dugem liat live music makan pisgor+kupi, sambil pura2nya kita mengerti
lagu yang mereka bawakan... lutu deh aku request campursari mereka
nggak bisa..ha..ha...--- In [email protected], AyahRavi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kami (blok C) dulu udah pernah kesini Pak..
> Survei waktu mau camping (2 tahun yg lalu)...
> Emang mantep tenan..deket dengan rumah kita...masup liwat depan
mesjid Kubah Mas...
> Pak Rudi masih kok contact2an..kebetulan ownernya temen sekolah pak
Rudi...
> Â 
> Pak Wisnu juga udah pernah kan.>??
> Dugem dimari hehhehehehe
> Â 
> Salam,
> C2/3
> 
> 
> Â 
> 
> --- On Mon, 9/15/08, wisnu sambhoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: wisnu sambhoro <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Wismamas] kampung 99
> To: [email protected]
> Date: Monday, September 15, 2008, 5:06 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Eddy Djamaluddin Suaidy, Pencetus Kampung 99 Pepohonan 
> 
> Hidup Berkelompok, Penuhi Kebutuhan secara Mandiri 
> 
> Awalnya Kampung 99 Pepohonan atau disebut Kampung Rusa adalah tempat
hunian pribadi. Ada sepuluh keluarga yang hidup berkelompok dengan
mempraktikkan Alquran dan hadis di sana. Tak disangka, kampung
berkonsep back to nature itu kini menjadi jujukan wisata alam.
> 
> FAROUK ARNAZ, Depok, Jawa Barat 
> 
> Tak sulit mencapai Kampung 99 Pepohonan yang secara administratif
berada di Jl KH Muhasan II, Meruyung, Limo, Depok, atau seberang
Masjid Kubah Mas Dian Al Mahri. Kampung yang terletak pada koordinat
bumi di S 6.3856553� dan E 106.767293� atau sekitar 25 kilometer
selatan pusat kota Jakarta itu berada pada ketinggian 60 meter dari
permukaan air laut. Di sana angin menerbangkan wangi harum rumput.
> 
> Luasnya 5 hektare persegi. Di utara yang letaknya lebih tinggi
terdapat sungai kecil yang merupakan daerah aliran sungai (DAS),
sedangkan di selatan (di bawah) mengalir Sungai Pesanggrahan. Aliran
dari DAS itu disalurkan ke beberapa selokan kecil mengelilingi Kampung
99 dan menimbulkan bunyi gemericik.
> 
> Di barat dan timur terdapat perkampungan penduduk yang telah lama
ada. Tak ada pagar eksklusif yang membatasi penghuni Kampung 99 dengan
dunia luar. ''Siapa pun boleh datang ke sini. Sekadar menginap atau
bahkan tinggal menetap jika memang satu visi dan misi,'' kata Edi
Djamaludin Suaidy yang akrab disapa Abi saat ditemui pada Sabtu lalu
(13/9).
> 
> Ayah tiga anak kelahiran Jogjakarta 58 tahun lalu itu adalah tetua
kampung. Dialah yang pertama mencetuskan konsep hidup bersama. ''Hidup
itu kan teorinya dari (surat) Al Fatihah sampai An-nas, sedangkan
praktiknya dari (ayat) iqra sampai dengan malam ya'lam. Ada wahyu,
tempat, dan kegiatan. Inilah scope kecil yang kami lakukan di sini,"
kata lulusan arkeologi Universitas Indonesia itu.
> 
> Pada 1989, setelah tiga tahun mundur dari PT Jasa Marga, tempatnya
bekerja, dan asyik menjalankan hobi merawat dan jual beli kendaraan
antik, Edi pun memutuskan membeli 500 meter tanah di kawasan Jl KH
Muhasan II itu. Itulah cikal bakal Kampung 99. ''Saya juga ingin
meneruskan perjuangan abi (ayah) saya, mendiang H M. Saleh Suadiy,"
tambahnya. 
> 
> Ayahnya, asli Padang, berpulang pada 1976 setelah malang melintang
di dunia pendidikan agama. ''Saya terkenang cerita ayah saat hidup di
madrasah Al Islah, Bangkalan, Madura,'' imbuhnya. Dari Madura pula,
ibu Edi, Siti Muryati, berasal.
> 
> Konsep keluarga besar yang memenuhi kebutuhan bersama-sama dan
gotong royong itulah yang dikembangkan Edi di Kampung 99. Sepuluh
keluarga yang hidup bersama dengan total 70 orang warga itu bukan
hanya saudara sekandung. Tapi, ada adik ipar, keponakan, teman kampung
ayahnya dulu, hingga orang lain yang benar-benar tak ada hubungan
darah dengannya. Kesepuluh keluarga itu hidup di rumah masing-masing
yang saling berdekatan. Rumah-rumah itu dibangun dengan kayu dan gaya
yang alamiah. 
> 
> Mereka secara maksimal mencukupi kebutuhan sendiri. Misalnya,
menanam padi dan sayur organik, berkebun buah-buahan, beternak kambing
dan sapi, serta perikanan. ''Untuk memasak, kami tidak menggunakan
gas, tapi dengan kayu yang kami dapatkan dari ranting yang hanyut di
sungai,'' tambahnya. 
> 
> Selain memenuhi kebutuhan sendiri, mereka melakukan pembagian kerja.
Misalnya, ada yang kebagian memasak untuk ke sepuluh keluarga, ada
yang kebagian mencuci pakaian, hingga ada yang kebagian merawat hewan
dan tanaman. ''Dengan cara ini, kami bisa hidup hemat. Dalam sehari,
sekitar 60 kilogram beras yang dimasak,'' tambahnya.
> 
> Lalu, bagaimana jika timbul masalah di antara warga? Umi Santi
-setiap suami di sana disebut abi dan istri disebut umi- menjawab,
''Di komunitas ini ada yang namanya forum. Itulah pertemuan tertinggi
yang digelar setiap dua pekan untuk memutuskan apa pun secara
bersama-sama. '' 
> 
> Umi Santi adalah keponakan Edi yang awalnya tidak tinggal di sana.
''Setelah tahu enaknya tinggal di sini, udara bersih, dan anak-anak
bisa bermain, kami putuskan pindah ke sini,'' kata Umi Santi, yang
sebelumnya menjadi dosen.
> 
> Konsep hidup bersama di tempat yang menarik itulah yang akhirnya
memancing orang luar untuk ikut merasakan. Itu dimulai pada 2005, saat
secara kebetulan seorang kepala TK di bilangan Cilandak, Jakarta
Selatan, mampir ketika paman Umi Santi menggelar pesta pernikahan.
''Bapak kepala sekolah itu lalu mengajak anak TK-nya untuk outbound di
sini. Sejak itu, kami juga membuka diri untuk berbagi dengan sesama,''
tambahnya. Rumah-rumah milik keluarga itu pun mulai disewakan.
> 
> Kini berbagai kegiatan digelar untuk anak-anak di sana. Misalnya,
berjalan-jalan mengenal tumbuh-tumbuhan, menanam pohon, memanen padi
dan sayur, memberi makan rusa dan ternak (kambing, domba, sapi,
kerbau), menangkap ikan, memandikan kerbau, dan membajak sawah.
Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan anak-anak kota di belantara hutan
beton Jakarta. 
> 
> Nama Kampung 99 Pepohonan diambil dari banyaknya pohon jati putih
(gmelina arborea) yang ditanam anak-anak. Pemasukan pun mengalir.
> 
> ''Hingga akhirnya, banyak yang berhenti dari aktivitas semula dan
berkosentrasi untuk hidup di sini. Contohnya, Aisyah (manajer
restoran, Red). Dia dulu dubber,'' sambung Abi. 
> 
> Pemasukan pun didistribusikan dengan persentase yang telah disetujui
bersama oleh seluruh anggota keluarga setelah dikurangi pengeluaran,
seperti biaya listrik sekitar Rp 4 juta per bulan. Jika satu anggota
keluarga ada pengeluaran khusus, seperti melahirkan atau hendak
menyekolahkan anak, persentase itu ditambah dan anggota keluarga yang
lain juga tidak berkeberatan. Semua dibicarakan bersama secara
demokratis tanpa otokrasi.
> 
> Bagi Abi, apa yang dilakukan itu bukan untuk mengisi akhir masa tua,
tapi justru sebagai hadiah bagi anak cucunya. ''Ini bukan sok pamer.
Tapi, kami semua sanggup melakukan karena dimulai dari tekad. Dari
yang hanya ndelok (melihat sekilas) menjadi niteni (mencermati) . Juga
dari kemauan dari semua kepala keluarga di sini untuk berhenti
merokok,'' tegasnya. Asap rokok menjadi barang langka yang sulit
ditemui di sana. 
> 
> Tekad itu kini berwujud aset miliaran rupiah dan akan terus
berkembang. Apalagi, pemerintah setempat telah memasukkan kampung itu
sebagai kawasan wisata dan membuka kantor dinas pariwisatanya di sana.
(nw)
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: Suparman 
> To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
> Sent: Monday, September 15, 2008 2:38 PM
> Subject: [Wismamas] Hemat BBM
> 
> 
> 
> 
> 
> Info
> 
> Silahkan baca2 http://www.akashu. info
> Benar2 terbukti
> 
> Suparman
> B3-18
> 
> 
> __________ NOD32 3440 (20080913) Information __________
> 
> This message was checked by NOD32 antivirus system.
> http://www.eset. com
>


Kirim email ke