Tarekah ngadokumentasikeun jiga kieu, jigana mirip jeung artikel di handap.
salam,
mh

2008/8/25 MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]>:
> Kuring jadi inget omongan (postulat) kang Odon (Don Hasman) salah sahiji
> ahli Urang Kanekes. Ceuk inyana teh, upama geus aya jalan (komo deui jalanna
> alus) ka hiji wewengkon, bisa dipastikeun budaya asli hiji wewengkon bakal
> gancang leungitna, kaelehkeun ku budaya anyar (jati kasilih ku junti).
>
> Contona wae, di wewengkon panamping urang Kanekes, dina nyukupan kabutuhan
> sandang, salian dibantu dipasok ku aparat Dinas Industri (sakumaha
> didongengkeun ku Mang Jamal), atuh dina perkara soal ngawarnaan bahan
> pakean, geus biasa make bahan-bahan kimia. Bisa dibayangkeun kumaha
> balukarna upama urang (Kanekes) make bahan kimia bari jeung teu dibekelan
> pangaweruh  cara make bahan eta jeung bahaya pikeun kasehatan.
>
> Maksud tulisan ieu lain anti wewengkon kidul Jawa Barat dibeneran jalanna,
> tapi kumaha "mengantisipasi" kagorengan anu bakal tumiba ku ayana sarana
> jalan anu alus.
> Salah sahiji solusina, kuamha upama kabiasaan jeung budaya asli hiji
> wewengkon "dimaping", didokumentasikeun sacara multimedia, terus
> diarsipkeun. Usaha keiu salah sahiji cara supaya kabudayaan asli heunteu
> gancang leungit, jadi asupan keur gupernur Jabar, supaya anggaran jalan
> "multiyears" dijerona kaasup waragad pikeun miara budaya asli.
>
> Jadi konsep berpikirna diobah, upama rek meneran jalan teh, heunteu ngan
> sakadar nguruskeun jalan wae, tapi oge dipikiran aspek sejenna kayaning
> budaya anu aya di masyarakat hiji wewengkon.
>
> baktos,
> mrachmatrawyani
>
===============
Orang Jawa Suriname Lewat Diam-Diam
Sebuah Buku Riwayat Hidup Lansia Jawa Suriname

Bari Muchtar

11-08-2008
Buku Menceritakan Riwayat Hidup Lansia Jawa Suriname
Klik di sini untuk mendengarkan liputan lengkap di MM

Tanggal 9 Agustus 2008 persis 118 tahun lalu orang Jawa diangkut ke
Suriname untuk menjadi buruh kontrak. Sejak Suriname merdeka pada
tahun 1975, banyak warga Suriname asal Jawa hijrah ke negeri bekas
penjajahnya, Belanda.

Yayasan Rukun Budi Utomo dan Yayasan Peringatan Imigrasi Orang Jawa
(STICHJI) memperingati peristiwa penting ini dengan menggelar pameran
foto dan meluncurkan buku. Buku itu berjudul De Stille passanten,
Levensverhalen van Javaans-Surinaamse ouderen in Nederland. (Orang
lewat diam-diam, Riwayat hidup lansia Jawa Suriname di Belanda.)

javanen200.jpgAula Sekolah Tinggi Den Haag Haagse School dipenuhi
suasana Jawa. Musik gamelan terdengar dari panggung, banyak pria
mengenakan batik dan perempuan berkebaya terlihat di mana-mana.

Menurut Ibu Hariëtte Mingoen, penulis utama kumpulan riwayat hidup
itu, buku ini ditulis karena sampai sekarang belum ada buku yang
berisi riwayat hidup yang diceritakan oleh orang yang bersangkutan
sendiri.

Harriët Mingoen: "Sejarah yang kita baca/mengerti, itu dari
analisa-analisa arsip. Lalu itu yang menganalisa orang dari luar.
Bukan orang Jawa dan bukan orang yang mengalami imigrasi sendiri."

Tradisi dan budaya
Ibu Mingoen, yang juga Ketua Yayasan Peringatan Imigrasi Orang Jawa
(STICHJI), menambahkan buku yang disusun sekitar satu setengah tahun
ini dapat dinilai mewah. Karena buku yang berisi potret para lansia
Jawa ini memberi informasi baru tentang kehidupan mereka waktu masih
di Jawa, di Suriname dan kemudian di Belanda. Orang-orang tua ini
sekarang tinggal di Belanda.

Buku riwayat hidup dan potret para lansia Jawa yang disusun bersama
seorang warga Indo-Belanda Ivette Kopijn itu, dibubuhi pengantar
presiden pertama Suriname Johan Ferrier. Dalam sambutannya pria gaek
ini menyinggung karakter orang Jawa dan mengucapkan terima kasih
kepada mereka dan para penulis.

Ferrier: "Saya tahu, tidak gampang untuk meminta orang Jawa bercerita.
Mereka tidak mau mencanangkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.
Tapi mereka berupaya mengatasinya dengan enerji yang ada dalam diri
mereka. Saya berterima kasih banyak kepada para pencerita yang
bersedia memberi kesempatan kepada ibu-ibu penulis buku ini untuk
menyuarakan diri mereka. Harriët, terima kasih."

Acara yang berlangsung sekitar 3 jam itu juga dihadiri oleh pejabat
tinggi kota Den Haag, dan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia
(KBRI) Den Haag. Menurut Wakil Kepala Perwakilan RI Djauhari
Oratmangun, KBRI Den Haag selalu diundang kalau ada kegiatan
masyarakat Belanda asal Indonesia seperti orang Jawa ini.

Djauhari Oratmangun: "Sejak beberapa tahun terakhir ini kita pun
sangat aktif untuk merangkul mereka, orang-orang Jawa Suriname. Karena
bagaimana pun darah yang mengalir di dalam tubuh mereka itu kan darah
Jawa. Dan Jawa itu ada di Indonesia. Walaupun mereka sudah menjadi
warganegara Suriname, tapi tradisi dan budaya masih tetap tradisi dan
budaya Jawa."

Buku
Judul buku "Orang Lewat Diam-Diam" mengesankan seolah orang Jawa itu
suka bungkam tidak mau menonjol seperti disinggung oleh mantan
presiden Suriname tadi. Inilah yang mendorong Harriët Mingoen, sebagai
ketua Yayasan Peringatan Imigrasi Orang Jawa (STICHJI) untuk
menggalakkan warga Jawa Suriname keluar dari sarangnya.

Harriët Mingoen: "Oleh karena itu tujuan saya supaya setiap tahun
kalau mengadakan peringatan Javaanse immigratie (imigrasi orang
Jawa,red), supaya mengeluarkan hasil tertentu. Tahun ini buku, mungkin
tahun depan produksi teater atau tahun depannya buku lagi. Supaya
terlihat.

Suatu ambisi yang bagus yang mudah-mudahan berhasil. Tapi andaikan itu
tidak berhasil, setidaknya melalui buku ini, dunia akan mengenal
kehidupan generasi pertama orang Jawa Suriname yang berkarakter
pendiam, tetapi bekerja keras.

Citation:
http://www.ranesi.nl/tema/masyarakat/lansia_jawa_suriname20080811

Kirim email ke