sami ..masih keukeuh gukeukeuh...RI teh Nagara Beunghar...SDA
melimpah......cai meureun anu melimpah nepi ka banjir...euy........

On 5/14/08, MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Mangga nyanggakeun, pidato budaya Sultan Hamengku
> Buwono X kamari di UI.
>
> baktos,
>
> mrachmat uidipura
>
> Membangun Etos Publik Dari Keragaman Budaya
>
> Orasi Budaya
> Merajut Etos Keindonesiaan
> Dari Kemajemukan Budaya
> Kampus UI Depok, 13 Mei 2008
>
> Assalamu'alaikum Wr. Wb.
> Salamsejahtera bagi kita semua
>
> Yth. Bapak Rektor beserta seluruh Sivitas Akademika
> UI,
> Yth. Para Tamu Undangan dan segenap Hadirin yang
> berbahagia,
>
> Adalah suatu kehormatan karena saya memperoleh
> kesempatan untuk menyampaikan Orasi Budaya di Kampus
> Universitas Indonesia, sebuah unibersitas yang
> menyandang predikat the University with World Class
> Perspective. Selain itu, saya juga merasa beruntung,
> karena dapat menjadi wahana pembelajaran bersama
> dengan bertukar gagasan dan pengalaman. Atas
> kehormatan mana, saya menyampaikan ungkapan rasa
> terimakasih yang dalam disertai penghargaan yang
> tinggikepada Bapak Rektor Prof. Dr. der. Soz. Gumilar
> Rusilawa Somantri beserta seluruh Sivitas Akademika
> Universitas Indonesia.
>
> Berbicara tentang keragaman budaya,
> kita harus selalu mengingat seloka Bhinneka Tunggal
> Ika, yang lengkapnya ditulis oleh Mpu Tantular di
> zaman Majapahit dalam Kakawin Sutasoma: "Bhinneka
> Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa" *-biar pun kita
> berbeda-beda, sesungguhnya kita itu satu, tiada
> kewajiban mendua.
>
> ------------------------------------------
> • Kutipan Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait5: Rwaneka
> dhatu winuwus Buddha Wiswa,Bhinneki rakwa ring apan
> kena parwanosen, Mangkang Jinatwa kalawan Siwatwa
> tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma
> mangrwa.(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang
> berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah
> bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa
> adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu
> jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam Kebenaran).
> Sasanti "Bhinneka Tunggal Ika" seringkali
> diterjemahkan:"Berbeda-beda tetapi tetap satu".
>
> Konsep pluralisme seorang pujangga, di tangan Gadjah
> Mada, seorang bhayangkara negara, dengan Sumpah
> Palapa-nya kemudian diterjemahkan menjadi penaklukan
> wilayah, yang mengekspresikan semangat ekspansionistik
> dan hegemonic yang sentralistik.
>
> Karena itu, jika kita mau mengakui secara jujur,
> sesungguhnya konflik yang mengarah pada disintegrasi
> bangsa sebagai dampak euphoria reformasi belakangan
> ini, karena kita terlalu memitoskan Sumpah Palapa
> Gadjah Mada yang dipersepsikan sebagai perekat
> persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal waktu itu
> kesatuan Nusantara dilakukan dengan cara penaklukan
> untuk memperluas jajahan dan meningkatkan hegemoni
> kerajaan Majapahit.
>
> Sebagai contoh, ketika membaca lembar karya Rakawi
> Prapanca* dalam negara Negarakertagama, bila ada yang
> melawan perintah Majapahit, maka "…mereka didatangi
> pasukan ekspedisi jaladi mantry yang tak terbilang
> jumlah dan mashur namanya untuk ditiadakan sama
> sekali…..". Tindakan yang diambil, dalam bahasa Jawa
> kuna dengan kata-kata "wicirna-sahana" –dikirim ke
> lembah ke-tiada-an, sirna, agar musnah tak berbekas
> dari muka, dan bahkan dari perut bumi. Sebelum era
> reformasi, "nasihat" dan "warisan" Majapahit itu
> dijalankan dengan teliti ketika memadamkan
> pemberontakan di daerah.
>
> Sebaliknya, kata "merajut" adalah upaya bersama
> membangun kembali "persatuan-kesatuan bangsa" dan
> "keIndonesiaan kita" lewat pendekatan budaya, dengan
> tekun dan juga teliti, agar keBhinneka Tunggal Ikaan
> budaya etnik-etnik teranyam bagai serat-serat budaya
> Indonesia yang saling menguatkan.
>
> Dari visi kita sekarang, Sumpah Palapa itu
> bertolak-belakang dengan aspirasi bangsa pluralistik,
> yang pada abad 20 ditegakkan melalui Sumpah Pemuda.
> Pengalaman mengajarkan, bahwa bukan semangat
> kemanunggalan (tunggal ika) yang berpotensi melahirkan
> kesatuan dan persatuan yang kuat, melainkan pengakuan
> akan adanya pluralistis (bhinneka), dan kesediaan
> untuk menghormati kemajemukan budaya bangsa Indonesia.
> Inilah yang lebih menjamin persatuan dan kesatuan
> serta integrasi nasional yang sustainable.
>
> Untuk menyelematkan negeri ini kita harus berani
> melakukan rethinking dan reshaping terhadap paradigma
> pembangunan dengan mengedepankan nilai-nilai dan
> budaya, yang harus mewujud dalam perilaku ekonomi dan
> politik.
>
> *Daniel Dakidae,"Memahami Rasa Kebangsaan dan Menyimak
> Bangsa sebagai Komunitas-komunitas Terbayang",
> Pengantar Buku: "Komunitas-Komunitas Terbayang",
> Insist.Yogyakarta,
> Cet.II, Oktober 2002.
>
> Bapak Rektor dan Sivitas Akademika UI yang saya
> hormati,
>
> Dilihat dari sisi momentum, bangsa Indonesia melintasi
> simpul-simpul sejarah penting tahun ini. Peristiwa
> itu adalah 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun
> Sumpah Pemuda, dan 10 tahun reformasi, serta 63 tahun
> Proklamasi Kemerdekaan. Ironisnya, dalam lintasan
> sejarah penuh makna itu, bangsa Indonesia masih
> dibelenggu oleh kemiskinan dan pengangguran serta
> dibelit oleh tingkat pendidikan dan kualitas kesehatan
> yang rendah. Jika harga BBM dinaikkan, meski ditopang
> dengan BLT, bisa jadi jumlah orang miskin menurut BPS
> pada Juli 2007 yang besarnya 37,17 juta akan meningkat
> tajam, sehingga perbedaan angka kemiskinan dengan
> versi bank Dunia yang besarnya 100 juta orang, tak
> lagi menarik untuk diperdebatkan.
>
> Bersamaan dengan krisis energi itu, banyak negara maju
> berusaha mengekstrak stok bahan pangan menjadi bahan
> bakar terbarukan dari sumber nabatai (bio-fuel).
> Awalnya memang dimaksudkan buat menjaga lingkungan.
> Namun kini berdampak negatif, yang menyebabkan harga
> pangan dunia ikut melambung tinggi, menandai
> berakhirnya era pangan murah. Sehingga kini kita
> dihadapkan pada krisis ganda, energi dan pangan,
> Tidak mengherankan jika sebagai negara demokrasi
> terbesar ketiga di dunia, kualitas penduduk Indonesia
> yang sekarang hanya ada di peringkat 107 dari 177
> negara (UNDP, 2007), bisa jadi akan merosot ke
> peringkat bawah.
>
> Menggeser Paradigma Pembangunan
> Situasi Indonesia yang dalam batas-batas
> tertentu bisa disebut sudah patologis tersebut
> sebenarnya merupakan sebuah realitas keganjilan.
> Padahal negeri ini kaya-raya bukan hanya dalam ukuran
> sumberdaya alam tetapi juga melimpahnya SDM. Sejauh
> ini etiologi keganjilan tersebut cenderung disebabkan
> ada sekelompok elite yang bermain kekuasaan untuk
> memperkaya diri sendiri, dan adanya keselahan dalam
> tata ekonomi-politik, yang dinilai telah gagal
> menyejahterakan rakyat
>
> Tanpa mengabaikan signifikansi kedua
> variabel tersebut dalam "menghambat" terwujudnya
> masyarakat yang adil dan makmur, saya lebih suka
> melakukan pembalikan cara berpikir. Akar kemiskinan
> kita selama ini sebenarnya bukan disebabkan
> semata-mata oleh pejabat yang kurang amanah dan kurang
> baiknya tata kelola politik-ekonomi saja, tetapi
> bersumber pada akar dari paradigma pembangunan itu
> sendiri.
>
> Selama ini, sepertinya kita selalu meletakkan
> "pertumbuhan", dan tidak pernah meletakkan "keadilan"
> sebagai jiwa dari paradigma pembangunan. Bahkan kita
> pun malas untuk melakukan sintesa sebagai upaya
> mensintesakan keduanya secara sinergis. Akibatnya,
> pertumbuhan ekonomi yang terjadi, faktanya, tidak
> berkorelasi lurus dengan tingkat kesejahteraan dan
> keadilan rakyat.
>
> Meletakkan "keadilan" dalam jantung paradigma
> pembangunan berarti mendasarkan pembangunan bukan
> hanya dalam artian ekonomi semata yang cenderung
> mengabaikan ruang (geografi fisik dan sosial), tetapi
> berbasis pada ruang dan gerak komunitas. Pendeknya, ia
> berbasis pada kearifan budaya lokal. Sebab budaya
> lokal tidak akan bisa bertahan sampai kini, jika
> nafasnya bukan keadilan dan pemerataan bagi semua
> penghayat budaya bersangkutan. Inilah sejatinya
> koordinat dari paradigma pembangunan nasional.
>
> Tetapi kearifan budaya lokal tersebut tidak boleh
> disandera dalam terali yang memusat (sentralistis).
> Sekali disandera, dia tidak akan responsif terhadap
> perubahan, terutama jika perubahan tersebut terjadi
> secara mendadak. Sebaliknya, jika tidak memusat
> (neosentralistis), dia akan lentur menghadapi
> tantangan jaman. Dalam konteks ini, seiring dengan
> kebijakan otonomi daerah, setiap wilayah secara otonom
> bisa menjadi pusat-pusat kebudayaan. Karena entitas
> budaya bersifat otonom dan menentukan hitam-putihnya
> kualitas peradaban.
>
> Dengan memahami kearifan budaya lokal sebagai
> konstruksi imajiner kebudayaan, maka koordinat
> paradigma pembangunan tersebut secara otomatis berada
> dalam medan magnet pluralisme keindonesiaan. Di sini
> bukan lagi waham pertumbuhan ekonomi yang dikejar,
> tetapi keadaan yang lebih adil, merata, dan manusiawi
> bagi seluruh pewaris kearifan budaya lokal tersebut.
>
> Aksi, Bukan Posisi
> Agar paradigma pembangunan yang berbasis budaya
> tersebut bisa bekerja dengan baik, maka setiap warga
> bangsa perlu berproses menjadi negarawan. Tiap budaya
> lokal dengan
> nilai kearifan masing-masing akan melahirkan kualitas
> kenegarawanannya sendiri-sendiri. Dari satu wilayah di
> sudut pulau Sumatra, misalnya, akan lahir negarawan
> saudagar. Juga muncul negarawan petani, negarawan
> petani, nelayan, buruh seniman, guru dan lain-lain
> dari sudut-sudut belahan Indonesia yang lain. Jika
> gerak komunitas ini terjadi, maka bukan hanya
> kedaulatan pangan yang mampu kita rengkuh, tetapi juga
> human dignity dan social justice.
>
> Adalah menjadi tugas pemimpin yang juga sedang
> berproses menjadi negarawan- termasuk para dosen dan
> sivitas akademika Universitas Indonesia – untuk
> melakukan aksi, dan bukan sekedar mengejar dan
> mempertahankan posisi. Aksi itu adalah tindakan yang
> dilandasi prinsip "kehilangan harta berarti tak
> kehilangan apa-apa, kehilangan nyawa berarti
> kehilangan sebagian, kehilangan kepercayaan berarti
> kehilangan segalanya."(Kelangan saakehe raja-brana
> ateges ora kelangan apa-apa, kelangan nyawa iku tegese
> mung kelangan separo, kelangan kepercayaan tegese
> kelangan sekabehe, Jw).
>
> Saya percaya, bahwa kebangkitan Bangsa Indonesia,
> harus dimulai dari kesepakatan kita untuk menghargai
> pluralisme dan menjadikan kebudayaan sebagai
> koordinat paradigma pembangunan nasional. Paradigma
> ini mungkin tidak akan membuat kita kaya, tetapi akan
> menyebabkan kita bebas.
>
> Bapak Rektor dan Sivitas Akademika UI yang saya
> hormati,
>
> Bertolak dari pandangan ini, maka kebhinnekaan yang
> potensial menjadi pemicu terjadinya "nation bleeding",
> sebaliknya harus didayagunakan sebagai faktor perekat
> "nation building". Namun, semakin tinggi tingkat
> keanekaragaman dan kemajemukan masyarakat, ekuivalen
> dengan tingkat kualitas kesulitan yang bakal dihadapi.
> Terutama ketika terjadi proses modernisasi yang
> diikuti oleh mobilitas social dan geografis, lalu
> diiringi oleh meningkatnya kualitas masalah-masalah
> etnik, seperti prasangka, ketegangan dan konflik.
>
> Dalam upaya menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebuah
> strategi integrasi bangsa, dapat dilakukan melalui
> pendekatan budaya, dimana setiap kelompok budaya
> saling menyapa dan mengenal, untuk selanjutnya saling
> memberi dan menerima. Sekaranglah saatnya kita
> mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak
> sebatas tawar menawar politik, tetapi dengan tawaran
> kehidupan budaya yang lebih hangat.
>
> Keragaman geografis negara kepulauan Indonesia,
> menghadirkan variasi ekosistem dan keragaman sistem
> nilai dan realitas yang hidup di tengah masyarakat.
> Latar belakang suku-suku telah berkembang dengan
> sejarah lokal yang panjang, merupakan khasanah
> keragaman yang kemudian menemukan momentum penting
> untuk bersatu membentuk negara Indonesia.
>
> Bhinneka Tunggal Ika adalah sumber semangat, kearifan
> dan kekuatan bangsa, yang dapat menyadarkan bangsa ini
> setiap menghadapi cobaan, kemelut dan krisis,
> sekaligus guna merajut kembali persatuan dan kesatuan
> yang telah retak, menuju the dream land: Indonesia
> Baru yang lebih baik, Sehingga dengan keBhinneka
> Tunggal Ikaan budaya-budaya etnik Nusantara justru
> dapat digunakan sebagai modal berharga guna merajut
> KeIndonesiaan kita.
>
> Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan
> melimpahkan kepada kita semua:
> Kepedulian, kebersamaan, saling percaya, kesabaran,
> kekuatan, dan determinasi dalam upaya bersama
> Membangun Etos Publik dari Keragaman Budaya.
>
> Sekian, terima kasih.
> Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
>
> Jakarta, 13 Mei 2008
>
> Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
>
> Hamengku Buwono X
>
> 
>

Kirim email ke