Baraya, ieu aya resensi buku perkawis henteu buta hurufna Kangjeng Nabi,
meunang mulung ti millis sabeulah. Naha leres ieu teh kitu? ....ah
nyanggakeun we ka para ahlina, ieu mah sakadar babagi informasi :
--- In [EMAIL PROTECTED], Rach Leed <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Semoga bermanfaat :D
Salam
Alida
============================
Judul : Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius?
(Mengungkap Misteri "Keummian" Rasulullah)
Pengarang : Syekh Al-Maqdisi
Penerjemah : Abu Nayla
Penerbit : Nun Publisher, April 2007, 144 hlm. Rp 20.000,-
Runtuhnya Mitos Kebutahurufan Nabi Muhammad
//Ajaran bahwa Rasulullah tidak mampu baca-tulis adalah sebuah kekeliruan
tafsir sejarah yang konyol. Inilah buku kontroversial yang mematahkan mitos
kebutahurufan Nabi Muhammad//.
Kalau ada umat yang begitu bangga menerima kenyataan bahwa pemimpin atau
nabi-nya sebagai sosok yang buta huruf, itulah umat Islam. Tak ada lain.
Sejak kecil, ketika seorang anak muslim mulai mengenal baca-tulis, ajaran
bahwa Nabi adalah sosok yang buta huruf selalu ditekankan.
Kebutahurufannya seakan menjadi kenyataan yang patut dibanggakan dan bisa
membangun kepercayaan diri umat Islam! Pertanyaannya, benarkah ajaran itu?
Atas dasar apa Nabi dianggap sebagai sosok yang buta huruf? Apakah ia pernah
menyatakan dirinya betul-betul tidak mampu membaca dan menulis sejak kecil
hingga akhir hayatnya? Lalu, jika ada anggapan ia mampu membaca dan menulis,
apakah itu akan mengurangi keabsahannya sebagai utusan Allah?
Bagi Syekh Al-Maqdisi, jawabannya cukup jelas: Ada tafsir sejarah yang
keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan
semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerejamahkan kata "ummi"
dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan
"buta huruf".
Menurut Al-Maqdisi, "ummi" memang bisa berarti "buta huruf", tapi ketika
menyangkut Nabi Muhammad, "ummi" di situ lebih berarti orang yang bukan dari
golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering
kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang "ummi" atau
"non-Yahudi dan non-Nasrani". Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.
Selain itu, kata "ummi" di situ juga bisa merujuk pada kata "umm" atau ibu
kandung. Jadi, maknanya adalah "orang-orang yang seperti masih dikandung
oleh rahim ibunya, sehingga belum tahu apa-apa".
Dalam buku ini, Syekh Al-Maqdisi menunjukkan bukti-bukti otentik (hadis)
yang menunjukkan fakta sebaliknya bahwa Rasulullah adalah sosok yang justru
pintar membaca dan menulis. Antara lain, sebuah hadis yang diungkapkan Zaid
bin Tsabit bahwa Nabi pernah bersabda: "Jika kalian menulis kalimat
Bismillahirrahmanirrahim, maka perjelaslah huruf sin di situ."
Pikirkan, kalau untuk soal huruf saja ia memperhatikan, ibarat seorang
editor naskah, mungkinkah Nabi seorang yang buta huruf? Buku Maqdisi ini,
sekali lagi, mematahkan semua kekeliruan sejarah ini.
"Dengan bahasa yang lugas, Syekh Al-Maqdisi menggiring kita pada suatu cara
pandang yang sungguh baru mengenai 'keummian' Nabi Muhammad."
-Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
"Nabi memang ummi, tetapi beliau mampu membaca dan menulis."
-Dr. Muhammad Syahrur, Penulis Al-Kitâb wal Qur'ân,
"Makna kata ummi bukanlah tidak mampu membaca dan menulis, tapi merujuk pada
kata umm (ibu kandung)."
-Abdul Karim Al-Hairi, Penulis An-Nabiyyul Ummiy