bolehlah saya sedikit komentar. sudah lunturnya sikap gotong royong, musyawarah 
dan mupakat ditengah kehidupan masyarakat dewasa ini,  akibat dari gejala 
globalisasi. Indonesia yang masih memelihara ciri kerukunan komunal tradisional 
sekarang pada ketularan penyakit serakah. Yang jelas, bahwa dengan 
merajalelanya keserakahan  di Indonesia, terjadilah perkembangan ekonomi yang 
timpang, maka terjadi konsentrasi kapital yang kuat tambah kuat, yang lemah 
tergilas. Penetrasi akibat dari arus globalisasi membawa dampak kepada gaya 
hidup yang individualistis. Bukan hanya segi ekonomi, tetapi lebih jauh adalah 
kepada tatanan budaya luhur bangsa ikut tergilas.
  Kiranya mampukah kita merevitalisasi jati diri kita sebagai bangsa untuk 
membangun kekuatan nasional yang mandiri yang berakar keluhuran budaya dan 
kehidupan yang agamis ?
  Komitmen semua pihak terutama kelompok elit intelektual bangsa yang besar 
pengaruhnya dalam membentuk opini publik.  tentu hal ini tidak hanya semudah 
membalikkan telapak tangan, karena akan dihadapkan kepada permasalahan yang 
lebih besar yaitu menghadapi dominasi main stream thoughts dari masyaratkat 
internasional. Beranikah kita menghadapi isolasi dengan segala konsekuensinya ?
  Wallahualam !
   
   
  

Yayat Nurhayat <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
  Sahabat..Coba kita renungkan dan kita telah mengenai jati diri kita sebagai 
warga bangsa.. saya minta di konfirmasi mengenai tulisan ini (pernah dimuat 
harian suara karya) memang udah agak telat disampaikan..akan tetapi mungkin 
bisa kita diskusikan..
   
  Merevitalisasi Jati Diri Bangsa
Oleh Yayat Dinar N 


  Secara eksplisit, ada dua hal yang melekat dalam pembentukan budaya nasional. 
Pertama, gotong royong. Sikap ini yang menjadi ciri khas dari seluruh 
masyarakat kita. Ketika menghadapi suatu pekerjaan atau bahkan kesulitan, 
anggota masyarakat dengan sukarela membantu mengatasi atau menyelesaikannya, 
sehingga semangat kebersamaan (gotong royong) mampu mengikat dan menyatukan 
masyarakat, dari berbagai hierarki atau status sosial.     
   Kedua, musyawarah (mufakat). Setiap persoalan atau permasalahan dalam 
kehidupan kemasyarakatan, baik menyangkut sengketa, atau problem-problem 
sosial, biasanya diselesaikan dengan asas musyawarah mufakat agar 
penyelesaiannya menguntungkan kedua belah pihak. Ketiga, kekeluargaan. Ini 
ketika segala bentuk permasalahan atau konflik, baik konflik horizontal maupun 
vertikal, selalu diselesaikan dengan cara kekeluargaan.   
  
   Dari sekian banyak persoalan yang ada, setidaknya ada tiga permasalahan yang 
menonjol yang mengancam jati diri dan kesatuan bangsa. Pertama, infiltrasi 
budaya. Semakin mudah masyarakat memperoleh informasi, maka pengaruh budaya 
luar akan langsung tereduksi dalam kehidupan sosial masyarakat. Yang paling 
parah kalau budaya tersebut menjadi trend dan gaya hidup masyarakat kita hingga 
menjadi kontra produktif karena budaya asli kita terisolasi oleh budaya asing. 
Fenomena kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba dan kejahatan kemanusiaan 
lainnya merupakan dampak merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan kehidupan 
masyarakat kita.   
  
   Kedua, polarisasi ideologi. Ideologi merupakan jati diri atau karakter suatu 
bangsa. Ideologi memberi karakter dan pengaruh bagi bangsa dalam pergaulan 
dunia internasional. Ketika transfer informasi semakin mudah, ditunjang dengan 
gencarnya pemberitaan media massa, baik elektronik maupun cetak, maka faham 
atau ideologi asing akan dengan mudah masuk dalam kehidupan bangsa kita. 
Masuknya ideologi asing, secara tidak langsung akan mengubah tatanan kehidupan 
dan sistem berpikir masyarakat. Berbagai bentuk pemikiran saat ini telah 
berkembang sedemikian rupa, sehingga mewarnai sistem kehidupan bangsa, mulai 
dari penganut paham konservatif, sosialisme, marxisme hingga radikalisme, 
berbaur menjadi satu dalam kehidupan masyarakat. Kebebasan berpikir tidak 
menjadi tabu dan haram, akan tetapi ketika kebebasan tersebut sudah melampaui 
batas-batas logika dan bisa merusak kehidupan sosial kemasyarakatan, maka hal 
ini menjadi haram.   
  
   Ketiga, distorsi kepentingan. Setiap terjadi perubahan kebijakan, terutama 
dunia internasional, dengan sendirinya akan terjadi pergeseran kepentingan. Hal 
inilah yang menyebabkan negara kita semakin terpuruk. Orientasi politik dan 
ekonomi negara kita sangat terpengaruh paham dunia luar. Kemandirian kita 
seakan lenyap ketika kepentingan asing masuk ke dalam sistem pemerintahan. Ini 
terjadi manakala orientasi kepentingan negara kita harus disesuaikan dengan 
kepentingan pasar dunia, dan bukan lagi berorientasi pada rakyat. Privatisasi 
usaha-usaha milik negara (BUMN), dan penjualan perusahaan swasta nasional 
kepada pihak asing adalah bukti konkret ketidakberdayaan kita dalam aspek 
ekonomi. Akibatnya, negara kita tidak punya kekuatan dalam mengatur dan 
mengurus ekonomi sendiri. Negara kita pun sangat mudah "didikte" oleh 
kepentingan luar (asing) dengan dalih globalisasi dan liberalisasi.   
  
   Melihat sekian banyak persoalan bangsa, sudah saatnya kita perlu 
merevitalisasi kesatuan dan jati diri bangsa. Namun, untuk merevitalisasi jati 
diri bangsa, kita selalu dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut.   
  
   Pertama, intervensi strategis faktor eksternal (internasional) baik di 
bidang ekonomi, politik dan kebudayaan. Kedua, intervensi strategis faktor 
internal (nasional), seperti konflik dalam masyarakat, baik horizontal, 
vertikal, maupun conflict interest dan political will pemerintah dan 
masyarakat. Dua faktor inilah, yang menjadi kendala bagi bangsa untuk 
"memerdekakan" diri dari belenggu-belengggu kepentingan dunia internasional.   
  
   Dalam konteks upaya penguatan jati diri bangsa dan negara, setidaknya ada 
tiga hal pokok yang menjadi pilar utama penyangga kekuatan bangsa dan negara.   
  
   Pertama, kedaulatan politik. Artinya, suatu kesetiaan dan keberanian untuk 
mempertahankan hak dan mencapai tujuan secara mandiri tanpa intervensi 
pihak-pihak asing, seperti diplomasi politik luar negeri, pertahanan negara 
(militer), pertahanan rakyat semesta (hankamrata), dan sistem kepartaian 
politik untuk memperkuat pencapaian tujuan bangsa dan negara, pemerintahan yang 
kuat, legitimate dan demokratis.   
  
   Kedua, kekuatan ekonomi. Kekuatan ekonomi yang ditujukan dalam upaya 
menghidupi diri sendiri dan memberi penghidupan secara wajar dan manusiawi bagi 
seluruh rakyat, dalam bingkai atau kerangka bangsa dan negara. Hal ini 
ditunjukkan dengan etos kerja, penguasaan kekayaan alam, penguasaan ilmu 
pengetahuan dan teknologi, sistem distribusi kesempatan berusaha yang merata 
dan sistem distribusi hasil pembangunan yang merata.   
  
   Ketiga, kekuatan budaya. Kekuatan budaya merupakan tujuan akhir dari 
pembangunan kekuatan dan jati diri bangsa, karena entitas dan karakter dari 
suatu bangsa dipengaruhi oleh budayanya, baik lokal maupun nasional. Hal ini 
dikarenakan kekuatan budaya merupakan suatu sistem pertahanan paling vital bagi 
suatu bangsa dan negara, kekuatan budaya merupakan fondasi dari pembangunan di 
segala aspek, kekuatan budaya secara historis merupakan modal utama berdirinya 
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga secara empirik, kekuatan 
budaya akan sangat menentukan kekuatan suatu bangsa dan negara dalam tata 
pergaulan dunia. Selain itu kekuatan budaya akan melahirkan etos dan mitos, 
baik dalam kehidupan sosial masyarakat sendiri, maupun dalam pergaulan dunia 
internasional sebagai bangsa.   
  
   Untuk membangun kembali jati diri dan budaya bangsa dan negara, ada dua hal 
utama yang harus dilakukan. Pertama, merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi 
dan budaya, agar berada pada jalur yang benar, sesuai dengan hakikat bangsa 
yang merdeka, sehingga bangsa kita mampu mandiri dan bermartabat. Tanpa ketiga 
faktor tersebut, jangan harap bangsa kita akan berdiri dan dihargai bangsa 
lain.   
  
   Kedua, mendorong political will penyelenggara negara, baik eksekutif maupun 
legislatif untuk membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat 
kebangsaan di setiap hati nurani rakyat. Dengan demikian, ada sinkronisasi dan 
harmonisasi antara keinginan rakyat dan negara, dalam upaya pembentukan jati 
diri bangsa. ***     (Penulis Direktur eksekutif Nuri Lestari Foundation, 
Indonesia). 

   

            
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 



  SPONSORED LINKS 
        Indonesia visa   Indonesia phone card   Indonesia calling card     
Indonesia travel   Bali indonesia   Indonesia 
    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "wongbanten" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  




Saprudin
                
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke