wah, ceuk kuring mah islamlib.com teh teu baleg islamna
  islam mah bebasnamake aturan

[EMAIL PROTECTED] wrote:
  Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: [EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------
Pesan pengirim:
Seratan heubeul taun 2002 ti milis tatangga..
-------------------------------------
IslamLib.com, Selasa, 22 Oktober 2002

Laskar Jihad, FPI, dan Mujahidin

Oleh: Denny JA, PhD


Indonesia selalu punya cara menghalau gerakan Islam garis keras. Di era Orde 
Baru, gerakan itu ditolak secara represi dan otoritarian. Di era reformasi yang 
penuh kebebasan, gerakan itu menjadi surut justru karena manuver yang dibuatnya 
sendiri. Impresi ini muncul secara spontan mengamati persoalan yang timbul 
secara serentak di tiga organisasi Islam garis keras: Laskar Jihad, FPI (Front 
Pembela Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). 

Di sela-sela hiruk pikuk berita mengenai Tragedi Bali, Laskar Jihad, organisasi 
yang terlibat dalam konflik di Ambon dan Poso, membubarkan diri. Sementara 
panglima tertingginya, Jafar Umar Thalib masih terus diproses di pengadilan 
dengan tuduhan provokasi dan hasutan. Habib Rieziq, ketua FPI juga ditahan. 
Pimpinan dan aktivis FPI terancam dipenjara, menyusul penghancuran tempat 
hiburan yang dilakukannya.

Perkembangan yang paling hot adalah ditahannya Abu Bakar Baasyir, pimpinan MMI. 
Penangkapan Baasyir adalah selaku pemimpin spritual Jemaah Islamiyah, dengan 
tuduhan jauh lebih seram, yaitu terlibat dalam upaya pembunuhan presiden RI, 
Megawati Soekarnoputri. Walau ditahannya Abu Bakar Baasyir memang tidak 
berhubungan dengan MMI, namun akan ada dampak politis yang besar atas MMI 
sendiri. 

Di bidang hukum, sebelum ada vonis pengadilan, tentu ketiga tokoh di atas harus 
tetap diasumsikan belum tentu bersalah. Namun di bidang politik sudah dapat 
diambil kesimpulan bahwa memang ada ketidak sesuaian antara prinsip demokrasi 
dan Islam garis keras sebagaimana yang dipraktekan oleh tiga tokoh dan tiga 
organisasi di atas. 

Demokrasi yang tumbuh sejak gerakan reformasi memberikan kebebasan buat semua 
tanpa diskriminasi. Justru karena demokrasi, organisasi Islam garis keras 
seperti Laskar Jihad, FPI dan MMI dapat tumbuh dengan subur. Namun melalui 
perjalanan waktu, Laskar Jihad, FPI dan MMI berkembang menjadi ancaman terhadap 
lembaga dan kultur demokrasi itu sendiri. Tindak tanduk tiga organisasi Islam 
di atas bertentangan dengan prinsip penting demokrasi seperti tindakan 
nonkekerasan dan penghormatan atas pluralisme. 

Tak ada yang salah dengan tujuan dasar FPI dan orientasi politiknya yang 
menentang tempat hiburan atau tempat maksiat. Orientasi dan gaya hidup yang 
ingin diperjuangkan FPI tidak secara otomatis membahayakan demokrasi. Dalam 
pluralisme demokrasi, gaya hidup dan orientasi FPI itu diberikan tempat untuk 
tumbuh. 

Namun demokrasi juga harus memberikan tempat yang sama kepada gaya hidup yang 
berbeda dengan pilihan FPI. Kebebasan yang diberikan demokrasi termasuk 
kebebasan untuk memilih gaya hidup dan mencari kesenangan di tempat hiburan, 
sejauh ia tidak melakukan pemaksaan dan tidak melanggar hukum formal yang 
berlaku. Bahkan di Malaysia, yang tak sepenuhnya demokratis, dan 
pemerintahannya lebih Islami, juga ada tempat yang legal bagi perjudian. 

FPI menjadi tidak sesuai dengan demokrasi karena ia kemudian melakukan 
pemaksaan cara berpikir dengan kekerasan. FPI merasa hanya pilihan gaya 
hidupnya sendiri yang boleh dipraktekkan. Organisasi ini tiba-tiba merasa punya 
hak menjadi polisi swasta dan menghancurkan dengan kekerasan berbagai tempat 
hiburan. Atas nama agama Islam yang suci, lengkap dengan atribut pakaian dan 
slogannya, FPI seolah menjadi tentara Tuhan yang ingin membersihkan dunia.

Celakanya maksud yang suci di dunia yang tak sempurna justru melihatkan sosok 
FPI yang sebenarnya. Aneka media memberitakan betapa oknum FPI terlibat dalam 
kasus pemerasan. Aneka tempat hiburan itu mereka sodorkan permintaan sumbangan 
untuk peringatan hari agama. Melalui oknum itu, agama Islam yang suci telah 
“dijual” sang oknum dengan harga yang sangat murah hanya untuk mencari uang, di 
tempat hiburan yang justru mereka haramkan. Ini sebuah kemunafikan yang 
sempurna.

Laskar Jihad mempunyai persoalan yang berbeda. Organisasi itu tumbuh dengan 
misi yang begitu agung dan suci, yaitu melindungi sesama pemuluk agama dari 
kemungkinan dibunuh atau terbunuh dalam konflik horizontal yang ganas. Secara 
sukarela dan dimobilisasi, ratusan aktivis Laskar Jihad menyebrang lautan, 
dengan resiko mati, menjalankan misi suci di atas.

Misi Laskar Jihad itu sama sucinya dengan Martin Luther King ketika ia 
memobilisasi kulit hitam Protestan untuk membela hak-hak sosial kulit hitam. 
Dan sama sucinya dengan upaya Mahatma Gandhi menginspirasikan warga India 
berkorban demi kemerdekaan negara. Bedanya, Gandhi dan Martin Luther King 
mengembangkan metode perjuangan yang sesuai dengan demokrasi. Sementara Jafar 
Umar Thalib dan laskar Jihad memilih metode yang justru dapat membunuh 
demokrasi.

Gandhi dan Martin mengembangkan semangat non-kekerasan dan cinta kasih. 
Menghadapi represi pihak lawan yang keras dan tak jarang dengan senjata, Gandhi 
dan Martin tak henti-henti meminta pengikutnya untuk tidak membalas dengan 
kekerasan. Bahkan Gandhi mengatakan bahwa jika kalian melawan musuh dengan rasa 
marah, kalian sudah gagal. Ujar Gandhi kepada pengikutnya, kalian hanya menjadi 
pejuang jika sudah dapat melawan tanpa rasa benci. Sejarah kemudian mencatat 
justru metode Gandhi dan Martin Luther King berhasil mendapatkan simpati dunia.

Sementara Jafar Umar Thalib dan laskar Jihad justru terjebak dalam provokasi 
berdarah. Dalam pidatonya, Jafar bahkan dianggap memprovokasi kebencian tak 
hanya kepada kelompok Kristen namun juga kepada pemerintah RI. Simbol Islam 
justru digunakan untuk memobilisasi pengikutnya dalam bentrokan berdarah dan 
kemarahan. Ujung dari metode itu menyeret sang panglima laskar ke pengadilan.

Berbeda dengan dua organisasi di atas, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) tak 
pernah terdengar menggunakan kekerasan fisik. Abu Bakar Baasyir juga ditahan 
tidak berhubungan dengan MMI yang dipimpinnya. Namun MMI terjebak dalam 
perangkap yang sama. Organisasi ini menggunakan Islam untuk tidak toleran 
terhadap pluralisme dan keberagaman ruang publik. 

Atas nama Islam dan Tuhan, MMI mengancam mass media secara hukum untuk tidak 
menyiarkan kepercayaan atau gaya hidup yang berbeda dengan yang diyakini oleh 
MMI. Karena MMI percaya Islam itu satu, maka MMI merasa berhak melarang media 
mengiklankan “Islam Warna-Warni.” Karena MMI tidak senang dengan “kondom anti 
Aids”, ia pun mengancam secara hukum media yang mengkampanyekannya.

Secara kasat mata, memang MMI berjalan dalam rel hukum. Namun cara berpikir MMI 
tetap dikuasai semangat otoritarian yang sama, bahwa hanya cara berpikir mereka 
yang diterima Tuhan, dan cara berpikir lain harus tidak boleh disiarkan di 
ruang publik. Walau aksi mereka tetap dibungkus hukum, namun cara berpikir itu 
tetap berbahaya bagi kelangsungan demokrasi yang mengandalkan pada penghormatan 
atas keberagaman. 

Kini Laskar Jihad sudah dibubarkan sendiri oleh pimpinannya. FPI sedang 
bermasalah di pengadilan. Dan MMI akan pula terkena efek dari kasus Abu Bakar 
Baasyir. Terlepas dari ketidak setujuan kita kepada mereka secara politis, 
mereka tetap layak diadili secara jujur dan fair. Justru dalam pengadilan yang 
fair terletak keindahan demokrasi, yang tetap menghormati hak hukum dari para 
penolak demokrasi itu sendiri.[]

Versi asli dapat dibaca di:
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=79


------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke