Sajakna mas taufik, punten teu di sundakeun.
  Kabebasan ngarokok di Indonesia keur nanjeurkeun hak asasi...nu kieu kitu 
nya..???
  Beda mun dibandingkeun di nagara-nagara bataur mah saperti di Singapore,jeung 
nagara lian na. nu kasiksa teh malihan mah nu ngarokokna. 
  Geuning dinagara sejen mah, model di tempat umum saperti di airport, 
perkantoran jeung stasion2 sok disadiakeun ruangan paragi ngarokok ukuran na 
ukur 3 x 3 Meter, maranehna teu sembarangan ngarokok ditempat2 terbuka, sabab 
undang2 nu berlaku keras kacida. 
  Kasiksa kacida sabab ruangan ngarokok tempat diuk terbatas, anu ngarokok 
lobaan, alhasil narangtung wae. Kepul haseup mah geus teu kacatur deui, sanajan 
aya blower oge.
  Beda jeung diurang, eta komo di angkot, meni sok mulek ku haseup rokok, teu 
ningali aya orok, ih cuek we,,,,, cik atuh sing saladar nya...
  Basa kuring transit di airport hongkong, kuring heran ningali jelema 
ngarariung di jero ruangan nu ukur 3M x 3M, tapi teu ngarobrol, ceuk babaturan 
kuring, "tuh tingali, maranehna keur sembahyang.." pokna bari nunjuk ka nu keur 
narangtung , eusina meni pepek ku jelema bari narangtung. Ari sugan teh 
heueuh....ari pek teh geuning keur sembahyang ka Tuhan 9 senti.
   
   
  Tuhan Sembilan Senti 
  Oleh: Taufiq Ismail 
   
  Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, 
  tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, 
  Di sawah petani merokok, 
  di pabrik pekerja merokok, 
  di kantor pegawai merokok, 
  di kabinet menteri merokok, 
  di reses parlemen anggota DPR merokok, 
  Di angkot Kijang penumpang merokok, 
  di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, 
  di loket penjualan karcis orang merokok, 
  di kereta api penuh sesak orang festival merokok, 
  di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, 
  di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta 
  diajari pula merokok, 
  Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, 
  tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok, 
  Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai 
  kita, 
  Di pasar orang merokok, 
  di warung Tegal pengunjung merokok, 
  di restoran, di toko buku orang merokok, 
  di kafe di diskotik para pengunjung merokok, 
  Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, 
  bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur 
  ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak 
  rokok, 
  Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling 
  menularkan HIV-AIDS sesamanya, 
  tapi kita tidak ketularan penyakitnya. 
  Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok 
  di kantor atau di stopan bus, 
  kita ketularan penyakitnya. 
  Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS, 
  Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur 
  di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap 
  tembakau itu, bisa ketularan kena, 
  Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, 
  di apotik yang antri obat merokok, 
  di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, 
  di ruang tunggu dokter pasien merokok, 
  dan ada juga dokter-dokter merokok, 
  Istirahat main tenis orang merokok, 
  di pinggir lapangan voli orang merokok, 
  menyandang raket badminton orang merokok, 
  pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, 
  panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen 
  sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok, 
  Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, 
  di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, 
  di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang- 
  orang goblok merokok, 
  Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi 
  orang perokok, 
  tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, 
  Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai 
  kita, 
  Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat 
  merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. 
  Mereka ulama ahli hisap. 
  Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. 
  Bukan ahli hisab ilmu falak, 
  tapi ahli hisap rokok. 
  Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala- 
  berhala kecil, 
  sembilan senti panjangnya, 
  putih warnanya, 
  kemana-mana dibawa dengan setia, 
  satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, 
  Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, 
  tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, 
  cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. 
  Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan 
  yang sedikit golongan ashabus syimaal? 
  Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. 
  Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. 
  Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. 
  Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. 
  Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. 
  Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz. 
  25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 
  15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir 
  diharamkan. 
  4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok 
  diapakan? 
  Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul 
  khabaaith. 
  Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah 
  dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok. 
  Jadi ini PR untuk para ulama. 
  Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, 
  lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan, 
  Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. 
  Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya 
  berapi itu, 
  yaitu ujung rokok mereka. 
  Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. 
  Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai 
  terbatuk-batuk, 
  Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, 
  sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit 
  rokok. 
  Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu 
  lintas, 
  lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, 
  cuma setingkat di bawah korban narkoba, 
  Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat 
  berkuasa di negara kita, 
  jutaan jumlahnya, 
  bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, 
  dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, 
  diiklankan dengan indah dan cerdasnya, 
  Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, 
  tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, 
  karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara 
  menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini, 
  Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini. 

        

Kirim email ke