur ka sasama umat, moal usil, ngahina, maksakeun agami ka pemeluk agami sanes. Nanging upami ningal kana sajarah proses lebetna agami-agami ka dusun susuru, "aliran kepercayaan" teu tiasa dianggap toleran ka agami islam, kumargi ayana rupi-rupi agami ieu disebabkeun ayana pemaksaan ningalkeun ajaran agami nu dianut keur mangsa harita nyaeta islam. Sapertos nu diserat dina ieu artikel kawitna warga penduduk susuru teh islam sadaya, nanging kumargi "Sumarta" tos ngalap elmu guguru ka Madrais di cigugur kuningan, lajeng anjeuna (Sumarta) nyebarkeun paham Madrais di susuru, anu salah sawios syaratna nyaeta kedah ningalkeun ajaran islam nu dianut, kitu deui nu dilampah ku Madrais ka para pengikutna di Cigugur, Kuningan. ----- Original Message ----- From: "mh" <> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, July 21, 2004 11:56 AM Subject: [UrangSunda] Perkara Dusun Susuru --> Artikel 3
> PR. Artikel. Selasa, 01 April 2003 > > Kebersamaan di Dusun Susuru > Tipologi Keberagamaan Masyarakat Liminal > Oleh DEDI AHIMSA RIYADI > > CUKUP menarik menyaksikan kehidupan bersama di tengah > masyarakat Susuru Desa Kertayasa Kecamatan Panawangan > Ciamis. Bagi mereka, ada hal yang penting untuk > dipertahankan: kebersamaan. Dengan demikian, tak aneh > jika ada seorang Muslim Susuru yang mengikuti perayaan > Natal di gereja. Padahal, sebagaimana dikatakan oleh > Pak Kurdi Sopandi, tokoh kalangan Muslim di Susuru, > laku semacam itu dalam kitab Sulam bisa dianggap > murtad. Akan tetapi baginya, kemanusiaan lebih penting > daripada formalitas ritual. Malahan, ketika umat Islam > merayakan Hari Raya Idulfitri atau Iduladha, > penganut-penganut agama lain akan berbaur bersama > mereka untuk merayakannya dan mengucapkan selamat. > > Memang, fenomena semacam itu sangat mudah ditemukan di > perkotaan yang lebih heterogen dan kosmopolit. Akan > tetapi, bagi masyarakat pedesaan -- Susuru terletak > kurang lebih lima kilometer dari jalan raya Panawangan > -- fenomena itu menjadi satu pemandangan yang luar > biasa. Bahkan bagi masyarakat sekitar dusun Susuru > pun, kebiasaan dan perilaku masyarakat Susuru dalam > beragama itu dianggap aneh. > > Kebersamaan dalam keberagaman yang terdapat di Dusun > Susuru sudah menjadi fenomena yang sering diberitakan > dalam media, koran, dan elektronik. Penduduk Susuru > terdiri atas tiga kelompok keyakinan yang berbeda, > masing-masing Islam, Katolik, dan Penghayat > Kepercayaan. Pada awalnya, semua penduduk dusun Susuru > beragama Islam. Akan tetapi pada paruh pertama abad > ke-20, salah seorang penduduk Susuru yaitu Ki Sumarta, > yang telah masantren di Lumbung Kawali, memutuskan > untuk mencari elmu kamanusaan. Dalam usahanya itu ia > pergi ke Cirebon. Di sana ia bertemu dengan Pangeran > Madrais (sebelumnya bernama Sadewa Alibasya) yang > berasal dari keraton Gebang. Dari dialah Pak Sumarta > menemukan ilmu yang selama ini dia cari. Setelah > tamat, ia kembali ke Susuru dan menjadi penyebar utama > ajaran-ajaran Madrais yang dikenal dengan sebutan > Agama Djawa Sunda (ADS). > > Pada perkembangan berikutnya, kurang lebih tahun > 60-an, pemerintah melarang perkembangan ADS dan > pemimpinnya ketika itu, Pangeran Tejabuana, > memerintahkan para pengikutnya untuk memasuki agama > apa pun sesuai pilihan mereka. Dia sendiri kemudian > menganut agama Katolik. > Oleh karena itu, tak aneh jika banyak pengikutnya juga > menganut agama Katolik. Hal yang sama terjadi di dusun > Susuru (saat ini umat Katolik di dusun Susuru > berjumlah 162 jiwa dari 49 kk.). Akan tetapi, > sebagaimana dikemukakan oleh Pastor Rutten Osc., bahwa > masuknya mereka ke dalam agama Katolik bukan didasari > oleh keyakinan akan kebenaran ajaran Katolik, tetapi > mengikuti pemimpin mereka. Lebih jauh, pastor yang > berasal dari Belanda ini dan mulai bertugas di Cigugur > sejak tahun 1965, mengatakan, "Dari beberapa orang > yang beralih ke agama Katolik ada yang tidak puas > karena mereka secara massa, bukan berdasarkan > keyakinan. > Sehingga normal saja jika ada yang tidak merasa sreg, > tidak merasa pas karena mereka mengikuti pimpinannya. > Jadi ada yang kembali karena salah satu pemimpin > mendirikan kembali kebatinan dan mereka memasuki > kebatinan lagi. Yang harus dilihat adalah prosesnya. > Mereka masuk secara massal, bersama-sama, kalau tidak > puas ya mereka akan kembali lagi ke keyakinan awal > mereka. Ada juga beberapa orang yang merasa tidak > cocok dengan kebatinan dan di Katolik juga merasa > tidak menemukan kecocokan, tetapi masih tetap di > Katolik. Mereka terombang-ambing. Di antara mereka > juga ada yang masuk Protestan". > > Fenomena itu memosisikan penduduk Susuru dalam satu > situasi ambang batas ketika mereka belum bisa > menegaskan pilihan dan memantapkan sikap keberagamaan > dengan jelas. Para penghayat kepercayaan, misalnya, > saat ini tampak telah pareumeun obor, atau kehilangan > pegangan karena keyakinan yang diajarkan oleh P. > Madrais belum mendarah daging dalam aktivitas > keseharian mereka. Salah satu ritual yang sampai saat > ini secara rutin dilakukan adalah kurasan, semacam > meditasi untuk melakukan ajirasa, sir, dan aji pikir > yang tujuannya mendekatkan diri kepada Nu Maha > Ngersakeun. Sampai saat ini, mereka masih mencari > formula yang tepat sebagai bentuk aplikasi dari elmu > kamanusaan. > > Penelusuran berbagai bentuk ekspresi "budaya > spiritual" dan "budaya teknologis" dari beberapa > daerah di Tatar Sunda dimaksudkan untuk menemukan > kerangka aplikasi yang jelas tentang praktik beragama > berdasarkan adat karuhun Sunda. Keadaan seperti itulah > yang membuat beberapa pengikut kepercayaan merasa > gamang sehingga memutuskan untuk tetap di Katolik atau > mencoba mendalami agama Islam atau Protestan. > > Situasi itu semakin berat karena selama ini, sebagai > kelompok minoritas, para penghayat kepercayaan > menyimpan trauma akibat represi yang dilakukan oleh > penguasa terhadap kelangsungan "agama" mereka. Menurut > Pak Adli Sukardi, seorang sesepuh penghayat di Susuru, > sejak zaman penjajahan Belanda, penguasa senantiasa > meminggirkan mereka dengan mencapnya sebagai aliran > sesat. > > Karena kebijakan politik penguasa seperti inilah > sepanjang sejarahnya, kelompok ini pernah mengalami > pencekalan dan pelarangan berkali-kali. Mungkin akibat > hal ini pula sehingga para penghayat kepercayaan > bersikap apolitik, beberapa di antara mereka bahkan > merasa nyinyir untuk mendengar atau membicarakan > politik. Kata pulitik bagi sebagian penghayat telah > berubah makna menjadi keculasan, penipuan, dan > penjungkirbalikan fakta. Sikap apolitik itu memang > tidak ditampilkan secara terang-terangan. Mereka > misalnya tetap ikut mencoblos dalam pemilu, tetapi di > bilik suara mereka tidak mencoblos lambang partai apa > pun. "Toh, pemilu kan harus langsung, umum, bebas, dan > rahasia, dan saya bebas untuk tidak mencoblos," kata > salah seorang penduduk Susuru. > > Kegamangan dan situasi liminal dalam beragama itu > tampaknya tidak hanya terjadi di kalangan umat Katolik > dan para penghayat kepercayaan. Di kalangan Muslim pun > tampaknya muncul kebimbangan untuk menentukan > identitas secara tegas. Situasi liminal di kalangan > umat Islam itu misalnya direpresentasikan oleh > tiadanya satu figur yang menjadi ideal bagi mereka. > Sosok yang selama ini dijadikan rujukan dalam berbagai > aktivitas keagamaan umat Islam adalah Pak Kurdi > Sopandi yang saat ini menjabat sebagai kepala Kantor > Urusan Agama Kecamatan Panawangan. Umat Islam > menjadikannya sebagai rujukan karena kapasitasnya > sebagai pejabat resmi pemerintah dalam bidang > keagamaan di daerahnya. Penanda lain terhadap > liminalitas sikap beragama umat Islam adalah minimnya > aktivitas dan ekspresi keagamaan umat. > Aktivitas keagamaan yang rutin dijalani oleh umat > Islam, selain ibadah salat, di Susuru adalah pengajian > agama yang diselenggarakan tiga kali seminggu. > Kesadaran untuk berzakat selain zakat fitrah, juga > belum muncul. Mungkin, ikon keislaman yang paling > tampak jelas adalah tiga masjid jami, satu pesantren > dan satu madrasasah tsanawiyah. Masih menurut Pak > Kurdi, pembangunan masjid-masjid jami itu dimaksudkan > untuk meningkatkan keberagamaan dan spiritualitas > masyarakat kampung Susuru meski tampaknya butuh > kesabaran dan perjuangan berat untuk mencapai tujuan > itu. > > Akan tetapi, aspek yang paling jelas menunjukkan > liminalitas sikap beragama umat Islam di Susuru adalah > adanya kebimbangan untuk menentukan identitas > keislaman mereka. Orang-orang yang menjadi tokoh umat > Islam saat ini rata-rata dari kalangan muda yang sejak > kecil telah merasakan aroma pluralitas masyarakat > dusun yang terdiri atas tiga kelompok keyakinan yang > berbeda, tetapi tidak mengetahui bagaimana awal > munculnya keragaman itu. Pendidikan akademis keislaman > yang didapatkan oleh tokoh-tokoh Muslim itu cenderung > membuat mereka bersikap reformis. Misalnya, mereka > ingin menghapus takhayul dan tradisi yang sudah lama > berkembang di tengah masyarakat Susuru. > > Menurut kalangan tua, Susuru memiliki beberapa orang > karuhun, di antara yang paling terkenal adalah Kiai > Panghulu Gusti, Eyang Anggayuda, Sang Adimana. > Dikatakan bahwa ketiga tetua itu merupakan pendiri > atau pembuka Dusun Susuru. Beberapa orang tua di sana > masih suka melakukan ritual memandikan benda-benda > pusaka yang diyakini sebagai peninggalan para karuhun. > > Keinginan untuk menghapus mitos dan tradisi itu belum > juga terwujud karena dikhawatirkan akan merobek > kedamaian yang telah lama tercipta di dusun ini. Oleh > karena itu, para sesepuh Muslim di Susuru bersikap > untuk membiarkan tradisi itu. "Biarlah mereka yang > mengurusi masalah itu dan saya tetap mengurusi > akidah," begitu kata Pak Kurdi. Pemeliharaan rasa > kebersamaan dan kedamaian seakan telah menjadi > "ritual" yang paling utama. > > Ajaran dan keyakinan yang terdapat dalam masing-masing > kelompok agama itu tampaknya mendukung dan menjamin > terlaksananya "ritual" itu. Dalam kepercayaan misalnya > dikenal konsep Pikukuh Tilu yang intinya mengajarkan > setiap manusia untuk berbuat baik kepada manusia lain > serta untuk mengenal diri sendiri didasarkan atas > cara-ciri salaku manusa, salaku bangsa, jeung salaku > urang Sunda. > > Akan tetapi di luar yang bersifat religius, situasi > psikologis yang dialami dan dirasakan oleh > masing-masing kelompok keyakinan sangat mendukung > terpeliharanya kedamaian dan kebersamaan di dusun > Susuru.*** > > Penulis adalah alumni IAIN SGD Bandung, aktivis > SOPHiA; tulisan ini hasil kerja sama dengan Desantara > Cultural Studies, Jakarta. > > > > PR. Artikel. Senin, 06 Januari 2003 Toleransi Hidup Rukun di Dusun Susuru DUSUN Susuru di Desa Kertayasa Panawangan Ciamis sebenarnya tak beda dengan dusun lainnya, baik di Ciamis maupun daerah lainnya. Namun, ada yang khas di dusun ini: sudah sejak lama tumbuh dan berkembang dua agama berbeda, serta sebuah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kekhasan itu saat ini tampaknya layak untuk sama-sama direnungi karena fakta yang ada di Susuru jarang ditemukan di daerah lainnya. Selain itu, karena Susuru seakan telah memberikan pelajaran soal toleransi dan kerukunan antarumat beragama serta penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak gontok-gontokan, tidak saling curiga satu sama lainnya. Hidup mereka benar-benar berdampingan dan saling tolong-menolong. Cara mereka hidup jelas bisa dijadikan teladan. Jika semua bisa seperti masyarakat Susuru, boleh jadi negeri ini aman, tidak ada bentrokan berdarah karena sentimen agama, misalnya. Agama pertama yang tumbuh dan berkembang di dusun berjarak 10 km dari pusat kota Panawangan ke sebelah barat atau 40 km dari Kota Ciamis ini, tentu saja Islam. Agama kedua, Kristen. Sementara itu, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kepercayaan yang diajarkan Djatikusumah dari Cigugur Kuningan. Para penganutnya sudah sejak lama memang punya toleransi yang tinggi terhadap penganut agama dan kepercayaan yang lain. Penganut agama Islam yang menduduki jumlah terbanyak dari penganut agama dan kepercayaan lainnya, tidak pernah menganggap super ketimbang yang lainnya. Sebaliknya, dengan penganut agama Kristen dan kepercayaan. Mereka tidak pernah minder berhubungan dengan pemeluk agama Islam. Yang unik, penghuni Susuru yang berjumlah sekira 2.000 orang ini sudah saling mengenal cara atau kebiasaan beribadahnya masing-masing. Penganut Islam tahu kapan penganut Kristen dan kepercayaan beribadah -- demikian pula caranya. Penganut Kristen dan kepercayaan pun hafal benar kapan penganut Islam beribadah. Lebih unik lagi, mereka umumnya hapal doa-doa yang diucapkan penganut agama lainnya, walau tidak dengan fasih. Letak tempat ibadahnya pun berdekatan sekali. Masjid dan rumah peribadatan penganut kepercayaan saling berhadapan, sedangkan tempat beribadah peganut Kristen berada sekira 20 meter dari keduanya. Ketiganya, dalam kondisi terpelihara, kecuali tempat beribadah penganut kepercayaan. Tak pelak, adanya dua agama berbeda dengan kepercayaan yang bisa hidup dan berkembang bertahun-tahun tersebut cukup mengundang decak kagum Wakil Gubernur Drs. H. Soedarna T.M. dan Bupati Ciamis H. Oma Sasmita Sumardi, S.H., M.Si., ketika berkunjung ke dusun ini beberapa waktu lalu. "Dusun ini luar biasa. Di sini ada tiga kelompok yang memiliki keyakinan beragama berbeda. Namun, mereka sangat toleran," kata Soedarna. Sementara itu, Bupati H. Oma mengatakan kerukunan beragama di Susuru tsb sebenarnya bisa dicontoh daerah lain yang sering bertentangan, seperti di Maluku. Kerukunan itu, tambahnya, harus tetap dijaga. "Jangan seperti di daerah lain yang saling bertentangan, gara-gara perbedaan agama," ungkapnya. ** MENGENAI penganut kepercayaan terhadap Tuhan YME di Susuru ini, berdasar catatan berjumlah 30 KK. Mereka jadi penganutnya konon sejak 1981 lalu. "Kami menganut kepercayaan ini memang sejak 1981. Agama karuhun Sundanya sendiri (demikian mereka menyebut kepercayaan yang dianutnya- red.) diajarkan Pak Djatikusumah dari Cigugur Kuningan," kata Kono (56), pupuhu dari kelompok tersebut. Hingga sekarang, mereka tetap kokoh memegang ajaran itu, tidak terpengaruh oleh ajaran agama resmi di Indonesia. Kelompok itu hidup sederhana. Mereka hidupnya mengandalkan hasil pertanian berkebun karena di wilayah Susuru tidak ada lahan pesawahan. Hasil pertanian tersebut mereka jual ke kota melalui jalan sempit berbatu yang dibangun tahun 1981. Menurut Kono, Adli, dan Holis (keduanya ais pangampih penghayatan), mereka merupakan penduduk asli Susuru, bukan pendatang. Asal mula mereka menjadi penghayat kepercayaan, setelah mendapat ajaran dari Djatikusumah dari Cigugur Kuningan. Setelah itu, mereka secara turun-temurun melaksanakan ajaran-ajaran Djatikusumah dengan setia, hingga sekarang. Diakui beberapa penganut ajaran itu, dalam perkembangannya, memang ada anggota yang "menyeberang" ke agama lain, seperti ke Islam atau Kristen. Umpamanya, karena pernikahan. Namun demikian, mereka tidak memasalahkannya. "Yang penting, anggota kami tetap percaya bahwa Tuhan itu ada. Itu saja," kata mereka. Dan memang, walaupun mereka tidak menganut ajaran agama tertentu, mereka tetap percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka pun tetap melaksanakan ibadat seminggu sekali secara bersama atau tiap waktu secara pribadi-pribadi di rumahnya masing-masing. Pegangan mereka dalam beribadah adalah Pikukuh Tilu. Sementara Tuhan YME mereka sebut Gusti Pangeran Sikang Sawijiwun. Ajaran-ajaran mereka yang berada di bawah lindungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ciamis tersebut umumnya menggunakan aksara Sunda. Pusat keagamaannya, di Cigugur, Kuningan. (Aam Permana S./"PR")*** > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! > http://promotions.yahoo.com/new_mail > > > > Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id > > Yahoo! Groups Links > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

