Dewi Sartika dan Kartini
Oleh NINA H. LUBIS, M.S.

RADEN Dewi Sartika adalah tokoh emansipasi wanita. Jasanya tak kalah besar
dari R.A. Kartini. Karena itu, Pemerintah mengangkat Dewi Sartika sebagai
pahlawan nasional pada tahun 1966.

Hari ini adalah tanggal kelahirannya. Namun, kita tidak pernah
memperingatinya sebagaimana kita memperingati Kartini. Mengapa hanya
Kartini saja yang selama ini diagung-agungkan dan dipopulerkan? Apakah
kalau Kartini tidak pernah lahir, lalu status dan peranan wanita Indonesia
tidak berubah?

Dewi Sartika tidak dicitrakan sehebat R.A. Kartini. Ini adalah sebuah
kesalahan sejarah akibat campur tangannya kekuasaan terhadap sejarah.

Riwayat singkat

Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di kalangan menak Sunda. Dia
adalah putri kedua dari lima bersaudara. Ayahnya adalah Raden Rangga
Somanagara, Patih Bandung. Ibunya adalah Raden Ayu Rajapermas, putri
Bupati Bandung Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1876). Ketika Dewi
berusia sembilan tahun dan masih duduk di kelas III ELS (Europesche Lagere
School), ayahnya dibuang ke Ternate karena dituduh terlibat dalam
percobaan pembunuhan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara (yang keturunan
menak Sumedang) dan para pejabat Belanda di Kota Bandung pada 1893.

Dewi harus berhenti sekolah. Teman dan kerabatnya menjauhi keluarganya;
mereka takut dituduh terlibat dalam peristiwa itu. Dewi dibawa pindah oleh
uwaknya yang Patih Cicalengka. Di sana ia mendapat pendidikan keterampilan
wanita bersama putra-putri uwaknya antara lain dari istri Asisten Residen
Cicalengka. Dalam waktu senggangnya, Dewi bermain "sekolah-sekolahan"
dengan anak-anak pegawai kepatihan dan ia sendiri menjadi gurunya.

Kebiasaan bergaul dengan anak-anak somah ini membentuk pandangan hidupnya.
Ia bercita-cita untuk memajukan anak-anak gadis, baik anak menak maupun
anak somah. Setelah menginjak remaja Dewi Sartika kembali ke Bandung.
Cita-cita mendirikan sekolah ingin diwujudkannya di kota ini. Sebagai anak
mantan patih, ia berani menghubungi kalangan menak dalam pemerintahan
kabupaten yang bisa mendukungnya

Pada 16 Januari 1904 ia membuka Sakola Isteri, atas bantuan Bupati R.A.A.
Martanagara dan didukung C. den Hamer, inspektur sekolah. Di sekolah ini,
anak-anak gadis selain mendapat pelajaran umum, juga mendapat pelajaran
keterampilan wanita, seperti memasak, membatik, menjahit, merenda,
menyulam, dll. Di sekolah ini diajarkan pula pelajaran agama Islam, yang
di sekolah-sekolah bergaya Barat dilarang diajarkan. Pada 1910 nama
sekolah diganti menjadi Sakola Kautamaan Isteri.

Jumlah murid semakin banyak dan cabang-cabang sekolah dibuka di Bogor,
Serang, dan Ciamis. Pada 1911 jumlah muridnya 210 orang dengan guru lima
orang. Pada 1914 nama sekolah diganti menjadi Sakola Raden Dewi. Sekolah
ini didirikan pula di berbagai kota di Jawa Barat, seperti di Garut,
Ciamis, Purwakarta, Bogor, Serang, bahkan di Sumatra Barat. Atas
jasa-jasanya, Pemerintah Hindia Belanda memberi tanda penghargaan bintang
mas (gouden ster).

Dewi Sartika baru menikah pada usia 22 tahun dengan Raden Kanduruan Agah
Suriawinata, seorang guru di Sekolah Karang Pamulang Bandung. Setelah
berjuang hingga melewati zaman kemerdekaan, Dewi Sartika wafat pada 11
September 1947 di Cineam, Tasikmalaya dengan meninggalkan enam orang anak.

Melawan arus

Sejarah menunjukkan rendahnya status sosial wanita Indonesia. Mereka
(terutama bangsawan) hanya dianggap sebagai upeti, benda yang bisa
di-alungboyong-kan sebagai hadiah.

Setelah menjalani masa kanak-kanak yang singkat, mereka dipingit. Dalam
usia 11-12 tahun anak-anak perempuan itu dinikahkan atas kehendak orang
tua. Mareka harus menerima apabila suami menghendaki istri lain (garwa
leutik). Dalam situasi seperti itulah Raden Dewi Sartika lahir. Sejarah
menghendaki lain: ternyata dia tidak ditakdirkan mengikuti nasib kaumnya.

Bila dibandingkan dengan R.A. Kartini, Dewi Sartika harus mengalami
penderitaan yang sangat berat. Ia harus menumpang di rumah uwaknya ,
dijauhi kerabat, harus mandiri. Kartini, "hanya" menderita antara lain
karena ia harus dipingit ketika semangat bersekolahnya sedang
berkobar-kobar atau karena ia harus dimadu. Kekuatan Dewi ditunjukkan
dengan keberanian melawan arus zamannya. Demi cita-citanya, dia menikah
dalam usia 22 tahun. Pada masa itu, menikah dalam usia setinggi itu
dianggap mahiwal (lain dari yang lain). Perempuan lain dalam usia dua
puluhan itu mungkin sudah punya 5 atau 6 anak.

Entrepreneur

Dewi Sartika seorang yang memiliki jiwa entrepreneur (wiraswasta).
Buktinya: sejak 1901 Belanda sedang mempromosikan Politik Etis yang
memberikan kesempatanpribumi untuk mendapatkan pendidikan Barat. Dewi
menangkap peluang ini hingga tahun 1904 dia mendirikan sekolah. Istri
pejabat-pejabat Belanda acapkali berkunjung ke sekolahnya. Meski mendapat
bantuanbaik dari pemerintah kolonial maupun elite pribumi, Dewi Sartika
tetap independen.

Kesalahan sejarah

Belanda mengangkat nama Kartini melalui publikasi buku Door Duisternis tot
Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) yang berisi surat-menyurat R.A
Kartini dengan tokoh-tokoh Belanda itu.

Kalaulah zaman kolonial dulu ada semacam "litsus", Raden Dewi Sartika
memang sulit untuk bisa lolos. Ayahanda Dewi Sartika di-blacklist Belanda.
Sedangkan ayah Kartini, terbilang mulus-mulus saja.

Loyalitas tanpa cacat adalah jaminan bagi seorang pejabat pribumi dan anak
keturunannya untuk menerima segala privilese. Tidaklah mengherankan
Belanda menganggap Dewi Sartika "bukan apa-apa”.

Celakanya, warisan sejarah kolonial itu terabadikan pula dalam sejarah
nasional kita. Memang, 20 tahun pertama masa kemerdekaan, sejarah yang
ditulis diusahakan untuk menjadi "Indonesia sentris". Aktor utama dalam
sejarah itu adalah orang Indonesia, sedangkan pihak penjajah menjadi tokoh
kedua bahkan figuran. Namun, karena kesulitan metodologis, sejarah pada
masa awal itu hanya bisa membuat para tokoh yang dalam sejarah kolonial
disebut sebagai "pemberontak" menjadi "pahlawan" (yang umumnya mengalami
kekalahan) dan membiarkan semua kisah sejarah berjalan seperti sebelumnya.
Inilah kesalahan sejarah.

Memperbaiki kesalahan

Penulis berusaha memperbaiki kesalahan ini. Kisah perjuangan Raden Dewi
Sartika ditulis kembali secara proporsional dengan R.A. Kartini dan para
pejuang wanita lainnya, di dalam jilid ke-5, buku Sejarah Indonesia 8
jilid, yang baru diluncurkan dalam Konferensi Nasional Sejarah, 14-15
November 2006 lalu. Buku yang ditulis secara independen oleh 80 sejarawan
Indonesia, memberikan informasi yang tepat tentang sejarah Indonesia,
termasuk sejarah emansipasi.

Setelah itu, pemerintah diharapkan bisa menetapkan tanggal 4 Desember
sebagai hari yang wajib diperingati sebagaimana halnya tanggal 21 April,
hari kelahiran R.A. Kartini. Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat
Jawa Barat, sudah selayaknya memperingati tanggal ini sebagai hari
istimewa, terutama untuk kaum wanitanya.

Dengan munculnya tokoh progresif seperti Dewi Sartika, citra wanita bukan
lagi hanya sekadar benda mati, bukan lagi sekadar objek tetapi subjek yang
memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, berhak atas pendidikan dan
menjadi pribadi mandiri yang dihargai sama tinggi dengan pria. Dengan
demikian kesalahan sejarah telah diperbaiki. Insya Allah.***

Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Fak. Sastra Unpad/Kepala Pusat Penelitian
Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat
Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 04 Desember 2006


___ _           _ _     ___ ____ ___/ __| |_ _  _ __| (_)___| __|__  / _ \\__ \ 
 _| || / _` | / _ \__ \ / /\_, /|___/\__|\_,_\__,_|_\___/___//_/  /_/


 
____________________________________________________________________________________
Want to start your own business?
Learn how on Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/r-index

Kirim email ke