> From: Muhamad ASKARI > Mangga wae eta mah teu langkung Pak Waluya ka payuna. > Tapi punten teu saimbang eta fatwa teh komo saupami ningal latar > belakang > anu nulisna. Anu hiji pangkat syaikh dengan > pemahaman salafusholeh, anu hiji deui mah duka urang mana sareng > saha2na. > Wallahu 'alam.
Punten nembe kabaca ayeuna, dua poe kamari kuring tas ti Sumenep Madura, ngan lain nganjang ka Kyai Manshurat nu boga pamajikan 12 urang tea (kungsi didongengkeun didieu) ....hehehehe. Enya, kang Askari ari soal kayakinan mah da pasti beda-beda moal bisa dipaksakeun. Ngan perkawis pangkat Sheik salafusholeh mah kuring teu patos apal. Ke perkawis Syaikh Abdul Aziz BIN BAZ aya hubunganana jeung "Islamic Center BIN BAZ, Jl. Wonosari Km 10, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul kitu?. Lembaga ieu sok disingket ICBB. ICBB teh sigana aya hubunganana jeung YAYASAN MAJELIS AT TUROTS AL ISLAMY Yogyakarta, da soal ICBB ieu aya dina situs yayasan ieu (http://www.atturots.or.id/mod.php? mod=userpage&page_id=11) Dina situsna ieu yayasan ieu ngaku salafus shalih. Aya sababaraha artikel nu narik kuring dina situs ieu, nu kahiji nyaeta s oal "Ahlussunnah Tidak Menyukai Banyak Bicara dan Debat Sia-sia" (http://www.atturots.or.id/mod.php? mod=article&op=viewarticle&artid=5). Jadi persis nu disebat ku Kang Dadi Karnadi. Artikel nu kadua, soal pamandegan yen PANONPOE NU NGURILINGAN DUNYA, LAIN SABALIKNA, judul artikelna "Bumi Mengelilingi Matahari ataukah Sebaliknya" (http://www.atturots.or.id/mod.php? mod=article&op=viewarticle&artid=8). Eusi artikel ieu kungsi ku kuring diposting di Kusnet, tapi ku kuring dicutat deui dibagian panghandapna. Patarosan si kuring anu boloho ieu, naha leres ari kaum "salafus shalih", masih nganut faham GEOSENTRIS (panonpoe ngurulingan dunya) sanes FAHAM HELIOSENTRIS (panopoe puseur)? Cik kumaha tah Kang Askari/ Kang Dadi Karnadi atawa baraya nu sanesna nu terang soal "Mazhab salafus shalih"? Hatur nuhun. Baktos, WALUYA Artikelna ku kuring dicutat dihandap ieu : Tanya: Menurut al-Qur'an dan as-Sunnah, yang benar matahari mengelilingi bumi ataukah sebaliknya? Jazakallahu khairan Untuk menjawab pertanyaan ini, kami nukilkan fatwa Syaikh al-Utsamin mengenai permasalahan tersebut, serta petunjuk Syaikh mengenai pelajaran geografi yang mengajarkan bahwa malam dan siang adalah akibat peredaran bumi mengelilingi matahari. Syaikh al-Utsaimin berkata, Kesimpulan pendapat kami mengenai rotasi bumi adalah bahwa dia termasuk perkara yang tidak ditetapkan atau ditolak oleh al-Qur'an dan as- Sunnah. Yang demikian karena firman Allah I dalam surat Luqman ayat 10 yang dijadikan dalil adanya rotasi bumi, tidak menjelaskan secara nyata tentang hal tersebut. "Dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu." (QS. Luqman:10) Sekalipun sebagian orang berdalil dengan ayat ini, (beralasan) bahwa ungkapan "supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu" menunjukkan bahwa bumi bergerak. Seandainya bukan karena gunung tentu apa saja yang ada dipermukaannya telah berguncang (menurut pendapat mereka). Mengenai firman Allah I, "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap." (QS. al-Mu'min:64) Juga tidak meniadakan rotasi bumi secara jelas. Karena kestabilan permukaan bumi akibat adanya gunung-gunung telah menjadikannya (seolah-olah) tidak bergerak sekalipun berrotasi. Sedangkan pendapat kami seputar revolusi bumi, kami berpegang dengan dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa matahari mengelillingi bumi yang berakibat pada adanya malam dan siang; sampai ada dalil pasti yang dapat dijadikan hujjah untuk memalingkan dzahir al-Qur'an dan as- Sunnah kepada pendapat bahwa bumi mengelilingi matahari, dan hal itu belum ada. Yang wajib bagi seorang mukmin dalam perkara ini dan selainnya adalah berpegang dengan dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi sehingga berakibat pada adanya malam dan siang adalah firman Allah I, "Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri." (QS. al-Kahfi:17) Ada empat gerakan yang disandarkan kepada matahari. Terbit, condong, terbenam, dan menjauh. Seandainya malam dan siang adalah dampak dari peredaran bumi terhadap matahari tentu firman-Nya menjadi, "Dan kamu melihat matahari jika nampak permukaan bumi olehnya dia condong ke gua mereka" atau (ungkapan) lainnya. Dan telah sah bahwa Nabi r berkata kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam. "Apakah engkau tahu kemana dia pergi?" Abu Dzar menjawab, "Allah dan rasulnya lebih mengetahui." Nabi berkata, "Sesungguhnya dia pergi bersujud dibawah Arsy dan meminta izin lalu diizinkan. Dan dia meminta izin dan tidak diizinkan. Kemudian dikatakan, kembalilah ketempat kamu muncul dan terbenamlah dari arah baratnya." Dalam riwayat ini dijelaskan adanya (gerakan) pergi, kembali, dan terbit. Hal ini menunjukkan bahwa malam dan siang terjadi akibat peredaran matahari mengelilingi bumi. Mengenai apa yang dikatakan ahli falaq sekarang ini (bahwa bumi mengelilingi matahari), keterangannya belum mengantarkan kami sampai tingkat yakin, sehingga tidak dapat menolak dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah nabi kami. Kami sampaikan bagi pengajar pelajaran geografi, jelaskan kepada para murid bahwa dzahir al-Qur'an al-Karim dan as-Sunnah menjelaskan bahwa malam dan siang terjadi akibat dari peredaran matahari terhadap bumi, bukan sebaliknya. Jika para murid bertanya, mana yang harus kami ambil, apakah dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah atau apa yang mereka (ahli falaq) anggap nyata bahwa (bumi mengitari matahari)? Jawabnya, kita mengambil dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah, karena al- Qur'an adalah Kalamullah I (ucapan Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu, alam beserta segala isinya dan keadaanya, geraknya, dan diamnya. Firman-Nya adalah sebenar-benar perkataan dan paling jelas. Dia menurunkan al- Qur'an sebagai penjelas segala sesuatu. Allah mengabarkan bahwa Dia menjelaskannya kepada hamba agar mereka tidak tersesat. Sedangkan as-Sunnah, ia adalah ucapan utusan Tuhan semesta alam. Makhluk yang paling tahu dengan hukum-hukum dan perbuatan Tuhan-Nya. Tidaklah berbicara tentang hal ini melainkan dengan wahyu dari Allah U, karena tidak ada jalan untuk mengetahuinya melainkan dengan wahyu. Pandangan saya -wallahu a'lam-- akan datang satu masa dimana para ahli falaq abad bekangan akan saling berbantahan sebagaimana mereka berbantahan mengenai pendapat Darwin seputar asal usul manusia. [Majmu Fatawa Wa Rasail Fadilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al- Utsaimin I/70-72]

