Siga ngolebat aya kesan (naon Sundana)..hatos "iman" anu di Sakola..benten
sareng "iman" ti Pak Kyai? Naha ? pan aya UIN, UNiv Alazhar, jrrrd

On 5/8/09, astrajingga hendian <[email protected]> wrote:
>
>
>
> Syukur upami akang gaduh niatan kadinya mah...alhamdulillah. Ngan padah
> iyeu mah saukur ngomadkeun. Dina perkara iman teu bisa keur batur, sabab eta
> mah keur diri urang. Jeung Iman nu diterangkeun eta mah pelajaran urang keur
> disakola, Jeung iman nu aya umumna saukur tuturut munding. Komo deui iman
> ka Gusti Allah.   *Upami akang leres hoyong terang kana perkara IMAN,
> sumangga taroskeun ka kyai-kyai anu tos dugi elmu na. *   Sabab didinya
> aya keterangan  "tah ayeuna koma masing-masing hirup didinya keur didinya
> kuring keur kuring, ngan kuring dina hak iyeu hayang ngabejaan urang sunda
> supaya teu kabawa sukabakaba kabawa ku fikiran jahiliyah gaya modern,"   Komo
> deui upami akang boga niatan sepertos kitu eta mah sae pisan.   Haturnuhun,
> hapunteun dina cariosan anu teu kenging.     Baktos   ari ceuk didinya
> naon iman?
>
> punten teu disundakeun -
> Iman Adalah Kehidupan     Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara
> adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka ini,
> selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan, dan
> kehinaan.
> *{Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
> penghidupan yang sempit.}
> (QS. Thaha: 124)
> *
>     Tak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersibkannya,
> menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain
> keimanan yang benar kepada Allah s.w.t., Rabb semesta alam. Singkatnya,
> kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.
>     Dalam pandangan para pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman,
> cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri. Menurut
> mereka, dengan bunuh diri orang akan terbebas dari segala tekanan,
> kegelapan, dan bencana dalam hidupnya. Betapa malangnya hidup yang miskin
> iman! Dan betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh
> orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akherat kelak!
> *{Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti
> mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Quran) pada permulaannya, dan Kami
> biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat sesat.}
> (QS. Al-An'am: 110)
> *
>     Kini, sudah saatnya dunia menerima dengan tulus ikhlas dan beriman
> dengan sesungguhnya bahwa "tidak ada llah selain Allah". Betapapun,
> pengalaman dan uji coba manusia sepanjang sejarah kehidupan dunia ini dari
> abad ke abad telah membuktikan banyak hal; menyadarkan akal bahwa
> berhala-berhala itu takhayul belaka, kekafiran itu sumber petaka,
> pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya, dan Allah benarbenar
> Sang Pemilik kerajaan bumi dan langit— segala puji bagi Allah dan Dia
> sungguh-sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.
>     Seberapa besar — kuat atau lemah, hangat atau dingin — iman Anda, maka
> sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan Anda.
> *{Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan
> dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
> kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
> dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.}
> (QS. An-Nahl: 97)
> *
>     Maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat ini adalah
> ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati
> mereka dalam mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka
> dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi
> setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani
> ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir. Dan itu semua
> adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah
> Rabb mereka, Islam agama mereka, dan Muhammad adalah nabi dan rasul yang
> diutus Allah untuk mereka.
>
>
>
> *T*iga hal yang akan menjadikan seseorang merasakan manisnya iman, menurut
> sebuha hadits yang bersumber dari Anas ra, adalah:
>
> 1.     Mengutamakan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dari yang
> lainnya;
>
> 2.     Tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan
>
> 3.     Takut akan kembali kepada kekufuran sebagaimana takutnya
> dilemparkan    ke dalam neraka.
>
> Iman dan keyakinan bagi seseorang adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.
> Hidup tanpa iman akan terasa hampa, tiada arti dan makna. Sebab tanpa iman
> seseorang tidak tahu untuk apa dia hidup, mau diapakan kehidupan ini, dan
> bagaimana setelah hidup. Hidup jadi terombang-ambing oleh situasi dan
> keadaan. Ke mana arah angin bertiup ke sanalah mereka pergi.
>
> Oleh karena itu iman adalah sumber ketenangan, sumber kebahagiaan, sumber
> kenikmatan dan kelezatan. Orang yang tak memiliki iman hidupnya dipenuhi
> oleh kegoncangan. Tidak stabil. Kadang bergembira ria, tapi dalam waktu yang
> dekat bersedih hati hingga merana, meratap, menangis, histeris. Saat gembira
> lupa daratan, saat terkena musibah putus asa. Begitulah corak hidup orang
> yang tak memiliki iman.
>
> "*Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah
> dia membelakangi dengan sikap sombong, dan apabila ditimpa kesusahan niscaya
> dia berputus asa.*" (QS. Al-Israa': 83)
>
> Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi dengan iman hidupnya selalu tenang.
> Di saat mendapatkan karunia Allah, tidak lupa daratan, tetap merasakan bahwa
> kenikmatan ini semata-mata dari Allah, karenanya perlu dinikmati, juga
> disyukuri. Jika terkena musibah atau bencana, maka ia tetap menyadari bahwa
> semua ini datangnya dari Allah.
>
> Salah satu ciri dari kehidupan orang yang beriman itu adalah tenang.
> Hidupnya tidak diwarnai dengan kesedihan yang berlebihan, tidak juga
> kegembiraan yang luar biasa. Tetap optimis menghadapi setiap kondisi. Tidak
> lekas putus asa, sebab dia yakin bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu.
> Allah kuasa pula mengubah keadaan sewaktu-waktu. Kekuasaan itu terletak di
> tangan-Nya secara mutlak.
>
> "*Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
> mukmin supaya keimanan mereka bertambah, di samping keimanan mereka (yang
> sudah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah
> Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.*" (QS. Al-Fath: 4)
>
> Anatar iman dan ketenangan punya korelasi yang positip. Jika iman ada,
> ketenangan musti tumbuh. Jika ketenangan tumbuh di hati seseorang, maka iman
> akan semakin bertambah. Pertambahan iman akan menambah ketenangan. Dan
> begitu seterusnya.
>
> Karenanya iman itu pasti dapat dinikmati, bahkan iman adalah kenikmatan
> yang paling tinggi. Tidak ada kenikmatan yang melebihi iman. Tiada kelezatan
> yang mengungguli iman. Karenanya bersyukurlah kita yang telah memiliki iman.
>
> Adalah sesuatu yang tidak wajar bila ada orang yang mengaku beriman, tapi
> hidupnya tidak tenang, tidak merasakan kenikmatan. Orang yang demikian
> mungkin saja beriman secara salah, atau mungkin iman itu belum sampai
> menancap dalam dada. Bibirnya saja yang mengaku beriman, sementara hatinya
> kosong melompong.
>
> Berikut ini ada beberapa amalan utama yang menjadikan seseorang dapat
> merasakan kelezatan iman. Barang siapa yang hatinya dipenuhi dengan
> keutamaan ini, dipastikan dapat merasakan manisnya iman. Ada tiga hal yang
> perlu kita upayakan.
>
>
>
> *Mengutamakan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi yang lain. *
>
> Cinta memang urusan perasaan, tetapi tanda-tandanya nampak dalam perbuatan.
> Mengaku cinta tanpa memberikan bukti nyata, namanya cinta dusta. Bila
> persoalannya dengan sesama manusia, kelanjutannya bisa ke pengadilan. Tetapi
> dalam hubungan dengan Allah, bisa berakibat tertolaknya semua amalan, karena
> disinyalir imannya bukan iman betulan. Bukti cinta di antaranya adalah
> dengan menomorsatukan yang dicintai. Selama belum mengutamakan syariat Allah
> dalam kehidupannya, pengakuan cinta seorang muslim terhadap Allah masih
> diragukan.
>
> Padahal tanpa dilandasi cinta, pelaksanaan ibadah yang penuh pengabdian,
> pengorbanan yang disertai keikhlasan tidak akan pernah terjadi. Tanpa cinta,
> pelaksanaan syariat hanya akan terasa sebagai beban. Ibarat seseorang yang
> harus memberikan pertolongan di saat terjadi kecelakaan, bila si korban
> adalah orang yang dicintai, tentu pengorbanan yang diberikan akan terasa
> lain dibanding bila terhadap orang lain. Begitulah seharusnya membuktikan
> cinta kepada Allah, yakni dengan begitu gembira, dengan penuh semangat
> menyambut segala aturan syariat. Tidak ada yang bisa menghalangi, untuk
> urusan yang menyangkut terlaksananya aturan-aturan Allah dimuka bumi.
>
> Adapun cinta kepada Rasulullah, adalah manifestasi langsung dari kecintaan
> kepada Allah. Karena lewat Rasul-Nya-lah ajaran Allah sampai kepada segenap
> manusia. Dan, Rasulullah adalah syariat Allah yang hidup, yang bisa
> diteladani, ditiru segala sesuatunya. Ajaran-ajaran Islam yang lebih detail,
> tidak selalu termuat di dalam firman Allah, tetapi bisa dicontohkan langsung
> pada kehidupan Rasul. Mencintai Rasulullah adalah juga salah satu bukti
> kecintaan kepada Allah, dan merupakan syarat mutlak bisa terlaksananya
> aturan-aturan syariat.
>
>
> Cinta karena Allah
>
> Setelah menempatkan Allah pada urutan pertama yang dicintai, sangatlah
> wajar bila kelanjutannya adalah mencintai segala sesuatu karena Dia semata.
> Segala hal yang tidak dicintai-Nya harus dibenci. Dan segala sesuatu yang
> menjadi kecintaan-Nya, seharusnyalah dicintai. Sebab, bagaimana bisa
> dikatakan cinta, bila ternyata yang dibenci-Nya itu justru yang menjadi
> kesenangan kita.
>
> Mencintai segala sesuatu karena Allah, tidaklah akan menghalangi manusia
> dari kehidupan yang wajar. Justru itulah cara hidup yang paling alamiah.
> Karena Allah senantiasa menyukai yang baik-baik. Segala sesuatu yang
> dicintai-Nya pasti baik dan membawa manfaat, bahkan bukan hanya untuk
> pribadi melainkan juga untuk masyarakat banyak. Sementara yang dibenci Allah
> adalah sebaliknya, yang tentu saja akan membawa bencana bagi kehidupan
> manusia dan dunia.
>
> Kadang ada orang yang beralasan, secara fitrah ia sudah menyukai kebenaran
> dan segala yang baik-baik. Lalu, dengan gegabah ia menyatakan sudah
> menunjukkan bukti kecintaan kepada Tuhan tanpa harus bersusah payah
> melaksanakan aturannya yang memberatkan. Orang demikian adalah omong kosong,
> karena ia mencintai sesuatu bukan didasarkan pada cintanya kepada Allah
> melainkan pada perasaannya sendiri, pada nafsunya. Nafsunya itulah yang
> menjadi tuhannya. Buktinya, perintah Allah sekalipun, asal dirasa
> memberatkan, tidak akan dilakukan. Inilah justru bukti kekafiran yang paling
> jelas.
>
> Cinta kepada Allah akan melandasi segala tingkah laku seseorang dalam
> bermasyarakat. Memilih sahabat, lingkungan, istri, pekerjaan, pemimpin, dan
> semuanya selalu dilandasi pada kecintaan kepada Allah. Mereka yang termasuk
> dalam kategori orang yang dibenci Allah, tidak akan diambil menjadi orang
> dekat, apalagi dipentingkan.
>
> *  *
>
> *Takut kembali kepada kekufuran *
>
> Begitu menjadi muslim, kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada
> kejahiliyahan, selamat tinggal tradisi lama, selamat tinggal segala yang
> berbau budaya jahiliyah. Kita kubur dalam-dalam masa silam. Kini yang ada
> hanya Islam. Kita mulai sejarah baru, hidup baru, ketentuan baru dan
> segalanya yang serba baru.
>
> Tak perlu ragu-ragu, sebab kita yakin Islamlah yang akan mengantar kepada
> kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita mungkin satu saat bisa mengharapkan
> keuntungan besar dari bisnis yang kita lakukan. Tetapi apalah gunanya bila
> itu tidak bisa menolong nasib kita di akhirat?
>
> Untuk bisa berbisnis, berbuat, berkarya, mengajarkan ilmu, mendidik dan
> lain-lain dengan sukses sekaligus punya arti untuk kehidupan akhirat,
> Islamkan dulu perilaku kita. Tinggalkan kehidupan jahili selekas-lekasnya,
> dan jangan kembali lagi. Takutlah kepada kekufuran sebagaimana takutnya kita
> dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
> Di samping sebagai bukti cinta, sikap meninggalkan kekufuran itu juga akan
> menjadikan kita mampu merasakan manisnya iman. Artinya, kita justru merasa
> bahagia, beruntung, senang, dengan meninggalkannya. Selama kita masih merasa
> eman meninggalkan kekufuran, maka cinta kita kepada Allah belum tulus. Dan,
> itu akan mempengaruhi perasaan kita, yang justru merasa tertekan dengan
> segala atribut Islam.
>
>
> tah ayeuna koma masing-masing hirup didinya keur didinya kuring keur
> kuring, ngan kuring dina hak iyeu hayang ngabejaan urang sunda supaya teu
> kabawa sukabakaba kabawa ku fikiran jahiliyah gaya modern,
>
> cag....
> Benerna ti gusti Allah swt
> salahna ti Agus Pakusarakan
>
>
>
> 2009/4/29 astrajingga hendian <astrajingga19@ 
> yahoo.com<http://id.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>
>>    Emang nu disebut iman teh nu kumaha kang???
>> Jeung siga kumaha iman teh kang???
>>
>
> ------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! 
> Indonesia<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.yahoo.com/>yang
>  baru!
>
>  
>

Kirim email ke