DPRD Jabar Tolak Anggaran Film Bubat

BANDUNG, (PR).-
Anggaran pendidikan dan kesehatan dalam APBD Jabar 2010 mendapat
catatan dan perhatian dari sejumlah fraksi yang ada di DPRD Jabar.
Anggaran pendidikan yang hanya mencapai enam belas persen dari APBD
Jabar 2010 dinilai tidak sesuai dengan aturan konstitusi yang
mensyaratkan dua puluh persen.

Selain itu, dewan juga menolak anggaran pembuatan film "Perang Bubat"
senilai Rp 6 miliar. Penolakan itu disampaikan oleh Badan Anggaran
DPRD Jabar.

Masalah tersebut mengemuka dalam rapat paripurna DPRD Jabar tentang
penetapan APBD Jabar 2010 yang dipimpin oleh Irvan Suryanagara. Hingga
berita ini diturunkan, rapat masih berlangsung dan baru mendengarkan
pemandangan dari tujuh fraksi, PD, PDIP, PKS, Golkar, PPP, Gerindra.
Sementara Fraksi PAN dan Fraksi Gabungan PKB-Hanura masih belum
menyampaikan pemandangannya atas RAPBN yang diajukan Pemprov Jabar.

Rapat paripurna dihadiri para Wakil Ketua DPRD Jabar, yaitu Rudy
Harsatanaya, Uu Rukmana, Nur Suprianto, Komarudin Taher. Sementara
dari pihak eksekutif dihadiri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan para
kadis yang ada di Pemprov Jabar.

Fraksi PDIP melalui jubirnya Heri Mei Oloan mengatakan, seharusnya
anggaran pendidikan dua puluh persen dari APBD sesuai dengan amanat
konstitusi.

"Anggaran yang kurang dari dua puluh persen dikhawatirkan tidak akan
cukup meningkatkan mutu dan layanan pendidikan di Jabar," katanya.

Hal senada juga dikatakan Achdad Sudrajad dari Fraksi PD. Selain
menyoroti anggaran pendidikan yang masih di bawah amanat konstitusi
itu, ia juga menitikberatkan perhatian pada bidang kesehatan.
Seharusnya, anggaran bidang kesehatan di APBD Jabar sepuluh persen,
tetapi dalam APBD 2010 belum sampai lima persen. Jika anggaran
kesehatan tidak sampai lima persen, dikhawatirkan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat tidak akan maksimal.

Di bidang ketenagakerjaan, APBD 2010 baru mampu memberikan kesempatan
lapangan kerja kepada 58.000 orang. Sementara dalam catatan FPDIP
seharusnya bisa mencakup 175.000 orang.

Pemprov diminta menjamin keberlangsungan investasi, kepastian hukum
dan kemudahan regulasi bagi calon investor. Tanpa hal itu, investor
enggan mengembangkan usahannya di Jabar.

Rapat paripurna DPRD Jabar semalam adalah untuk menetapkan APBD Jabar
tahun 2010. RAPBD dirancang terdiri atas rencana pendapatan Rp 7,736
triliun atau naik 9,1 persen dibandingkan dengan 2009. Pendapatan asli
daerah direncanakan Rp 5,622 triliun atau naik 10,26 persen. Dana
perimbangan Rp 2,105 triliun atau naik 7,5 persen. Lain-lain
pendapatan daerah yang sah Rp 8,285 miliar atau turun 7,84 persen.

Pengeluaran belanja daerah Rp 9,814 triliun atau naik 5,72 persen.
Belanja tidak langsung Rp 6,767 triliun atau naik 9,73 persen. Belanja
langsung Rp 3,47 triliun atau turun 2,2 persen. Jika RAPBD ini
disetujui menjadi APBD 2010, terjadi defisit Rp 2 triliun. Berdasarkan
laporan badan anggaran DPRD Jabar, defisit akan ditutup oleh sisa
lebih penggunaan APBD 2009 senilai Rp 2 triliun. (A-132)***
Web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=117775

Kirim email ke