Hillary Clinton datang ka Indonesia. Urut "First Lady" Amerika teh 
datang salaku MenLu AS. Gayana memang hebat, salawasna seuri jeung 
someah. Urang Indonesia loba nu "terpukau" kaasup kuring sanajan 
ukur nempo dina TV jeung ngadengekeun pidatona. Teu deuk "terpukau" 
kumaha, Hillary, urut first lady Amerika nu salakina salingkuh, 
politikus hebat ngan eleh ku Obama. Tapi manehna bisa kaluar tina 
masalah-masalah ieu. Malah ngaku eleh, geus kitu malah balik 
ngadukung OBama supaya meunang jadi Presiden. Teu siga di urang 
lamun eleh "bersaing" lain ngadukung kanu meunang keur kapentingan 
bangsa, malah buru-buru nyieun partey anyar ...hahahaha

Tapi Hillary tetep Menlu nagara adijaya, nu pasti boga kapentingan 
ka nagara urang, saperti oge nagara urang boga kapentingan ka 
Amerika. Cenah kasempetan ieu teh kudu pisan dimanfaatkeun ku nagara 
urang, saperti opini dina Tempointeraktif dihandap ieu:

Terpukau Diplomasi Hillary

Jum'at, 20 Februari 2009 | 00:08 WIB

Publik dan para pejabat boleh saja terpesona oleh gaya Menteri Luar 
Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton. Selama dua hari berkunjung 
di Jakarta, dengan hangat dan penuh senyum ia menyapa warga. Tapi 
jangan lupakan kepentingan kita. Pemerintah justru harus berusaha 
mengambil keuntungan semaksimal mungkin dari kunjungan itu.

Manfaat yang diharapkan tentu bukan sekadar mengucurnya bantuan 
seperti sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Kelurahan Petojo 
Utara, Jakarta Pusat. Bantuan yang kemarin ditinjau Hillary itu 
hanyalah simbol hubungan yang akrab. Ketika Hillary datang ke 
Indonesia mendampingi suaminya, Presiden Bill Clinton, pada 1994, 
proyek serupa pula yang ia tengok. Saat itu Hillary mampir ke Yogya, 
menyaksikan kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu) yang juga 
dibantu Amerika. Biasanya Amerika juga menawarkan kerja sama dalam 
bidang lain, seperti pendidikan dan teknologi.

Bantuan seperti itu tidak perlu ditolak. Namun pemerintah harus pula 
memanfaatkan hubungan bilateral itu agar Indonesia mampu berperan 
lebih aktif di kancah dunia, baik dalam masalah politik maupun 
ekonomi.

Langkah itu setidaknya mulai dimainkan oleh Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono dengan menyodorkan persoalan Palestina saat menerima 
Hillary. Ia mendorong Amerika mempercepat upaya pembentukan negara 
Palestina. Pemerintah pun berharap negara adidaya itu berperan besar 
dalam konsensus mengenai perubahan iklim dunia. Sebagai negara 
penghasil karbon terbesar, Amerika harus menjadi bagian dari solusi 
masalah ini. Dalam soal ekonomi, kita juga akan bekerja sama dengan 
Amerika mengatasi berkurangnya cadangan devisa akibat dolar yang 
terus menguat.

Indonesia berpotensi besar memainkan semua agenda itu dan 
mengegolkannya sesuai dengan keinginan kita. Sebagai negara dengan 
jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, misalnya, tidaklah 
mustahil Indonesia bisa berperan mendamaikan konflik Palestina-
Israel, juga dalam masalah terorisme. Peluang itu makin terbuka 
karena Obama, begitu terpilih sebagai presiden, menjanjikan cara 
pandang negerinya yang lebih bersahabat terhadap dunia Islam.

Begitu pula dalam soal ekonomi. Krisis ekonomi telah memaksa Amerika 
menjalin kerja sama lebih intensif dengan negara-negara Asia, 
termasuk Indonesia. Maka bukan kebetulan bila Hillary memulai 
lawatan luar negerinya ke negara-negara Asia lebih dulu, bukan ke 
Eropa seperti tradisi para pendahulunya. Sebagai satu di antara 
sedikit negara di Asia yang pertumbuhan ekonominya masih positif, 
Indonesia merupakan peluang bagi pasar Amerika.

Hanya, semua potensi itu tak ada artinya jika tidak digarap serius 
dan cuma berhenti pada seremoni. Lawatan Hillary hanya membuka 
peluang. Begitu pula jika kelak Presiden Yudhoyono berkesempatan 
bertemu dengan Presiden Obama, yang pernah menghabiskan masa 
kecilnya di Jakarta. Bukan pesona yang akan muncul dari pertemuan 
itu yang penting, melainkan sejauh mana pemerintah berhasil 
mengegolkan kepentingan negeri ini.


Kirim email ke