Saya senang juga kalau kisah tentang perang bubat itu di filmkan dilayar lebar. 
munkgin saya orang yang beli karcis pertamanya. Soalnya saya juga sudah baja 
buku sastra tentang perang bubat versi Sunda maupun Jawa.

Bila benar, saya berharap dengan munculnya film itu, bukan untuk memunculkan 
sentimen baru kedaerahan, tetapi lebih dri hanya sekedar fil sastra yang menrik 
untuk dikisahkan.

tkuuu

--- On Wed, 1/6/10, mh <[email protected]> wrote:

From: mh <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] Film BUBAT?
To: "Ki Sunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" 
<[email protected]>, "Urang Sunda" <[email protected]>
Date: Wednesday, January 6, 2010, 5:14 AM







 



  


    
      
      
      Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?



Siapa pun, terutama orang Sunda, sepakat bahwa Tragedi Bubat merupakan

peristiwa sejarah yang sangat menarik, bukan hanya dari sudut pandang

sejarah, melainkan juga sastra. Apalagi, jika diangkat ke layar lebar,

lebih seru. Dari sisi sejarah menarik karena faktanya melibatkan dua

kerajaan besar di nusantara yang berkembang pada abad ke-14, yakni

Kerajaan Galuh di tatar Sunda dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Dari sudut sastra, peristiwa itu dapat dikemas sedemikian rupa menjadi

cerita yang menguras emosi, antara percintaan, romantisme, harga diri,

dan tragedi.



Banyak sekali penulis yang mengabadikan peristiwa ini sejak abad ke-15

hingga saat ini. Beberapa naskah yang menceritakan tragedi ini dengan

sebutan Perang Bubat dan dalam versinya masing-masing, seperti Kitab

Pararaton dan Kidung Sundayana, serta naskah-naskah Pustaka

Wangsakerta.



Sementara itu, di dalam Naskah Negara Kretagama atau Desawarnana karya

Mpu Prapanca, peristiwa itu tidak tercatat dengan jelas. Saya menduga,

tentu saja penulis istana Majapahit tidak akan mencatat peristiwa yang

telah mencoreng nama baik raja, mahapatih, dan negerinya sendiri ke

dalam dokumentasi resmi kerajaannya.



Saat ini, banyak sekali karya sastra yang menggambarkan Tragedi Bubat,

yang lebih banyak mengekspresikan reka peristiwa dengan penafsiran

penulis disertai keindahan nilai sastra. Sebut saja Kang Yoseph

Iskandar. Ia menulis dengan tuturan yang pro Sunda mengenai "Perang

Bubat" di majalah Mangle sekitar tahun 1987. Baru-baru ini, Aan

Merdeka Permana menulis buku dengan judul Perang Bubat: Tragedi di

Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.



Melihat judulnya saja, tentu ada sisi lain yang diangkat penulis,

yakni "rekaan" baru adanya percintaan antara Gajah Mada dan Dyah

Pitaloka, sebelum Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Dyah Pitaloka. Gajah

Mada, dinisbatkan ke dalam tokoh Ramada, seorang pegawai rendahan di

Keraton Kerajaan Galuh, lalu mengembara dan pada kemudian hari menjadi

Mahapatih Kerajaan Majapahit dengan nama Gajah Mada. Kebenarannya?

Wallahu a’lam.



Langit Kresna Hariadi menulis buku yang berjudul Gajah Mada: Perang

Bubat. Sementara Hermawan Aksa menulis khusus tentang Dyah Pitaloka

dengan judul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit. Tentu saja,

para penulis ini tidak akan berani menyebut karyanya sebagai karya

sejarah. Lebih tepat karya sastra yang berlatar belakang tokoh

sejarah, bukan peristiwa sejarah.



Denting pedang, cinta, tragedi



Tidak dapat dimungkiri bahwa Tragedi Bubat merupakan salah satu

episode sejarah yang sangat penting, berkesan, menguras emosi, dan

menjadi bagian dari sejarah tatar Sunda.



Kisah ini, selain berisi peristiwa tragis yang menyisakan luka teramat

dalam dan dendam sejarah bagi orang Sunda, sekaligus juga mengakhiri

karier gemilang dari seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang

monumental, Gajah Mada. Dari berbagai versi yang muncul tentang

tragedi ini, saya ingin mengetengahkan versi yang paling banyak

diceritakan dalam berbagai naskah dan karya sastra hingga saat ini,

yang juga dengan mudah dapat ditemukan di berbagai situs web di

internet.



Tragedi Bubat adalah tragedi yang tragis antara Kerajaan Galuh dan

Kerajaaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14. Saya tidak berani

menyebut angka tahun dengan pasti, mengingat terdapat beberapa angka

tahun yang variatif, ada yang menyebut peristiwa itu terjadi pada

tahun 1350, 1357, hingga 1360. Yang jelas, peristiwa ini terjadi pada

masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana yang bertahta di Kerajaan

Galuh dan Prabu Hayam Wuruk yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. Tokoh

sentral dalam peristiwa ini, yaitu Dyah Pitaloka (putri cantik

Kerajaan Galuh), Hayam Wuruk, dan Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit.

Gajah Mada saat itu sedang gencar-gencarnya mewujudkan sumpahnya

sendiri, Sumpah Palapa.



Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin

mempersunting Putri Dyah Pitaloka yang juga dikenal dengan panggilan

Citraresmi. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri cantik ini setelah

melihat lukisan sang putri yang dilukis secara diam-diam oleh seorang

seniman terkenal saat itu, Sungging Prabangkara.



Selain itu, ada niat lain dari Hayam Wuruk, yakni untuk mempererat

tali persaudaraan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh di

tatar Sunda. Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka

tanpa menimbulkan hambatan yang berarti. Keluarga Kerajaan Majapahit

menyadari bahwa pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya, juga berasal

dari tanah Sunda.



Hayam Wuruk mengirim surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana

untuk melamar Dyah Pitaloka dan menghendaki upacara pernikahannya

dilangsungkan di Keraton Majapahit. Sesungguhnya, dengan mudah dapat

dipahami jika dewan kerajaan negeri Sunda keberatan --bukan pada

lamarannya, melainkan pada pesta pernikahan yang diminta dilangsungkan

di Majapahit.



Hyang Bunisora Suradipati, sang Mangkubumi Kerajaan Galuh,

berpendapat, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang ke pihak

pengantin lelaki. Sesuatu yang dianggap melanggar tradisi yang berlaku

di tanah Sunda saat itu. Bisa juga, Hyang Bunisora, yang dianggap

luhung elmu pangaweruh, berprasangka, jangan-jangan keinginan Hayam

Wuruk merupakan strategi menjebak Kerajaan Sunda agar takluk di bawah

kekuasaannya.



Hubungan antara Kerajaan Galuh dan Majapahit saat itu, sesungguhnya

berjalan baik dan relatif erat. Apalagi, rasa persaudaraan di antara

kedua kerajaan itu sudah ada dari garis leluhurnya. Oleh karena itu,

Maharaja Linggabuana tidak terlalu risau terhadap berbagai prasangka.

Dengan kharisma dan wibawa sang raja yang sangat besar, ia memutuskan

untuk berangkat ke Majapahit untuk memenuhi harapan Hayam Wuruk.



Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama putri kesayangannya, Dyah

Pitaloka, beserta rombongan terbatas ke Majapahit. Perjalanan yang

cukup jauh, dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, tentu bukan

perkara mudah. Dari Kawali ke Cirebon, lalu berlayar ke ujung timur

Pulau Jawa. Tiba di Majapahit, para tamu agung Kerajaan Galuh itu

ditempatkan di Pesanggrahan Bubat --yang sampai sekarang Bubat, masih

dalam perdebatan, apakah di Trowulan atau di tempat lain. Mahapatih

Gajah Mada dengan senang hati menerima kedatangan rombongan calon

pengantin rajanya --lepas dari kisah cinta rekaan Aan Merdeka Permana

antara Gajah Mada ketika muda dan Dyah Pitaloka.



Kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat tiba-tiba mengusik

niat licik Gajah Mada. Bagaimanapun, sumpahnya di hadapan sang Raja

untuk menguasai nusantara harus terlaksana. Negara-negara yang berada

jauh di ujung barat yang terbentang hingga Tumasik (Singapura) telah

tunduk di bawah kekuasaannya. Demikian pula kerajaan-kerajaan yang

terbentang jauh ke timur hingga Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara Barat,

juga dengan mudah menyerah. Namun, mengapa Kerajaan Galuh yang hanya

sepenggalan dari Kerajaan Majapahit tak dapat ditaklukkan? Kita dapat

membayangkan kegalauan hati sang Mahapatih.



Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Maharaja

Linggabuana menolak tekanan itu. Untung tak dapat diraih, malang tak

dapat ditolak. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang. Mahapatih

Gajah Mada dengan pasukan bersenjata lengkap, berjumlah besar, dan

para bhayangkara yang tangguh, berhadapan dengan Maharaja Linggabuana

dengan pasukan pengiring calon pengantin yang berjumlah sedikit dan

tidak membawa persenjataan untuk perang, kecuali aksesori untuk

kawinan. Namun, heroisme Ki Sunda ditunjukkan hingga titik darah

penghabisan.



Dapat dibayangkan, pertempuran yang tidak seimbang itu tentu berakhir

dengan tragis. Denting pedang, keris, dan kujang, serta romantisme

cinta dan tragedi dramatis menghiasi episode senja di tanah Bubat itu.

Maharaja Linggabuana gugur bersama para menteri dan pejabat

kerajaannya yang setia. Sang calon pengantin, Dyah Pitaloka, juga

menemui ajalnya. Terdapat versi yang berbeda tentang wafatnya Dyah

Pitaloka. Ada yang menyebut gugur karena bertempur dengan pasukan

Majapahit, ada pula yang lebih tragis menggambarkannya dengan bunuh

diri, mempertahankan harga diri dan kehormatan kerajaan. Cerita lain

yang lebih heroik, Dyah Pytaloka berduel dengan Gajah Mada meskipun

akhirnya gugur. Sang putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan

keris Singa Barong berlekuk 13. Keris leluhur Pasundan peninggalan

pendiri Kerajaan Tarumanegara yang bernama Prabu Jayasinga Warman.

Syahdan, akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak bisa

disembuhkan hingga meninggal dunia.



Dendam sejarah yang amat mendalam di kalangan kerabat negeri Sunda

hingga rakyat jelata, tertanam dalam memori kolektif selama

berabad-abad. Saya lebih suka menyebut peristiwa itu dengan "Tragedi

Bubat", bukan "Perang Bubat". Karena fakta yang terjadi, bukan perang

antara pasukan dua kerajaan besar, melainkan tragedi antara sekelompok

pengiring pengantin yang terlibat kesalahpahaman dan Mahapahatih

Kerajaan Majapahit!. Akibat dari tragedi ini, tertanam larangan adat,

Esti larangan ti kaluaran (tidak boleh menikah dari luar lingkungan

kerabat Sunda). Dalam arti lain, dilarang menikah dengan orang Jawa.

Bahkan, sejak 64 tahun merdeka, di tanah Sunda tidak ditemukan Jalan

Hayam Wuruk dan Gajah Mada.



Hemat saya, rencana Pemprov Jawa Barat untuk membuat film kolosal

"Perang Bubat" dengan anggaran Rp 6 miliar dari APBD, untuk saat ini,

kurang tepat. Lebih baik dana itu digunakan untuk rehabilitasi

infrastruktur korban gempa bumi, perbaikan sarana pendidikan,

peningkatan kesejahteraan rakyat, atau pembenahan destinasi pariwisata

yang lebih bermanfaat. Lain waktu, mungkin saja. Kita tunggu tanggal

mainnya! (Prof. Dr. H. Dadan Wildan, Staf Ahli Menteri Sekretaris

Negara RI)***



Web: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade 
tail&id=119874



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke