Baraya,Cing bantuan kuring. 
Dina ieu artikel aya detil data nu bisa ngabingungkeun
nu macana. Lebah mana kira-kira kaliruna?

Salam,
mh

======
”Spring Sonata”
Oleh T. CHRISTOMY

SORE itu khas musim semi, bau tanah dan dedaunan
tumbuh: terang benderang. "Coba tengok ke sana, Kang!"
Dia menganga beberapa kejap saat matanya menyapu
gaun-gaun gadis yang betisnya buligir. Menurut kawan
saya, yang baru saja tiba di Seoul, gadis-gadis Seoul
berhidung mancung dan berkaki lebih panjang dari orang
Jepang.

Sejenak, saya teringat Susan Sontag yang menguraikan
betapa "cantik" itu punya daya yang kuat. Bahkan,
katanya, bisa menjadi berbahaya bagi yang empunya
sendiri. Bahaya, karena, kecantikan itu sendiri bisa
membuat wanita lupa pada wilayah sosial lainnya yang
sebetulnya menarik dan kaya untuk dieksplorasi serta
dapat membantu umat manusia. Betulkah?

Teman saya berbisik, "Lupakan sejenak si kolumnis
Sontag itu." Kali ini, di bawah siraman cahaya
matahari musim semi, dia malah memakai kacamata
hitamnya manakala dua dara Korea lewat di depan kami
dan mengambil kursi kosong yang jaraknya empat depa
dari tempat kami.

Ingin saya membisikkan kepadanya, sebetulnya,
gadis-gadis yang berseliweran yang renyah nan jelita
itu, menurut mahasiswa saya, "Mungkin saja
artificial." Mahasiswi di Seoul, bisa saja berkata,
"Liburan semesteran nanti, aku mau betulin hidung."
Pada kali yang lain berujar, "Musim dingin tahun depan
aku harus operasi dagu" dan seterusnya. Tentu,
biayanya bervariasi. Yang paling murah memperbaiki
noda dan membetulkan alis dan ongkos paling mahal
terkait payudara, dan yang lebih mahal dari itu
mengubah lingkar wajah atau dagu supaya kelihatan
lebih lonjong dan sebagainya. Urusan di sekitar
payudara harganya 4.000-6.000 dolar AS. Untuk sedikit
mengubah bentuk lingkar wajah bisa sampai 9 atau 10
ribu dolar bergantung siapa dokternya. Cukup mahal
untuk sebagian mahasiswa, tapi tidak untuk anak orang
kaya atau mereka yang melihat bongkar pasang sebagai
investasi.

Saya tidak terlalu percaya, bisa saja mahasiswa saya
memang sedikit iri dengan kecantikan mereka dan belum
berhasil mendapatkan satu di antaranya. Yang pasti,
paras cantik dan tinggi, selain mudah untuk mendapat
teman hidup, juga mudah untuk mencari kerja. Cita rasa
Korea tentang cantik berubah karena globalisasi.
Globalisasi tidak semata merambah tatanan ekonomi tapi
juga tatanan wajah.

Saat ini informasi dan cita rasa masuk ke wilayah
batas yang sebelumnya tak terbayangkan. Ia tidak
pilih-pilih. Ia menerjang siapa saja yang ada di
jalurnya. Sebagian di antara "korban" bah tersebut
mencari pegangan atau ditolong orang terdekat. Ia
membedah ruang publik menjadi lebih luas dan terbuka,
dan dengan sendirinya mudah diakses oleh berbagai
pihak. Teknologi IT kemudian menyempurnakan keadaan
ini.

Sebagian beruntung bisa menaiki gelombangnya dan
berselancar di atasnya ke arah yang kita inginkan.
Sebagian lain terempas pada bebatuan dan tersangkut
pada ranting-ranting.

Playboy dan ingar bingar "kartun Denmark" pun cipratan
"air bah" yang datang bukan dari antah berantah tapi
dari sikap ekonomi yang senantiasa lapar pasar dan
segala hal yang bisa dijual. Sebagian media tidak
hanya menjajakan sensasi dan gosip, tapi juga
menjajakan urusan kamar besar maupun kamar kecil, dan
ruang-ruang kehidupan pribadi lainnya yang semula
tersimpan rapat.

Instant Cash dan pragmatisme melekat di balik bisnis
seperti itu. Menjual produk inovatif dan kreatif lebih
sukar ketimbang menjajakan Playboy. Pembeli selalu
menunggu dan antre. PSK di jalanan pun tahu betul
kaidah bisnis seperti ini. Tidak harus menjadi
cendekia untuk memahami trik bisnis ala Playboy.

Cita rasa berskala global acap menimbulkan
kontras-kontras pemaknaan yang ironis dan lucu. Gaya
hidup dan cita rasa baru seperti yang dialami sebagian
gadis Korea pun menelikung sebagian kita tanpa
basa-basi. Akibatnya, kadangkala sulit menyelaraskan
takaran-takaran norma dengan kebutuhan untuk memenuhi
gaya hidup tersebut.

"Kesulitan ekonomi" sering menjadi sihir yang sulit
ditemukan penawarnya. Buktinya, para pekerja seks yang
ditangkap selalu bilang, "Kesulitan ekonomi!" Padahal,
Mak Erot dari pinggir Galunggung atau Mang Anu yang
setiap malam harus jaga pintu kereta, dan guru-guru
bantu di pedalaman pun kesulitan ekonomi. Kompetisi
yang ketat meninggalkan korban yang tidak sigap. Dan
seringkali kemiskinan menjadi pembenaran atas
perbuatan yang tidak kita inginkan.

Tentu kita tidak ingin terlalu percaya pada hal ini
karena depresi, asusila, permisif yang disebabkan
melorotnya pencapaian materi ternyata merambah pula
yang kaya dan miskin sekaligus. Akhir-akhir ini, ada
kecenderungan bunuh diri meningkat di Korea. Banyak
CEO Korsel bunuh diri saat dalam posisi finansial di
puncak karena depresi, affair, dan korup. Padahal,
dari takaran masyarakat awam, fasilitas dan kehidupan
mereka lebih dari cukup.

Bertemu penyair

Cecep S. Hari memberikan kesempatan pada saya untuk
membaca puisi-puisi made in Seoul-nya dengan
mengirimkan satu puisinya. Cecep, selain terpesona
oleh pembangunan Seoul juga "menyelinap" di belakang
pencapaian duniawi itu ke wilayah batiniah.

Di Tepi Sungai Han

Setiap pagi hatiku melukis warna bibirmu
dan memuja tatapan matamu

Kau tak pernah bertanya aku di mana
sebab kau tahu aku selalu di sini

Di bawah langit musim semi
ketika surga menemukan buminya kembali

Di tepi Han-ga perahu-perahu diam menunggu
usiaku tak ada artinya dibandingkan alir sungai itu

Setiap pagi aku memuja tatapan wajahmu
dan melukis warna bibirmu

Seoul, April 2006

Sungai Han metafor utama untuk kendaraan kreatifnya.
Cecep menorehkan pengalaman kreatifnya dengan
mengeksploitasi imaji-imaji visual yang menubruk mata
dan memesona penglihatannya. Lantas, Cecep
menumpahkannya lewat imaji-imaji "warna", "lukisan"
"sungai", dan mencoba masuk ke "kedalaman" cintanya
Rumi.

Kurang lebih setahun yang lalu, Joko Pradopo, penyair
dan kritikus dari Yogyakarta, pun berkunjung ke Seoul
untuk sebuah seminar. Setelah seminar, panitia
mengajak kami jalan-jalan ke luar kota dan bus kami
harus menyeberangi salah satu jembatan di Sungai Han.
Tiba-tiba, Pak Pradopo mengeluarkan pena dan
menuliskan puisinya. Sayang saya tidak ingat persis
kata demi katanya, tapi Beliau sempat menunjukkan
isinya yang bertutur tentang ironi di kedalaman sungai
Han itu.

Tapi biarlah, urusan komentar puisi saya serahkan
lebih lanjut ke para kritikus kelak. Yang pasti,
sampai tulisan ini dimuat, saya belum menceritakan
"kisah lain" Sungai Han yang menjadi tumpuan inspirasi
Cecep S. Saya tidak ingin memengaruhi pergumulan
pertamanya. Selain itu, Cecep juga bisa mendapatkan
cerita itu dari media.

** 

SEJAK mendengar untuk kali pertama kabar buram tentang
sungai Han dari Pak Pradopo, setiap lewat sungai itu
saya melihat kontras-kontras kehidupan di antara
mimpi-mimpi manusia dan pencakar langit yang
bayangannya jatuh di atas riaknya sungai.

Sungai Han membedah kota Seoul menjadi dua: bagian
utara dan selatan. Di bagian selatan, dijejali
gedung-gedung apartemen supermewah milik bintang film
dan pengusaha. Sementara di sebelah utara,
gedung-gedung tua berbata merah dari zaman awal
kegemilangan industri. Gedung di Selatan lebih mahal
daripada gedung di utara seloroh sebagian penduduk
Seoul. Mengapa? Seandainya Korea Utara menyerbu,
penduduk yang tinggal di selatan sungai Han, konon,
masih punya cukup waktu untuk berkemas. Kota Seoul
selalu dibayang-bayangi siaga satu. Kendati, pada saat
yang sama, Seoul mencoba mengimbangi siaga satu itu
dengan memanfaatkan berkah teknologi semikonduktor,
LCD, pertanian intensif, industri berat, dan dengan
sedikit tidur serta banyak bekerja.

Sungai Han membawa keberuntungan untuk masyarakat
Seoul sejak Dinasti Joseon. Tapi untuk menikmatinya
kadang tidak mudah. Muara Sungai Han di sebelah barat
pun juga merupakan daerah operasi militer dan ajang
infiltrasi Korut sampai sekarang. Bahkan beberapa
tentara yang patroli di sekitarnya pun baru-baru ini
dilahap muara sungai itu. Banjir bandang pernah
menyikat penghuni di bantaran sungai. Selain itu, bagi
pakar lingkungan, Sungai Han, yang sekarang menjelma
sebesar Missisipi itu, contoh hubungan manusia dan
alamnya. Semula sungai itu deras dan dijejali oleh
batuan padas serta banyak memiliki pulau pasir. Karena
kebutuhan pembangunan pada tahun 60-an, batu itu
digerus untuk apartemen dan jembatan. Pernah juga,
pada saat jam kerja yang padat, tiba-tiba jembatan
yang penuh mobil itu berderak dan amblas membawa 30
orang ke dalam sungai.

Tapi yang menyedihkan, menurut Korean Times, pada
tahun 2003 setidaknya 13.005 orang bunuh diri: 95 di
antaranya tewas dengan cara melempar dirinya ke jalur
kereta api bawah tanah, 65 orang mencoba meloncat ke
sungai Han dan 41 orang di antaranya "sukses" menemui
ajalnya (Korean Times, 20 Januari 2005).

 

Sabtu 22 April,

pukul 5 sore, Insadong

Sebagai penggemar kopi berat, saya senantiasa mencari
tempat ngopi yang baru yang menyediakan kopi jenis
arabika, syukur-syukur dapat kopi kalosi toraja.
Kadang hanya ingin mencicipi racikan baru atau sekadar
menikmati interior kedai kopi yang unik. Menurut
rencana, sore itu, Cecep S. Hari akan mentraktir saya
di sebuah kafe yang baru saja "ditemukannya". Dari HP
bekas yang baru dibelinya, Cecep dengan lantang
mengatakan, "Kang hari ini saya yang akan traktir."
Saya tentu gembira, bukan hanya karena kopi gratis,
tapi juga bisa mendengar olah kreatifnya selama di
Seoul. Beberapa hari sebelumnya kami pernah mampir di
"CB" dan "SB" tapi racikan kopi di kedai itu terlalu
Amerika. Kali ini saya mencoba kedai yang lebih Italia
atau Turki.

Janjinya, sekira pukul lima sore kami akan bertemu di
sekitar Insadong sebuah jalan lurus di pusat kota yang
sengaja ditutup untuk pejalan kaki yang ingin
menikmati galeri, warung teh, atau sekadar ngopi
sambil melihat lalu lalang putri-putri ginseng dan
turis dari berbagai bangsa. Setelah satu jam, Cecep
belum kelihatan, bahkan setelah dua jam pun tetap tak
ada kabar. Akhirnya saya memutuskan untuk ngopi
sendiri di Kedai Kopi Turki dan mencoba menuliskan
hal-hal yang bisa saya kirimkan ke Bandung. Lantas,
saya bergegas ke stasiun bawah tanah yang terletak 30
meter di bawah jalan raya, mencari jalan pulang ke
apartemen.

Larut malam, saya buka internet dan menerima email
dari Cecep dalam bahasa Sunda sbb:

... kang punten pisan tadi teh. siang-siang pas uih ka
bumi, maos perkawis tki nu tewas dina razia imigrasi.
saterasna abdi feeling bad mood all day...

Ia minta maaf atas janjinya yang tak ditepatinya
karena mood-nya tiba-tiba jelek setelah menerima kabar
tewasnya seorang TKI setelah polisi imigrasi Kota
Seoul menggerebek mereka.

Menurut Bung Etsar, kawan saya yang kini tengah
mengambil doktor dalam bidang filsafat, yang kebetulan
punya kontak bagus dengan rekan-rekan TKI, Nur Fuadi
(TKI asal Kendal, Jawa Tengah) tewas di rumah Sakit
Bucheon, Provinsi Kyeongki, setelah jatuh dari lantai
tiga saat polisi merazia pekerja di pabriknya pada
tanggal 17 April 2006. Diperkirakan Nur Fuadi tidak
memiliki izin kerja pada saat penggerebegan dan
mencoba menghindar petugas tapi terpeleset.

** 

TENAGA kerja asing di Korea, sebagaimana Nur Fuadi,
banyak yang terperangkap di antara dua kepentingan:
polisi dan majikan. Pengusaha kadang menginginkan
tenaga kerja murah dan ilegal dari Indonesia. Pada
saat yang sama, polisi mengejar-ngejar mereka.
Diperkirakan sejumlah pabrik dan pertanian
mempekerjakan 400-500 ribu tenaga kerja asing termasuk
dari Indonesia yang merupakan kedua terbesar setelah
Cina. Konon hanya 180 ribu pekerja asing yang legal.
Banyak di antara kita ingin mengetahui apa perasaan
Nur Fuadi ketika mencoba lari dan meloncat ke luar
gedung untuk meraih pegangan di bagian gedung yang
lain. Barangkali, Nur Fuadi memikirkan kehidupannya,
memikirkan rencana-rencanya, memikirkan keluarga dan
handai taulannya.

Tewasnya Nur Fuadi berbeda dengan tewasnya bekas
presiden Daewo Engineerng & Construction, Nam
Sang-kook, atau Ketua Hyundai Asan Corp, dan Gubernur
South Cholla Park Tae-young yang semuanya loncat ke
Sungai Han karena berbagai skandal keuangan. Tewasnya
Nur Fuadi, berbeda pula dengan tewasnya Lee Eun-je
artis cantik Korea yang sering berpose berani.

Nur Fuadi gagal menggapai pegangan. Dia meluncur dari
lantai tiga dan jatuh di bebatuan. Nur Fuadi tewas
saat mencari nafkah yang sukar diraihnya di Indonesia.
Innalillahi.*** 

Penulis, Pengajar di UI dan HUFS Seoul, email:
[EMAIL PROTECTED]


=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/N6DZeC/fOaOAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke