Baraya, 
      sikuring can kaburu bae tah, moto ieu tugu anu aya di wewekon Semarang 
belah kulon, ceunah mah tapel wates antara Pajajaran jeung Majapait. Bisi aya 
anu ngaprak kabelah dinya mah, sok lahh didigitalisasi, tah dongengna mah 
meunang ngotektak dina bebetek 'wawasan online' 
     
      Ngalap berkah di Monumen Tugu


      TIDAK banyak orang yang da­pat kita temui siang itu. Hanya se­orang 
lelaki paruh baya dan sepasang muda mudi yang tengah di­mabuk asmara. Suasana 
hening, sesekali ditingkahi deru mesin dari sebuah pabrik yang berada di bawah 
bukit yang banyak ditumbuhi Kamboja dan akasia itu. Semilir angin seakan 
membuai kita, untuk berlama-lama di tempat tersebut. Tak heran karena berada di 
atas bukit, kita harus mendaki setidaknya 60 undakan untuk mencapainya. Dan 
sesaat setelah memasuki gerbang, pandangan kita akan langsung terarah pada 
seonggok batu besar yang dibangun mirip seperti batu peringatan. 

      Ya, itulah Monumen Tugu yang terletak persis di puncak Bu­kit Tugu 
sekitar 100 meter di ­atas permukaan laut. Wilayah tersebut masuk dalam daerah 
ad­ministrasi Kelurahan Tugu­rejo, Semarang Barat. Berdiri de­ngan tinggi 2,26 
meter ber­bentuk bulat panjang ke atas, ba­gian bawah monumen itu mem­punyai 
diameter 0,87 meter sementara bagian atasnya hanya 0,74 meter. Di sisi utara, 
kita akan menjumpai bangunan mirip candi yang dibuat pada kisaran tahun 1983 
sebagai pelengkap keberadaan tugu tersebut.

      Satu hal yang menarik perhatian adalah tindakan lelaki paruh baya tadi. 
Dari gerak ge­riknya, kita tahu bahwa ia se­dang berdoa. Nampak sesaji kem­bang 
mawar dan bau dupa ma­sih menyengat. Tak berapa lama, ia pun beranjak 
men­dekat. Dari tangannya terlihat sebuah keris kecil berhias karat dan 
ber­gagang kayu.

      ''Keris kecil ini namanya Pan­dawa Lima, karena mempu­nyai luk lima buah. 
Saya te­mu­kan di Watu Tugur ini,'' ujar Su­kaeni (46) membuka pembi­caraan 
sembari menyatakan bah­wa Watu Tugur adalah se­butan lain untuk monumen Tugu 
ini.

      Perwujudan
      Tanpa diminta, ia pun berki­sah bahwa semalam ia ber­mim­pi didatangi 
seorang tua ber­pa­kaian hitam dan memakai ikat kepala gading wulung berwarna 
coklat. Menurutnya, itulah perwujudan Kyai Tugu yang me­min­tanya untuk datang 
dan me­ngambil keris. Selain sebagai sarana keselamatan, keris sepanjang tidak 
lebih dari 5 sentimeter tersebut menurutnya juga berguna sebagai penglaris 
dagangan.

      Begitulah kepercayaan ma­sya­rakat yang melekat kuat se­jak nenek moyang 
kita. Sekuat kepercayaan masyarakat setempat akan Tugu yang dianggap merupakan 
makam penguasa setempat. 

      Menurut pengelola monumen sekaligus ketua RT 07 RW I, Sumarto (42), tugu 
tersebut me­rupakan batas kerajaan Pa­jajaran dan Majapahit. Kebera­da­annya 
ditemukan pertama kali oleh J Knebel, seorang se­jahrawan Belanda pada tahun 
1911 dan pernah dipugar oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1938. Nurul 
Wakhid-Ks
     


http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=11809&Itemid=32

Kirim email ke