Ari ceuk uing mah somehnamah kudu pisan...kudu
Anu uing salut kana kaputusan narima jabatan menlu na ti obama.

Mun di republic mimpi meureunan mending jadi oposan.

-----Original Message-----
From: Icho Ahmad [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, February 20, 2009 11:29 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Urang Sunda] "Ibu" Hillary Rodham Clinton

Sami Bah Willy.. saya oge terpukau ka Bu Hillari teh.
Someah na.... trus cara menyapa masyarakat urang na..
nu di pojok2 sumah susun wae didadahan oge..
ah.. si Ibu emang pantes  pisan janten first lady ..


=Icho=


On 2/20/09, waluya2006 <[email protected]
<mailto:[email protected]> > wrote:
Hillary Clinton datang ka Indonesia. Urut "First Lady" Amerika teh
datang salaku MenLu AS. Gayana memang hebat, salawasna seuri jeung
someah. Urang Indonesia loba nu "terpukau" kaasup kuring sanajan
ukur nempo dina TV jeung ngadengekeun pidatona. Teu deuk "terpukau"
kumaha, Hillary, urut first lady Amerika nu salakina salingkuh,
politikus hebat ngan eleh ku Obama. Tapi manehna bisa kaluar tina
masalah-masalah ieu. Malah ngaku eleh, geus kitu malah balik
ngadukung OBama supaya meunang jadi Presiden. Teu siga di urang
lamun eleh "bersaing" lain ngadukung kanu meunang keur kapentingan
bangsa, malah buru-buru nyieun partey anyar ...hahahaha

Tapi Hillary tetep Menlu nagara adijaya, nu pasti boga kapentingan
ka nagara urang, saperti oge nagara urang boga kapentingan ka
Amerika. Cenah kasempetan ieu teh kudu pisan dimanfaatkeun ku nagara
urang, saperti opini dina Tempointeraktif dihandap ieu:

Terpukau Diplomasi Hillary

Jum'at, 20 Februari 2009 | 00:08 WIB

Publik dan para pejabat boleh saja terpesona oleh gaya Menteri Luar
Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton. Selama dua hari berkunjung
di Jakarta, dengan hangat dan penuh senyum ia menyapa warga. Tapi
jangan lupakan kepentingan kita. Pemerintah justru harus berusaha
mengambil keuntungan semaksimal mungkin dari kunjungan itu.

Manfaat yang diharapkan tentu bukan sekadar mengucurnya bantuan
seperti sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Kelurahan Petojo
Utara, Jakarta Pusat. Bantuan yang kemarin ditinjau Hillary itu
hanyalah simbol hubungan yang akrab. Ketika Hillary datang ke
Indonesia mendampingi suaminya, Presiden Bill Clinton, pada 1994,
proyek serupa pula yang ia tengok. Saat itu Hillary mampir ke Yogya,
menyaksikan kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu) yang juga
dibantu Amerika. Biasanya Amerika juga menawarkan kerja sama dalam
bidang lain, seperti pendidikan dan teknologi.

Bantuan seperti itu tidak perlu ditolak. Namun pemerintah harus pula
memanfaatkan hubungan bilateral itu agar Indonesia mampu berperan
lebih aktif di kancah dunia, baik dalam masalah politik maupun
ekonomi.

Langkah itu setidaknya mulai dimainkan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dengan menyodorkan persoalan Palestina saat menerima
Hillary. Ia mendorong Amerika mempercepat upaya pembentukan negara
Palestina. Pemerintah pun berharap negara adidaya itu berperan besar
dalam konsensus mengenai perubahan iklim dunia. Sebagai negara
penghasil karbon terbesar, Amerika harus menjadi bagian dari solusi
masalah ini. Dalam soal ekonomi, kita juga akan bekerja sama dengan
Amerika mengatasi berkurangnya cadangan devisa akibat dolar yang
terus menguat.

Indonesia berpotensi besar memainkan semua agenda itu dan
mengegolkannya sesuai dengan keinginan kita. Sebagai negara dengan
jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, misalnya, tidaklah
mustahil Indonesia bisa berperan mendamaikan konflik Palestina-
Israel, juga dalam masalah terorisme. Peluang itu makin terbuka
karena Obama, begitu terpilih sebagai presiden, menjanjikan cara
pandang negerinya yang lebih bersahabat terhadap dunia Islam.

Begitu pula dalam soal ekonomi. Krisis ekonomi telah memaksa Amerika
menjalin kerja sama lebih intensif dengan negara-negara Asia,
termasuk Indonesia. Maka bukan kebetulan bila Hillary memulai
lawatan luar negerinya ke negara-negara Asia lebih dulu, bukan ke
Eropa seperti tradisi para pendahulunya. Sebagai satu di antara
sedikit negara di Asia yang pertumbuhan ekonominya masih positif,
Indonesia merupakan peluang bagi pasar Amerika.

Hanya, semua potensi itu tak ada artinya jika tidak digarap serius
dan cuma berhenti pada seremoni. Lawatan Hillary hanya membuka
peluang. Begitu pula jika kelak Presiden Yudhoyono berkesempatan
bertemu dengan Presiden Obama, yang pernah menghabiskan masa
kecilnya di Jakarta. Bukan pesona yang akan muncul dari pertemuan
itu yang penting, melainkan sejauh mana pemerintah berhasil
mengegolkan kepentingan negeri ini.




This e-mail is confidential and may contain legally privileged information. If 
you are not the intended recipient, you should not copy, distribute, disclose 
or use the information it contains. Please e-mail the sender immediately and 
delete this message from your system. E-mails are susceptible to corruption, 
interception and unauthorized amendment; we do not accept liability for any 
such changes, or for their consequences. You should be aware, that PT TITAN 
Petrokimia Nusantara might monitor your e-mails and their content.

Kirim email ke