kuring mah lain rek menyoroti kesuksesan india nyieun mobil murah.

tapi kuring hayang menyoroti "gandhi engineering".

Gandhi *engineering* --> Sebuah mantra berisi semangat yang memunculkan
sikap mental penolakan terhadap segala sesuatu yang berlebih-lebihan.

ceuk kuring mah, ieu (hanteu kaleuleuwihi) mangrupakeun salahsahiji obat
mujarab pikeun bangsa indonesia.
- bayangkeun lamun pejabat hanteu kaleuleuwihi, manehna moal jadi koruptor.
- bayangkeun lamun karyawan swasta hateu kaleuleuwihi, manehna moal boga HP
sapuluh, kartu kredit salosin, daftar KTA (Kredit Tanpa Agunan) dimamana,
anu akhirna bonyok diteunggeulan debt kolektor.
- bayangkeun lamun pengusaha HPH hanteu kaleuleuwihi, manehna moal
ngadaharan leuweung, rahayat moal kabanjiran.
- bayangkeun lamun urang sunda hanteu kaleuleuwihi, manehna moal nepi ka
poho di temah wadi, inget kana purwa daksi, menta hampura ka gusti, moal
ngagegedekeun gengsi.

cik baraya, heup ah, ulah kaleuleuwihi.......

______________________________________________

http://gatra.com/artikel.php?id=111598

Mobil Murah dari India

Revolusi harga terjadi di mana-mana. Ongkos naik pesawat terbang, yang dulu
Rp 1 juta lebih, kini terjun hingga Rp 100.000-an. Lalu laptop yang dulu Rp
18 jutaan kini bisa didapat dengan harga Rp 2 jutaan. Dalam dunia otomotif
hal tersebut berjalan lambat sekali. Namun, tak lama lagi akan keluar mobil
dengan harga berkisar pada Rp 23 jutaan.

Sponsor mobil murah tersebut adalah Tata, perusahaan otomotif asal India.
Semua paham bahwa dalam dunia otomotif, mengurangi pengeluaran produksi,
menghemat bahan, dan menyederhanakan desain merupakan hal yang tabu serta
jarang disentuh. Semua kendala tersebut seperti diterabas Tata yang
mengenalkan produk mobil murahnya, Kamis pekan lalu.

Mobil bermesin belakang tersebut, menurut para analis, harganya sekitar Rp
28 juta. Masih yang paling murah di muka bumi. Namun, masih belum terungkap
bagaimana mobil buatan Tata tersebut diproduksi. Tentu, hal tersebut sebuah
inovasi besar, bagaimana dengan ongkos perakitan murah, lingkar kemudi
dipasang, lampu depan ditaruh, *speedometer* analog yang kurang akurat
dibandingkan dengan digital dipakai, dan sejumlah ornamen dipasang.

Apa pun bentuknya, mobil tersebut merupakan sebuah kemenangan. Bukan dalam
arti penemuan besar, melainkan sebuah filosofi mesin baru yang muncul dari
sebuah dunia berkembang. Para pakar industri memandang, filosofi tersebut
akan mengubah cara pembuatan mobil di berbagai tempat dibuat. Seperti Jepang
yang mengenalkan *kaban* atau "tepat waktu" dan *kaizen* alias pengembangan
berkelanjutan, maka Tata mengekspor ke seluruh dunia apa yang disebut dengan
"mesin Gandhi" atau Gandhi *engineering*.

Sebuah mantra berisi semangat yang memunculkan sikap mental penolakan
terhadap segala sesuatu yang berlebih-lebihan. Daryl Rolley, kepala
operasional Ariba untuk Amerika Utara dan Asia, seperti dikutip oleh
*International
Herald Tribune*, Rabu pekan lalu menyatakan mantra itu secara mendasar akan
membuang segala bentuk pemborosan di industri mobil. Ariba merupakan pemasok
suku cadang untuk Tata, dan juga BMW dan Toyota.

"Dalam lima sampai 10 tahun ke depan, seluruh industri mobil akan memutar
dan berbalik arah," kata Rolley. Mobil dengan biaya murah bakal memberi
dampak global. Manuver Tata yang pernah diumumkan pada 2004 tersebut telah
menginspirasi dua rivalnya untuk merancang sendiri mobil murah. Mereka
adalah aliansi Prancis-Jepang Renault-Nissan dan *joint
venture*India-Jepang Maruti Suzuki.

Memang, sejauh ini belum digambarkan apakah mobil tersebut dilengkapi
teknologi standar keselamatan dan pengurangan emisi gas buang, sehingga
dapat melaju di jalan negara-negara Barat. "Mobil Rakyat" demikian sebutan
untuk mobil murah selalu dirahasiakan. Itulah yang ada pada Beetle milik
Volkswagen dan Model T milik Ford. Dua produsen mobil itu menyimpannya
rapat-rapat dan menolak detail bagaimana membuatnya. Mereka pun membuat nota
kesepakatan secara hukum dengan para pemasok komponennya untuk tidak
membeberkan rahasianya.

Sejumlah orang yang pernah melihat mobil buatan Tata tersebut bisa
melukiskan mobil murah tersebut. Bentuknya mini dan kecil dengan empat pintu
samping. Di dalamnya terdapat kursi untuk empat penumpang plus pengemudi.
Bagian depannya pendek sedangkan belakangnya sedikit besar untuk menaruh
mesin. Mobil tersebut nampak didisain untuk mengurangi hambatan angin.

"Itu sebuah mobil mungil yang bagus," kata A.K. Chaturvedi, wakil presiden
untuk pengembangan bisnis Lumax Industries, pemasok di Delhi yang
mengembangkan lampu depan dan lampu interior mobil. Ketika dibuat mobil
tersebut selalu diawali dengan pertanyaan: apakah komponen-komponen tersebut
sungguh dibutuhkan. Misalnya, empat cakram rem. Apakah cukup jika
menggunakan tiga saja. Dan seterusnya.

Model yang dikeluarkan pada Kamis pekan lalu itu, seperti dilansir oleh Tata
dan pemasoknya, tampak tanpa dilengkapi dengan radio, *power steering*, *power
window*, serta AC, dan hanya sebuah ada satu *wiper* untuk kaca depan. *
Tachometer* tak ada, dan cukup dengan speedometer analog. Pembuat mobil
rakyat tersebut jelas melakukan pemangkasan gede-gedean.

"Maka saja masih saja dapat melaju pada 65 ataupun 75, bukankah begitu?"
kata Ashok Taneja, salah satu pemasok untuk Tata, menggambarkan mobil yang
tidak dilengkapi dengan alat pengukur kecepatan berpresisi tinggi. Metode
penghematan yang dilakukan itu ternyata memunculkan pertanyaan mengenai
implikasi yang besar terhadap aspek keselamatan dan daya tahan mobil.

Untuk menghemat US$ 10 saja, ahli mesin Tata mendisain ulang suspensi untuk
mengurangi penggerak lampu jauh dan dekat. Jadi lampu jauh dan dekat,
menurut Chaturvedi, sangat tergantung pada beban berat yang mengisi mobil.
Disain ulang dilakukan juga terhadap batang kemudi dan rangka mobil. Pada
intinya, mobil tersebut dalam jangka panjang juga bakal hemat perawatan
tanpa mengorbankan kualitas.

Contohnya, Tata memilih pelek yang sangat kuat sehingga mobil bisa dipacu
hingga 70 kilometer per jam lebih. Jika dipacu terlampau berlebihan maka
bisa tergerus dan rusak, serta mengurangi umur komponen mobil tersebut, toh
tidak mengancam keamanan pengemudi dan penumpang mobil. "Bila saya butuh
perak, mengapa harus menanamkan emas," kata Taneja untuk menyingkirkan
segala sesuatu yang tidak diperlukan.

Penghematan signifikan yang dilakukan oleh Tata adalah pada bobot mobil,
sehingga cukup memakai mesin yang lebih murah. Harga mesin kurang-lebih
hanya US$ 700, dan dibuat oleh perusahaan Bosch asal Jerman. Kapasitas mesin
adalah 600 sampai 650 cc dengan tenaga kurang lebih 30 hingga 35 tenaga
kuda. Mesin yang cukup bertenaga untuk harga sebesar itu.

Untuk transmisi pun Tata menggunakan transmisi terbaru yang lebih murah dan
sederhana. Untuk menghemat dan memangkas alur komunikasi dalam pembelian
suku cadang dari para pemasok, Tata mengandalkan pembelian komponen secara
lewat internet hingga 30% sampai 40%. Pertanyaan berat bagi Tata adalah
mengenai persoalan keselamatan dan batasan emisi gas buang.

Soal itu, Tata memiliki jawaban sendiri. Bahwa negara itu kini tengah
menghadapi permintaan mobil yang besar, namun belum mencukupinya. India pun
akan selalu menyesuaiakan diri dengan regulasi yang ada pada negara-negara
maju. Yang jelas, menurut pejabat Tata, mobil tersebut nantinya akan
memenuhi semua norma-norma India.

Soal perubahan norma tersebut tentu akan mempengaruhi harga mobil, pasalnya
India juga berubah. Menurut Anumita Roychowdhury dari Pusat Sains dan
Lingkungan di New Delhi, kota-kota besar di India pada April 2010 nanti akan
memberlakukan Euro IV untuk standar emisi pada kendaraan bermotor. Standar
juga ditekankan pada fitur-fitur keselamatan mobil.

Kewajiban seperti *airbags*, rem anti-penguncian, dan tes bodi terhadap
benturan juga akan diterapkan kemudian. Semua perubahan tersebut tentu bakal
memberi konsekuensi pada harga mobil murah buatan Tata. Dan harga tersebut
akan melambung sedikit tidak seperti perkiraan awal. Misalnya untuk harga *
laptop* murah yang dirancang US$ 100, terbukti di pasar dijual dengan
banderol US$ 200.

Apa pun serangan atas kelemahan mobil murah itu, manuver Tata tersebut
menantang dunia untuk membuat mobil makin terjangkau kelas menengah ke
bawah. Selain itu, kebutuhan akan mobil ber-cc kecil menjadi keharusan di
tengah harga minyak yang akan terus melambung. Tata telah memulai apa yang
tidak mungkin, menjadi mungkin. Seperti tahun 1980-an ketika Jepang hadir
dengan mobil-mobil massal yang lebih murah dan hemat.

*G.A. Guritno*
[*Internasional*, *Gatra* Nomor 10 Beredar Kamis, 17 Januari 2008]

Kirim email ke