Nasi Sisa Orang, Sarapan Pak Sukri

Pak Sukri, 75 tahun, warga Kampung Cikabon RT. 02 RW. 04, Desa Cibunar, 
Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, kerap terpaksa menyantap nasi sisa 
yang dikaisnya dari pasar dan warung makan. Ia mengumpulkan nasi sisa 
orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya, dibawa ke rumah untuk dicuci 
dan dimasak kembali oleh Jubaedah, sang isteri. 

Jubaedah, isteri tercintanya, juga sering ke pasar untuk mencari sesuir 
sayur-sayuran sisa yang sudah jatuh ke tanah atau sayuran afkir yang tak laku 
dijual. Ia menyusuri pasar sambil memunguti sayuran sisa untuk dibawa pulang 
dan dicuci bersih. Sayur racikan Jubaedah dari hasil pungutannya itu menjadi 
teman nasi sisa hasil pencarian Pak Sukri. Itulah yang menjadi sarapan mereka, 
juga untuk makan siang sampai malam. 

Memang tidak setiap hari Pak Sukri dan Ibu Jubaedah melakukannya, terlebih 
setelah penyakit rematik yang diderita lelaki renta mantan pejuang kemerdekaan 
itu memaksanya sulit berjalan. Kadang Ibu Jubaedah berjalan sendirian ke pasar 
untuk mencari makanan, atau menunggu belas kasihan tetangganya. 

Yang mengagumkan, di rumah yang hampir semuanya terbuat dari kayu dan bilik 
itu, Pak Sukri dan Ibu Jubaedah selalu terlihat ceria dan tegar. Menurut warga 
sekitar, keluarga ini dikenal sangat religius, rajin beribadah meski pun 
kemiskinan tak pernah jauh dari kehidupannya selama puluhan tahun. Semasa masih 
sehat, Pak Sukri aktif mengajar mengaji warga di sekitarnya. “Mintalah kepada 
Allah, maka Allah akan mengabulkan semua keinginan kita…” petuah yang sempat 
keluar dari mulut Pak Sukri ketika kami, Relawan Pelangi (RP), singgah di 
rumahnya. 

Sebenarnya, pasangan lanjut usia ini tinggal bersama anak-anaknya. Empat anak 
yang tersisa dari delapan yang pernah dimiliki hasil pernikahan mereka itu 
hidup dalam keadaan yang sangat miskin sehingga tidak bisa membantu banyak 
kehidupan orang tuanya. Bahkan dua dari empat anaknya kini menjadi beban Pak 
Sukri. Seorang anak perempuannya yang tinggal bersebelahan, suaminya berurusan 
dengan polisi setelah ditipu seseorang yang menitipkan barang. Ternyata barang 
tersebut berupa narkoba dan sang suami pun diciduk petugas. Seorang anak 
lainnya, menderita stress akut tak lama setelah pernikahannya berantakan.

Jadilah, pasangan renta ini menanggung hidup dua anak beserta beberapa cucunya. 
Padahal untuk hidupnya sendiri pun ia sudah kesulitan dan sering terpaksa 
memunguti nasi sisa di pasar. Terus menerus berharap pengasihan tetangga pun 
tidak mungkin, karena kehidupan para tetangga di sekitar rumahnya pun tak jauh 
berbeda dengan keluarga itu. 

Pak Sukri semasa sehat pernah bekerja sebagai petugas kebersihan honorer di 
Pemda DKI Jakarta. Namun seiring usianya yang merambat senja, dan penyakit 
rematik yang dideritanya membuatnya tak mampu lagi berbuat banyak. Beruntung, 
Ibu Jubaedah masih terlihat sehat dan fit sehingga masih ada yang menuntun dan 
membopong sang suami berjalan, termasuk melayani anak lelakinya yang stress. 
Berapa lama perempuan tua bertubuh kecil itu mampu bertahan? 

“Semoga Allah masih memberikan saya umur, kalau tidak ada saya, siapa yang 
mengurusi Abah,” ujar Ibu Jubaedah sambil tersenyum. Saat itu, ia sedang 
memasak nasi di dapurnya yang sangat sederhana. Sebuah tungku api menjadi 
andalannya untuk memasak, itu pun lebih sering tak menyala. 

Sebelum kami pulang, anak perempuannya yang suaminya masih di penjara berujar, 
“Andai kami diberikan modal, saya siap dagang apa saja…” sebuah ungkapan yang 
lebih senang kami dengar ketimbang ia terus meminta-minta atau berharap belas 
kasihan orang lain. Senyumnya penuh harap, seolah menangkap secercah cahaya 
yang menerangi jalannya. Insya Allah kami akan kembali.(gaw)

http://warnaislam. com

Bayu Gawtama 
Life-Sharer 
http://bayugawtama. net 



      

Kirim email ke