assalamu'alaikum...
nyanggakeun wartos, urang Tasik Dosen ITB nu meupeuskeun persamaan Helmholtz (duka naon :D) di belanda.
tapi iraha r&simkuring nya?
dh
---------------------------------------------
Republika, Senin, 15 Mei 2006
Persamaan Helmholtz Pecah di Tangan Dosen ITB
Persamaan matematika Helmholtz sering dipakai untuk mencari titik
lokasi minyak bumi.
Dulu, BJ Habibie menemukan rumus yang mampu mempersingkat prediksi
perambatan retak. Banyak lembaga di berbagai negara memakai rumus ini,
termasuk NASA di Amerika.
Kini, Yogi Ahmad Erlangga mengulang kesuksesan Habibie. Melalui riset
PhD-nya, Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz, Desember
2005 lalu. Selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkan
persamaan matematika Helmholtz yang sering dipakai untuk mencari titik
lokasi minyak bumi itu. Persamaan matematika itu sendiri dikenal sejak
satu abad silam.
Media Barat menyebut Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal, ia
adalah pria kelahiran Tasikmalaya, dosen Institut Teknologi Bandung
(ITB), dan saat itu sedang menempuh program PhD di Delft University of
Technology (DUT).
Keberhasilan itu memuluskan jalan bagi perusahaan perminyakan untuk
memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan biaya lebih rendah.
Selama ini, industri perminyakan sangat membutuhkan pemecahan rumus
Helmholtz itu agar bisa lebih cepat dan efisien dalam melakukan
pencarian minyak bumi. Setelah Yogi memecahkan persamaan Helmholtz
yang selama ini justru banyak dihindari oleh para ilmuwan, perusahaan
minyak bisa 100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak --
bila dibandingkan dengan sebelumnya.
Tak cuma itu, dari kebutuhan hardware pun, industri minyak bisa
mereduksi sekitar 60 persen dari hardware yang biasanya. Sebagai
contoh, program tiga dimensi yang sebelumnya diselesaikan dengan 1.000
komputer, dengan dipecahkannya rumus Helmholtz oleh Yogi, bisa
diselesaikan hanya dengan 300 komputer.
Yogi mengungkapkan, penelitian mengenai persamaan Helmholtz ini
dimulai pada Desember 2001 silam dengan mengajukan diri untuk
melakukan riset di DUT. Waktu itu, perusahaan minyak raksasa Shell
datang ke DUT untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara
matematika numerik yang cepat atau disebut robust (bisa dipakai di
semua masalah).
Selama ini, ungkap Yogi, Shell selalu memiliki masalah dengan rumus
Helmholtz dalam menemukan sumber minyak di bumi. Persamaan Helmholtz
yang digunakan oleh perusahaan minyak Belanda itu membutuhkan biaya
tinggi, tak cuma dari perhitungan waktu tetapi juga penggunaan
komputer serta memori.
''Shell selama ini harus menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali.
Bahkan, kadang-kadang harus ribuan kali untuk survei hanya di satu
daerah saja. Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware,''
ungkap Yogi kepada Republika.
Karena itu, sambung pria yang lulus dengan nilai cum laude saat
menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 itu, Shell meminta DUT melakukan
penelitian yang mengarah pada persamaan Helmholtz agar bisa lebih
efisien, cepat, dan kebutuhan hardware yang cukup kecil. Untuk proyek
penelitian tersebut, Pemerintah Belanda membiayainya karena proyek ini
dianggap sebagai bagian dari kegiatan untuk meningkatkan perekonomian
Belanda.
Yogi yang memiliki hobi memasak, melukis, dan olah raga itu,
memecahkan rumus Helmholtz setelah berkutat selama empat tahun. Yang
membuat penelitian itu lama, ungkap dia, karena persamaan Helmholtz
dalam matematika numerik yaitu matematika yang bisa diolah dengan
menggunakan komputer.
Karena itu, dalam melakukan penelitian, diperlukan beberapa tahapan
yang masing-masing tak sebentar. Apalagi, sambung dia, persamaan ini
memang sangat sulit. Ada dua cara untuk menguraikan matematika numerik
yaitu secara langsung (direct) dan literasi. ''Banyak pakar yang
menghindari penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz karena memang
sulit,'' kata pria kelahiran Tasikmalaya 32 tahun silam ini.
Pakar terakhir yang memecahkan teori Helmholtz adalah Mike Giles dan
Prof Turkel, berasal dari Swiss dan Israel, masing-masing dengan
caranya sendiri. Teori dari kedua pakar itulah yang kemudian
dianalisisnya beberapa waktu sehingga kemudian bisa dioptimalkan dan
dijadikan metode yang cukup cepat.
''Saya punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang saya
lakukan untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan
ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu saya dapatkan, saya
pecahkan dengan metode direct atau literasi,'' ujarnya.
metode langsung, papar Yogi, bila dalam perjalanannya kemudian
menemukan masalah yang besar maka akan mahal dari segi waktu dan
biaya. Namun metode literasi pun belum tentu bisa memperoleh solusi
atau kadang-kadang diperoleh dengan waktu yang cukup lama. Hanya, kata
dia, yang pasti, dengan metode literasi selalu murah dari segi
hardware.
''Persamaan Helmholtz ini bisa diselesaikan dengan literasi tapi kalau
dinaikkan frekuensinya, jadi sulit untuk dipecahkan,'' ujarnya. Yogi
memaparkan, untuk mengetahui struktur daerah cekung, misalnya, yang
dilakukan adalah meneliti daerah akustik dan kemudian dipantulkan
gelombangnya dengan frekuensi tertentu. Pantulan tersebut kemudian
direkam. Setelah itu, frekuensi akan dinaikkan misalnya, dari 10 Hz,
lalu naik lagi 10,2 Hz, 10,4 Hz, dan seterusnya.
Yang kemudian menjadi persoalan, ungkap dia, ketika frekuensi
dinaikkan, persamaan Helmholtz akan semakin sulit untuk diselesaikan.
Ia memberikan contoh, Shell hanya bisa menyelesaikan persamaan
Helmholtz sampai dengan frekuensi 20 Hz. ''Ketika dinaikkan menjadi 30
Hz, mereka tak bisa,'' katanya.
Kemudian, Yogi memperoleh metode robust yang memungkinkan persamaan
Helmholtz untuk dipecahkan dengan frekuensi berapa pun. ''Kita sudah
melakukan tes 300 Hz tidak masalah. Meskipun, sebenarnya 70 Hz pun
sudah cukup untuk pemetaan,'' ujar penggemar matematika ini.
Tak cuma untuk temukan sumber minyak Menurut Yogi, selain untuk
menemukan sumber-sumber minyak, keberhasilan persamaan Helmholtz ini
juga bisa diaplikasikan dalam industri lainnya yang berhubungan dengan
gelombang. Persamaan ini digunakan untuk mendeskripsikan perilaku
gelombang secara umum. Industri yang bisa mengaplikasikan rumus ini
antara lain industri radar, penerbangan, kapal selam, penyimpanan data
dalam blue ray disc (keping DVD super yang bisa memuat puluhan
gigabyte data), dan aplikasi pada laser.
Mengenai kelanjutan dari penemuannya itu, Yogi mengatakan, karena
penelitian ini dilakukan oleh perguruan tinggi, maka persamaan
Helmholtz ini menjadi milik publik. ''Biarpun dibiayai oleh Shell,
tapi yang melakukannya universitas, sehingga rumus ini menjadi milik
publik,'' katanya.
Ia tidak mematenkan rumus temuannya itu. Apalagi, sambung dia,
produknya itu berasal dari otak sehingga tidak perlu untuk dipatenkan.
''PT Pertamina pun sebenarnya bisa menggunakan rumus ini untuk mencari
minyak bumi. Saya sempat diundang oleh Pertamina beberapa waktu lalu,
tapi karena ada keperluan, tidak hadir. Memang ada yang mengatakan
kalau PT Pertamina tertarik dengan temuan saya, cuma masalahnya
Pertamina memiliki software-nya atau tidak,'' ujar pria yang tak suka
publikasi ini.
Menurut Yogi, persamaan Helmholtz ini dalam proses penelitiannya sudah
dipresentasikan di banyak negara di dunia. Yaitu, saat intermediate
progress selama Desember 2001 hingga Desember 2005. Buku mengenai
persamaan Helmholtz yang dibuatnya saat masih di Belanda pun, laris
manis.
''Tinggal satu (buku) dan saya tak punya fotokopinya lagi,'' ujar
dosen yang kini sibuk dengan beberapa penelitian bersama Prof Turkel.
Mengutip Turkel, Yogi mengatakan bahwa persamaan yang ditemukannya itu
masih bisa dikembangkan lagi. Namun kini, Yogi akan berkonsentrasi
pada postgraduate research di Berlin, Jerman, yang akan memakan waktu
selama dua tahun sejak 1 Mei 2006. n
Terobsesi Memajukan Indonesia
Setelah menjadi terkenal di dunia matematika karena berhasil
memecahkan rumus Helmholtz yang dikenal sangat sulit, dosen Teknik
Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, masih memiliki obsesi yang belum
tercapai. Menurut anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mohamad
Isis dan Euis Aryati ini, obsesi yang belum tercapai adalah ingin
melihat bangsa Indonesia maju.
Karena, kata dia, saat ini Indonesia jauh tertinggal dibandingkan
dengan India. Padahal, Indonesia dan India sama-sama sebagai negara
berkembang dan banyak masyarakatnya yang miskin. ''Meskipun miskin,
tapi India sekarang bisa menjadi pusat informasi teknologi (IT) di
dunia. Saya ingin Indonesia seperti India, kemiskinan bukan berarti
tidak bisa berkembang,'' ujar Yogi kepada Republika. Khusus untuk ITB,
sambung pria kalem kelahiran Tasikmalaya 8 Oktober 1974, obsesinya
adalah ingin ITB bisa lebih besar lagi.
Minimal, ITB menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia. Karena, kalau
hanya terbesar di Indonesia saja, sejak dulu juga begitu. Bahkan,
sambung dia, pernyataan itu justru menjadi tanda tanya besar. ''Saya
pun masih memiliki obsesi pribadi. Keinginan saya adalah ingin
melakukan penelitian tentang pesawat terbang, perminyakan, dan
biomekanik,'' kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch
Chamber of Commerce itu.
( kie/aan )
--
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.lembur deudeuh.:
http://banjarasih.blogsome.com
Persamaan Helmholtz Pecah di Tangan Dosen ITB
Persamaan matematika Helmholtz sering dipakai untuk mencari titik
lokasi minyak bumi.
Dulu, BJ Habibie menemukan rumus yang mampu mempersingkat prediksi
perambatan retak. Banyak lembaga di berbagai negara memakai rumus ini,
termasuk NASA di Amerika.
Kini, Yogi Ahmad Erlangga mengulang kesuksesan Habibie. Melalui riset
PhD-nya, Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz, Desember
2005 lalu. Selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkan
persamaan matematika Helmholtz yang sering dipakai untuk mencari titik
lokasi minyak bumi itu. Persamaan matematika itu sendiri dikenal sejak
satu abad silam.
Media Barat menyebut Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal, ia
adalah pria kelahiran Tasikmalaya, dosen Institut Teknologi Bandung
(ITB), dan saat itu sedang menempuh program PhD di Delft University of
Technology (DUT).
Keberhasilan itu memuluskan jalan bagi perusahaan perminyakan untuk
memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan biaya lebih rendah.
Selama ini, industri perminyakan sangat membutuhkan pemecahan rumus
Helmholtz itu agar bisa lebih cepat dan efisien dalam melakukan
pencarian minyak bumi. Setelah Yogi memecahkan persamaan Helmholtz
yang selama ini justru banyak dihindari oleh para ilmuwan, perusahaan
minyak bisa 100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak --
bila dibandingkan dengan sebelumnya.
Tak cuma itu, dari kebutuhan hardware pun, industri minyak bisa
mereduksi sekitar 60 persen dari hardware yang biasanya. Sebagai
contoh, program tiga dimensi yang sebelumnya diselesaikan dengan 1.000
komputer, dengan dipecahkannya rumus Helmholtz oleh Yogi, bisa
diselesaikan hanya dengan 300 komputer.
Yogi mengungkapkan, penelitian mengenai persamaan Helmholtz ini
dimulai pada Desember 2001 silam dengan mengajukan diri untuk
melakukan riset di DUT. Waktu itu, perusahaan minyak raksasa Shell
datang ke DUT untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara
matematika numerik yang cepat atau disebut robust (bisa dipakai di
semua masalah).
Selama ini, ungkap Yogi, Shell selalu memiliki masalah dengan rumus
Helmholtz dalam menemukan sumber minyak di bumi. Persamaan Helmholtz
yang digunakan oleh perusahaan minyak Belanda itu membutuhkan biaya
tinggi, tak cuma dari perhitungan waktu tetapi juga penggunaan
komputer serta memori.
''Shell selama ini harus menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali.
Bahkan, kadang-kadang harus ribuan kali untuk survei hanya di satu
daerah saja. Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware,''
ungkap Yogi kepada Republika.
Karena itu, sambung pria yang lulus dengan nilai cum laude saat
menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 itu, Shell meminta DUT melakukan
penelitian yang mengarah pada persamaan Helmholtz agar bisa lebih
efisien, cepat, dan kebutuhan hardware yang cukup kecil. Untuk proyek
penelitian tersebut, Pemerintah Belanda membiayainya karena proyek ini
dianggap sebagai bagian dari kegiatan untuk meningkatkan perekonomian
Belanda.
Yogi yang memiliki hobi memasak, melukis, dan olah raga itu,
memecahkan rumus Helmholtz setelah berkutat selama empat tahun. Yang
membuat penelitian itu lama, ungkap dia, karena persamaan Helmholtz
dalam matematika numerik yaitu matematika yang bisa diolah dengan
menggunakan komputer.
Karena itu, dalam melakukan penelitian, diperlukan beberapa tahapan
yang masing-masing tak sebentar. Apalagi, sambung dia, persamaan ini
memang sangat sulit. Ada dua cara untuk menguraikan matematika numerik
yaitu secara langsung (direct) dan literasi. ''Banyak pakar yang
menghindari penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz karena memang
sulit,'' kata pria kelahiran Tasikmalaya 32 tahun silam ini.
Pakar terakhir yang memecahkan teori Helmholtz adalah Mike Giles dan
Prof Turkel, berasal dari Swiss dan Israel, masing-masing dengan
caranya sendiri. Teori dari kedua pakar itulah yang kemudian
dianalisisnya beberapa waktu sehingga kemudian bisa dioptimalkan dan
dijadikan metode yang cukup cepat.
''Saya punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang saya
lakukan untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan
ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu saya dapatkan, saya
pecahkan dengan metode direct atau literasi,'' ujarnya.
metode langsung, papar Yogi, bila dalam perjalanannya kemudian
menemukan masalah yang besar maka akan mahal dari segi waktu dan
biaya. Namun metode literasi pun belum tentu bisa memperoleh solusi
atau kadang-kadang diperoleh dengan waktu yang cukup lama. Hanya, kata
dia, yang pasti, dengan metode literasi selalu murah dari segi
hardware.
''Persamaan Helmholtz ini bisa diselesaikan dengan literasi tapi kalau
dinaikkan frekuensinya, jadi sulit untuk dipecahkan,'' ujarnya. Yogi
memaparkan, untuk mengetahui struktur daerah cekung, misalnya, yang
dilakukan adalah meneliti daerah akustik dan kemudian dipantulkan
gelombangnya dengan frekuensi tertentu. Pantulan tersebut kemudian
direkam. Setelah itu, frekuensi akan dinaikkan misalnya, dari 10 Hz,
lalu naik lagi 10,2 Hz, 10,4 Hz, dan seterusnya.
Yang kemudian menjadi persoalan, ungkap dia, ketika frekuensi
dinaikkan, persamaan Helmholtz akan semakin sulit untuk diselesaikan.
Ia memberikan contoh, Shell hanya bisa menyelesaikan persamaan
Helmholtz sampai dengan frekuensi 20 Hz. ''Ketika dinaikkan menjadi 30
Hz, mereka tak bisa,'' katanya.
Kemudian, Yogi memperoleh metode robust yang memungkinkan persamaan
Helmholtz untuk dipecahkan dengan frekuensi berapa pun. ''Kita sudah
melakukan tes 300 Hz tidak masalah. Meskipun, sebenarnya 70 Hz pun
sudah cukup untuk pemetaan,'' ujar penggemar matematika ini.
Tak cuma untuk temukan sumber minyak Menurut Yogi, selain untuk
menemukan sumber-sumber minyak, keberhasilan persamaan Helmholtz ini
juga bisa diaplikasikan dalam industri lainnya yang berhubungan dengan
gelombang. Persamaan ini digunakan untuk mendeskripsikan perilaku
gelombang secara umum. Industri yang bisa mengaplikasikan rumus ini
antara lain industri radar, penerbangan, kapal selam, penyimpanan data
dalam blue ray disc (keping DVD super yang bisa memuat puluhan
gigabyte data), dan aplikasi pada laser.
Mengenai kelanjutan dari penemuannya itu, Yogi mengatakan, karena
penelitian ini dilakukan oleh perguruan tinggi, maka persamaan
Helmholtz ini menjadi milik publik. ''Biarpun dibiayai oleh Shell,
tapi yang melakukannya universitas, sehingga rumus ini menjadi milik
publik,'' katanya.
Ia tidak mematenkan rumus temuannya itu. Apalagi, sambung dia,
produknya itu berasal dari otak sehingga tidak perlu untuk dipatenkan.
''PT Pertamina pun sebenarnya bisa menggunakan rumus ini untuk mencari
minyak bumi. Saya sempat diundang oleh Pertamina beberapa waktu lalu,
tapi karena ada keperluan, tidak hadir. Memang ada yang mengatakan
kalau PT Pertamina tertarik dengan temuan saya, cuma masalahnya
Pertamina memiliki software-nya atau tidak,'' ujar pria yang tak suka
publikasi ini.
Menurut Yogi, persamaan Helmholtz ini dalam proses penelitiannya sudah
dipresentasikan di banyak negara di dunia. Yaitu, saat intermediate
progress selama Desember 2001 hingga Desember 2005. Buku mengenai
persamaan Helmholtz yang dibuatnya saat masih di Belanda pun, laris
manis.
''Tinggal satu (buku) dan saya tak punya fotokopinya lagi,'' ujar
dosen yang kini sibuk dengan beberapa penelitian bersama Prof Turkel.
Mengutip Turkel, Yogi mengatakan bahwa persamaan yang ditemukannya itu
masih bisa dikembangkan lagi. Namun kini, Yogi akan berkonsentrasi
pada postgraduate research di Berlin, Jerman, yang akan memakan waktu
selama dua tahun sejak 1 Mei 2006. n
Terobsesi Memajukan Indonesia
Setelah menjadi terkenal di dunia matematika karena berhasil
memecahkan rumus Helmholtz yang dikenal sangat sulit, dosen Teknik
Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, masih memiliki obsesi yang belum
tercapai. Menurut anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mohamad
Isis dan Euis Aryati ini, obsesi yang belum tercapai adalah ingin
melihat bangsa Indonesia maju.
Karena, kata dia, saat ini Indonesia jauh tertinggal dibandingkan
dengan India. Padahal, Indonesia dan India sama-sama sebagai negara
berkembang dan banyak masyarakatnya yang miskin. ''Meskipun miskin,
tapi India sekarang bisa menjadi pusat informasi teknologi (IT) di
dunia. Saya ingin Indonesia seperti India, kemiskinan bukan berarti
tidak bisa berkembang,'' ujar Yogi kepada Republika. Khusus untuk ITB,
sambung pria kalem kelahiran Tasikmalaya 8 Oktober 1974, obsesinya
adalah ingin ITB bisa lebih besar lagi.
Minimal, ITB menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia. Karena, kalau
hanya terbesar di Indonesia saja, sejak dulu juga begitu. Bahkan,
sambung dia, pernyataan itu justru menjadi tanda tanya besar. ''Saya
pun masih memiliki obsesi pribadi. Keinginan saya adalah ingin
melakukan penelitian tentang pesawat terbang, perminyakan, dan
biomekanik,'' kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch
Chamber of Commerce itu.
( kie/aan )
--
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.lembur deudeuh.:
http://banjarasih.blogsome.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

