Kamari tanggal 3 Februari UI jeung Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) 
ngiketkeun gawebareng dina perkara atikan, panalungtikan jeung pengabdian pada 
masyarakat. Tah, dina pidatona teh Sofyan Wanandi (gegedug APINDO) netelakeun, 
yen Indonesia sataun kahareup geus kudu boga standarisasi dina perkara 
ngasupkeun barang jeung produk ti luar, utamana mah ti China. Sahingga 
barang-barang anu kualitasna goreng patut heunteu bisa asup ka Indonesia. Sabab 
barang-barang ti China asup ka Indonesia ampir teu aya hahalangna, 
barang-barang anu kualitasna amburadul oge mahabu minuhan pasar di Indonesia. 
Sofyan Wanandi mere conto, hp black berry (bb) anu asli hargana 4-5 jutaan. 
Tapi china bisa nyieun hp bb anu hargana 450 rebu. Ari konsumen mah pan teu 
nyaho nanaon, nu penting mah boga hp anu fasilitasna siga bb. Perkara 3 bulan 
terus rusak mah, teu jadi pipikiran pangusaha china. Tah ku ayana kitu, penting 
pisan upama paguron luhur ngabantuan APINDO nyieun
 standarisasi pikeun nyaliksik barang-barang anu asup ka Indonesia. Salian ti 
ngajaga mutu, oge supaya produk lokal heunteu kagiles ku barang-barang china. 
Ngan sataun wates pikeun nyieun standarisasi. Liwat ti waktu eta, nya urang 
kudu siap-siap narima barang "kacangan" ti luar.


baktos,

mrachmatrawyani




________________________________
From: mh <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]>; Baraya Sunda <[email protected]>
Sent: Fri, February 5, 2010 8:42:09 AM
Subject: [Urang Sunda] Tatanen - Binih Pare Ge Impor Geuning?

  
Benih Pun Impor dari China
PT Sang Hyang Seri Butuh Lima Tahun Lagi

Jumat, 5 Februari 2010 | 04:47 WIB

Jakarta, Kompas - Hingga kini Indonesia masih bergantung pada impor
induk benih padi hibrida dari China. Ini semakin membuat Indonesia
ketinggalan dari China dalam produksi padi hibrida. China telah
melakukan komersialisasi benih padi hibrida lebih dari 33 tahun lalu.

Jika ketertinggalan ini terus terjadi tanpa ada upaya mengatasi, saat
beras masuk Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China tahun 2015,
serbuan beras murah dari China sulit dibendung.

Menurut Menteri Pertanian Suswono, ketertinggalan itu harus diatasi
dengan meningkatkan produktivitas padi. Untuk itu, harus dihasilkan
benih padi unggul. ”Kita akan mendorong para peneliti di Kementerian
Pertanian menyiapkan semua itu (memproduksi benih unggul) agar pada
2015 tidak terjadi masalah besar bagi Indonesia,” kata Suswono di
Jakarta, Kamis (4/2).

Ia menjanjikan akan memberikan dukungan sarana, prasarana, dan
fasilitas penelitian agar peneliti di Indonesia bisa bersaing. Dengan
demikian, Indonesia tidak lagi bergantung pada induk benih padi
hibrida impor.

Direktur Penelitian dan Pengembangan PT Sang Hyang Seri Nizwar
Syafa’at menyatakan, perusahaannya mulai mengembangkan pejantan mandul
untuk pengembangan benih padi hibrida. ”Kami harap, 4-5 tahun lagi
sudah mampu menghasilkan pejantan mandul sendiri,” ujarnya.

Sampai saat ini, lanjutnya, belum ada satu pun lembaga penelitian di
Indonesia yang mampu menciptakan pejantan mandul sendiri dengan
produktivitas tinggi. ”Produsen benih padi Indonesia mengimpor
pejantan mandul (betina), lalu mengawinkan dengan pejantan lokal yang
sudah adaptif dengan kondisi lingkungan di sini,” kata Nizwar.

Berbeda dengan pengembangan benih padi konvensional atau inbrida,
pengembangan benih padi hibrida memerlukan proses yang relatif lama.

Proses pengembangan benih padi hibrida membutuhkan pejantan mandul
agar memperoleh kemurnian dalam persilangan. Perbanyakan pejantan
mandul dilakukan dengan menyilangkan induk yang memiliki sifat yang
sama. Hasil persilangan ini diperlukan sebagai tetua betina. Setelah
dikawinkan dengan restorer atau formula atau pejantan, dihasilkan
benih padi hibrida F1 yang siap ditanam petani.

PT Sang Hyang Seri saat ini mampu menghasilkan berbagai varietas padi
hibrida, seperti SL-8 dengan produktivitas 12 ton gabah kering panen
per hektar.

Nizwar menegaskan, hingga kini belum ada produsen benih padi hibrida
di Indonesia yang mampu memproduksi benih padi hibrida dengan
produktivitas 2 ton per hektar. ”Jika produktivitas benih di bawah 2
ton, nilai keekonomiannya belum tercapai,” tuturnya.

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian
menunjukkan, sejak 2002 Balitbang Pertanian menghasilkan tujuh
varietas padi hibrida, yakni Galur CMS A1, Galur CMS A2, Galur
Restorer R 17, Galur Restorer R 32, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, dan IR
8025A/BR827- 35. Namun, produktivitas varietas-varietas itu masih kalah
dibandingkan dengan varietas yang dimiliki China.

Daya saing harga

Menurut Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, persaingan paling
berat dengan China tahun 2015 terkait komoditas beras adalah pada daya
saing harga dan efisiensi biaya produksi. ”Karena itu, produktivitas
padi menjadi penting,” kata Bayu.

Dia menjelaskan, China yang beriklim subtropis memang lebih sedikit
menghadapi serangan hama penyakit karena suhunya lebih dingin.
”Tetapi, kita punya ruang lain, yakni memiliki keragaman jenis padi,”
ujarnya.

Oleh karena itu, usaha yang harus dilakukan adalah mengajak konsumen
untuk lebih menyukai jenis-jenis beras tertentu yang dikembangkan di
dalam negeri.

”Mengajak konsumen beras lokal agar seperti konsumen beras di Jepang,
India, dan Timur Tengah yang lebih menyukai beras khusus, baik aroma,
jenis, maupun rasa. Selain itu, diversifikasi konsumsi beras menjadi
penting meski efisiensi produksi dan peningkatan produktivitas juga
prioritas,” tutur Bayu.

Guna mendukung program kerja 100 hari, Kementerian Pertanian
menyediakan benih padi umur pendek. Tiga jenis benih dasar padi
varietas unggul yang dibagikan adalah Inpari 1, Silugonggo, dan
Dodokan sebanyak 20 ton untuk sembilan provinsi penghasil utama beras.
Provinsi itu antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten,
Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan
Sulawesi Selatan. (MAS)

Web: http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2010/02/05/ 0447201/benih. pun.impor. 
dari.china.

 


      

Kirim email ke