Eddy Djamaluddin Suaidy, Pencetus Kampung 99 Pepohonan 

Hidup Berkelompok, Penuhi Kebutuhan secara Mandiri 

Awalnya Kampung 99 Pepohonan atau disebut Kampung Rusa adalah tempat hunian 
pribadi. Ada sepuluh keluarga yang hidup berkelompok dengan mempraktikkan 
Alquran dan hadis di sana. Tak disangka, kampung berkonsep back to nature itu 
kini menjadi jujukan wisata alam.

FAROUK ARNAZ, Depok, Jawa Barat 

Tak sulit mencapai Kampung 99 Pepohonan yang secara administratif berada di Jl 
KH Muhasan II, Meruyung, Limo, Depok, atau seberang Masjid Kubah Mas Dian Al 
Mahri. Kampung yang terletak pada koordinat bumi di S 6.3856553? dan E 
106.767293? atau sekitar 25 kilometer selatan pusat kota Jakarta itu berada 
pada ketinggian 60 meter dari permukaan air laut. Di sana angin menerbangkan 
wangi harum rumput.

Luasnya 5 hektare persegi. Di utara yang letaknya lebih tinggi terdapat sungai 
kecil yang merupakan daerah aliran sungai (DAS), sedangkan di selatan (di 
bawah) mengalir Sungai Pesanggrahan. Aliran dari DAS itu disalurkan ke beberapa 
selokan kecil mengelilingi Kampung 99 dan menimbulkan bunyi gemericik.

Di barat dan timur terdapat perkampungan penduduk yang telah lama ada. Tak ada 
pagar eksklusif yang membatasi penghuni Kampung 99 dengan dunia luar. ''Siapa 
pun boleh datang ke sini. Sekadar menginap atau bahkan tinggal menetap jika 
memang satu visi dan misi,'' kata Edi Djamaludin Suaidy yang akrab disapa Abi 
saat ditemui pada Sabtu lalu (13/9).

Ayah tiga anak kelahiran Jogjakarta 58 tahun lalu itu adalah tetua kampung. 
Dialah yang pertama mencetuskan konsep hidup bersama. ''Hidup itu kan teorinya 
dari (surat) Al Fatihah sampai An-nas, sedangkan praktiknya dari (ayat) iqra 
sampai dengan malam ya'lam. Ada wahyu, tempat, dan kegiatan. Inilah scope kecil 
yang kami lakukan di sini," kata lulusan arkeologi Universitas Indonesia itu.

Pada 1989, setelah tiga tahun mundur dari PT Jasa Marga, tempatnya bekerja, dan 
asyik menjalankan hobi merawat dan jual beli kendaraan antik, Edi pun 
memutuskan membeli 500 meter tanah di kawasan Jl KH Muhasan II itu. Itulah 
cikal bakal Kampung 99. ''Saya juga ingin meneruskan perjuangan abi (ayah) 
saya, mendiang H M. Saleh Suadiy," tambahnya. 

Ayahnya, asli Padang, berpulang pada 1976 setelah malang melintang di dunia 
pendidikan agama. ''Saya terkenang cerita ayah saat hidup di madrasah Al Islah, 
Bangkalan, Madura,'' imbuhnya. Dari Madura pula, ibu Edi, Siti Muryati, berasal.

Konsep keluarga besar yang memenuhi kebutuhan bersama-sama dan gotong royong 
itulah yang dikembangkan Edi di Kampung 99. Sepuluh keluarga yang hidup bersama 
dengan total 70 orang warga itu bukan hanya saudara sekandung. Tapi, ada adik 
ipar, keponakan, teman kampung ayahnya dulu, hingga orang lain yang benar-benar 
tak ada hubungan darah dengannya. Kesepuluh keluarga itu hidup di rumah 
masing-masing yang saling berdekatan. Rumah-rumah itu dibangun dengan kayu dan 
gaya yang alamiah. 

Mereka secara maksimal mencukupi kebutuhan sendiri. Misalnya, menanam padi dan 
sayur organik, berkebun buah-buahan, beternak kambing dan sapi, serta 
perikanan. ''Untuk memasak, kami tidak menggunakan gas, tapi dengan kayu yang 
kami dapatkan dari ranting yang hanyut di sungai,'' tambahnya. 

Selain memenuhi kebutuhan sendiri, mereka melakukan pembagian kerja. Misalnya, 
ada yang kebagian memasak untuk ke sepuluh keluarga, ada yang kebagian mencuci 
pakaian, hingga ada yang kebagian merawat hewan dan tanaman. ''Dengan cara ini, 
kami bisa hidup hemat. Dalam sehari, sekitar 60 kilogram beras yang dimasak,'' 
tambahnya.

Lalu, bagaimana jika timbul masalah di antara warga? Umi Santi -setiap suami di 
sana disebut abi dan istri disebut umi- menjawab, ''Di komunitas ini ada yang 
namanya forum. Itulah pertemuan tertinggi yang digelar setiap dua pekan untuk 
memutuskan apa pun secara bersama-sama.'' 

Umi Santi adalah keponakan Edi yang awalnya tidak tinggal di sana. ''Setelah 
tahu enaknya tinggal di sini, udara bersih, dan anak-anak bisa bermain, kami 
putuskan pindah ke sini,'' kata Umi Santi, yang sebelumnya menjadi dosen.

Konsep hidup bersama di tempat yang menarik itulah yang akhirnya memancing 
orang luar untuk ikut merasakan. Itu dimulai pada 2005, saat secara kebetulan 
seorang kepala TK di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, mampir ketika paman 
Umi Santi menggelar pesta pernikahan. ''Bapak kepala sekolah itu lalu mengajak 
anak TK-nya untuk outbound di sini. Sejak itu, kami juga membuka diri untuk 
berbagi dengan sesama,'' tambahnya. Rumah-rumah milik keluarga itu pun mulai 
disewakan.

Kini berbagai kegiatan digelar untuk anak-anak di sana. Misalnya, 
berjalan-jalan mengenal tumbuh-tumbuhan, menanam pohon, memanen padi dan sayur, 
memberi makan rusa dan ternak (kambing, domba, sapi, kerbau), menangkap ikan, 
memandikan kerbau, dan membajak sawah. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan 
anak-anak kota di belantara hutan beton Jakarta. 

Nama Kampung 99 Pepohonan diambil dari banyaknya pohon jati putih (gmelina 
arborea) yang ditanam anak-anak. Pemasukan pun mengalir.

''Hingga akhirnya, banyak yang berhenti dari aktivitas semula dan berkosentrasi 
untuk hidup di sini. Contohnya, Aisyah (manajer restoran, Red). Dia dulu 
dubber,'' sambung Abi. 

Pemasukan pun didistribusikan dengan persentase yang telah disetujui bersama 
oleh seluruh anggota keluarga setelah dikurangi pengeluaran, seperti biaya 
listrik sekitar Rp 4 juta per bulan. Jika satu anggota keluarga ada pengeluaran 
khusus, seperti melahirkan atau hendak menyekolahkan anak, persentase itu 
ditambah dan anggota keluarga yang lain juga tidak berkeberatan. Semua 
dibicarakan bersama secara demokratis tanpa otokrasi.

Bagi Abi, apa yang dilakukan itu bukan untuk mengisi akhir masa tua, tapi 
justru sebagai hadiah bagi anak cucunya. ''Ini bukan sok pamer. Tapi, kami 
semua sanggup melakukan karena dimulai dari tekad. Dari yang hanya ndelok 
(melihat sekilas) menjadi niteni (mencermati). Juga dari kemauan dari semua 
kepala keluarga di sini untuk berhenti merokok,'' tegasnya. Asap rokok menjadi 
barang langka yang sulit ditemui di sana. 

Tekad itu kini berwujud aset miliaran rupiah dan akan terus berkembang. 
Apalagi, pemerintah setempat telah memasukkan kampung itu sebagai kawasan 
wisata dan membuka kantor dinas pariwisatanya di sana. (nw)
  ----- Original Message ----- 
  From: Suparman 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, September 15, 2008 2:38 PM
  Subject: [Wismamas] Hemat BBM



  Info



  Silahkan baca2 http://www.akashu.info

  Benar2 terbukti



  Suparman

  B3-18


   

  __________ NOD32 3440 (20080913) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke