Ha...ha...ha.........

Dimana2 PIC beginian harus Pak Rudi


Lha di Kampung 99 live nya band Roling Stone ...
Ya pada ngantuk
Coba kalau Didi kempot.

Tapi penerapan Hidup bersama model seperti Kampung 99 harus kita pelajari juga

kalai2 ada yang bisa diterapkan di Wisma Mas

Biar kompak dan ngak saling mendukung

Salam Mudik
----- Original Message ----- 
  From: Toto Rahayu 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, September 16, 2008 9:45 AM
  Subject: RE: [Wismamas] Re: kampung 99



  wah ini tipical orang kita banget, kalo ada ide langsung disuruh jadi PIC, 
kayak gak ada ide lain aja.....hehehe.. 


------------------------------------------------------------------------------

  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of AyahRavi
  Sent: Tuesday, September 16, 2008 9:41 AM
  To: [email protected]
  Subject: RE: [Wismamas] Re: kampung 99


        Yo wis...
        Pak Toto PIC-nya deh....
        Pasti banyak yang ikuttt...
        Brangkatttt.....murah meriah nih...

        Campur sari..??? bener nih..."Nguri-uri kabudayan Jawi" kekekekkekkekek
        Ayo Pak..kapan....???





        --- On Mon, 9/15/08, Toto Rahayu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: Toto Rahayu <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: RE: [Wismamas] Re: kampung 99
          To: [email protected]
          Date: Monday, September 15, 2008, 9:51 PM


          puasa-puasa kesana enak kali ya...buka di kampung 99 terus sholat 
taroweh di Masjid Kubah Emas terus malemnya dengerin campur sari di kampung 99 
sambil minum copi....
          Ayo diatur kapan waktunya.... .


           

----------------------------------------------------------------------
          From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:wismamas@ yahoogroups. com] On 
Behalf Of M ALI MASHUDI
          Sent: Tuesday, September 16, 2008 8:48 AM
          To: [EMAIL PROTECTED] s.com
          Subject: [Wismamas] Re: kampung 99


          dugem liat live music makan pisgor+kupi, sambil pura2nya kita mengerti
          lagu yang mereka bawakan... lutu deh aku request campursari mereka
          nggak bisa..ha..ha. ..--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, AyahRavi
          <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
          >
          > Kami (blok C) dulu udah pernah kesini Pak..
          > Survei waktu mau camping (2 tahun yg lalu)...
          > Emang mantep tenan..deket dengan rumah kita...masup liwat depan
          mesjid Kubah Mas...
          > Pak Rudi masih kok contact2an.. kebetulan ownernya temen sekolah pak
          Rudi...
          > Â 
          > Pak Wisnu juga udah pernah kan.>??
          > Dugem dimari hehhehehehe
          > Â 
          > Salam,
          > C2/3
          > 
          > 
          > Â 
          > 
          > --- On Mon, 9/15/08, wisnu sambhoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          > 
          > From: wisnu sambhoro <[EMAIL PROTECTED]>
          > Subject: [Wismamas] kampung 99
          > To: [EMAIL PROTECTED] s.com
          > Date: Monday, September 15, 2008, 5:06 AM
          > 
          > 
          > 
          > 
          > 
          > 
          > 
          > 
          > Eddy Djamaluddin Suaidy, Pencetus Kampung 99 Pepohonan 
          > 
          > Hidup Berkelompok, Penuhi Kebutuhan secara Mandiri 
          > 
          > Awalnya Kampung 99 Pepohonan atau disebut Kampung Rusa adalah tempat
          hunian pribadi. Ada sepuluh keluarga yang hidup berkelompok dengan
          mempraktikkan Alquran dan hadis di sana. Tak disangka, kampung
          berkonsep back to nature itu kini menjadi jujukan wisata alam.
          > 
          > FAROUK ARNAZ, Depok, Jawa Barat 
          > 
          > Tak sulit mencapai Kampung 99 Pepohonan yang secara administratif
          berada di Jl KH Muhasan II, Meruyung, Limo, Depok, atau seberang
          Masjid Kubah Mas Dian Al Mahri. Kampung yang terletak pada koordinat
          bumi di S 6.3856553� dan E 106.767293� atau sekitar 25 kilometer
          selatan pusat kota Jakarta itu berada pada ketinggian 60 meter dari
          permukaan air laut. Di sana angin menerbangkan wangi harum rumput.
          > 
          > Luasnya 5 hektare persegi. Di utara yang letaknya lebih tinggi
          terdapat sungai kecil yang merupakan daerah aliran sungai (DAS),
          sedangkan di selatan (di bawah) mengalir Sungai Pesanggrahan. Aliran
          dari DAS itu disalurkan ke beberapa selokan kecil mengelilingi Kampung
          99 dan menimbulkan bunyi gemericik.
          > 
          > Di barat dan timur terdapat perkampungan penduduk yang telah lama
          ada. Tak ada pagar eksklusif yang membatasi penghuni Kampung 99 dengan
          dunia luar. ''Siapa pun boleh datang ke sini. Sekadar menginap atau
          bahkan tinggal menetap jika memang satu visi dan misi,'' kata Edi
          Djamaludin Suaidy yang akrab disapa Abi saat ditemui pada Sabtu lalu
          (13/9).
          > 
          > Ayah tiga anak kelahiran Jogjakarta 58 tahun lalu itu adalah tetua
          kampung. Dialah yang pertama mencetuskan konsep hidup bersama. ''Hidup
          itu kan teorinya dari (surat) Al Fatihah sampai An-nas, sedangkan
          praktiknya dari (ayat) iqra sampai dengan malam ya'lam. Ada wahyu,
          tempat, dan kegiatan. Inilah scope kecil yang kami lakukan di sini,"
          kata lulusan arkeologi Universitas Indonesia itu.
          > 
          > Pada 1989, setelah tiga tahun mundur dari PT Jasa Marga, tempatnya
          bekerja, dan asyik menjalankan hobi merawat dan jual beli kendaraan
          antik, Edi pun memutuskan membeli 500 meter tanah di kawasan Jl KH
          Muhasan II itu. Itulah cikal bakal Kampung 99. ''Saya juga ingin
          meneruskan perjuangan abi (ayah) saya, mendiang H M. Saleh Suadiy,"
          tambahnya. 
          > 
          > Ayahnya, asli Padang, berpulang pada 1976 setelah malang melintang
          di dunia pendidikan agama. ''Saya terkenang cerita ayah saat hidup di
          madrasah Al Islah, Bangkalan, Madura,'' imbuhnya. Dari Madura pula,
          ibu Edi, Siti Muryati, berasal.
          > 
          > Konsep keluarga besar yang memenuhi kebutuhan bersama-sama dan
          gotong royong itulah yang dikembangkan Edi di Kampung 99. Sepuluh
          keluarga yang hidup bersama dengan total 70 orang warga itu bukan
          hanya saudara sekandung. Tapi, ada adik ipar, keponakan, teman kampung
          ayahnya dulu, hingga orang lain yang benar-benar tak ada hubungan
          darah dengannya. Kesepuluh keluarga itu hidup di rumah masing-masing
          yang saling berdekatan. Rumah-rumah itu dibangun dengan kayu dan gaya
          yang alamiah. 
          > 
          > Mereka secara maksimal mencukupi kebutuhan sendiri. Misalnya,
          menanam padi dan sayur organik, berkebun buah-buahan, beternak kambing
          dan sapi, serta perikanan. ''Untuk memasak, kami tidak menggunakan
          gas, tapi dengan kayu yang kami dapatkan dari ranting yang hanyut di
          sungai,'' tambahnya. 
          > 
          > Selain memenuhi kebutuhan sendiri, mereka melakukan pembagian kerja.
          Misalnya, ada yang kebagian memasak untuk ke sepuluh keluarga, ada
          yang kebagian mencuci pakaian, hingga ada yang kebagian merawat hewan
          dan tanaman. ''Dengan cara ini, kami bisa hidup hemat. Dalam sehari,
          sekitar 60 kilogram beras yang dimasak,'' tambahnya.
          > 
          > Lalu, bagaimana jika timbul masalah di antara warga? Umi Santi
          -setiap suami di sana disebut abi dan istri disebut umi- menjawab,
          ''Di komunitas ini ada yang namanya forum. Itulah pertemuan tertinggi
          yang digelar setiap dua pekan untuk memutuskan apa pun secara
          bersama-sama. '' 
          > 
          > Umi Santi adalah keponakan Edi yang awalnya tidak tinggal di sana.
          ''Setelah tahu enaknya tinggal di sini, udara bersih, dan anak-anak
          bisa bermain, kami putuskan pindah ke sini,'' kata Umi Santi, yang
          sebelumnya menjadi dosen.
          > 
          > Konsep hidup bersama di tempat yang menarik itulah yang akhirnya
          memancing orang luar untuk ikut merasakan. Itu dimulai pada 2005, saat
          secara kebetulan seorang kepala TK di bilangan Cilandak, Jakarta
          Selatan, mampir ketika paman Umi Santi menggelar pesta pernikahan.
          ''Bapak kepala sekolah itu lalu mengajak anak TK-nya untuk outbound di
          sini. Sejak itu, kami juga membuka diri untuk berbagi dengan sesama,''
          tambahnya. Rumah-rumah milik keluarga itu pun mulai disewakan.
          > 
          > Kini berbagai kegiatan digelar untuk anak-anak di sana. Misalnya,
          berjalan-jalan mengenal tumbuh-tumbuhan, menanam pohon, memanen padi
          dan sayur, memberi makan rusa dan ternak (kambing, domba, sapi,
          kerbau), menangkap ikan, memandikan kerbau, dan membajak sawah.
          Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan anak-anak kota di belantara hutan
          beton Jakarta. 
          > 
          > Nama Kampung 99 Pepohonan diambil dari banyaknya pohon jati putih
          (gmelina arborea) yang ditanam anak-anak. Pemasukan pun mengalir.
          > 
          > ''Hingga akhirnya, banyak yang berhenti dari aktivitas semula dan
          berkosentrasi untuk hidup di sini. Contohnya, Aisyah (manajer
          restoran, Red). Dia dulu dubber,'' sambung Abi. 
          > 
          > Pemasukan pun didistribusikan dengan persentase yang telah disetujui
          bersama oleh seluruh anggota keluarga setelah dikurangi pengeluaran,
          seperti biaya listrik sekitar Rp 4 juta per bulan. Jika satu anggota
          keluarga ada pengeluaran khusus, seperti melahirkan atau hendak
          menyekolahkan anak, persentase itu ditambah dan anggota keluarga yang
          lain juga tidak berkeberatan. Semua dibicarakan bersama secara
          demokratis tanpa otokrasi.
          > 
          > Bagi Abi, apa yang dilakukan itu bukan untuk mengisi akhir masa tua,
          tapi justru sebagai hadiah bagi anak cucunya. ''Ini bukan sok pamer.
          Tapi, kami semua sanggup melakukan karena dimulai dari tekad. Dari
          yang hanya ndelok (melihat sekilas) menjadi niteni (mencermati) . Juga
          dari kemauan dari semua kepala keluarga di sini untuk berhenti
          merokok,'' tegasnya. Asap rokok menjadi barang langka yang sulit
          ditemui di sana. 
          > 
          > Tekad itu kini berwujud aset miliaran rupiah dan akan terus
          berkembang. Apalagi, pemerintah setempat telah memasukkan kampung itu
          sebagai kawasan wisata dan membuka kantor dinas pariwisatanya di sana.
          (nw)
          > 
          > ----- Original Message ----- 
          > From: Suparman 
          > To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
          > Sent: Monday, September 15, 2008 2:38 PM
          > Subject: [Wismamas] Hemat BBM
          > 
          > 
          > 
          > 
          > 
          > Info
          > 
          > Silahkan baca2 http://www.akashu. info
          > Benar2 terbukti
          > 
          > Suparman
          > B3-18
          > 
          > 
          > __________ NOD32 3440 (20080913) Information __________
          > 
          > This message was checked by NOD32 antivirus system.
          > http://www.eset. com
          >

       




   

  __________ NOD32 3443 (20080915) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke