Kawan,
  Maaf baru saya balas.
   
  Pro: Kang Daday, saya tidak pernah menyebut diri saya ahli sejarah. Kalau 
dulu saya kuliah sejarah, iya. Kalo setelah lulus kuliah saya jadi sejarawan, 
itu benar. Tapi kalo jadi ahli sejarah, saya tak pernah mengklaim itu.
   
  Bung Firman, saya mengenal Anda sebagai penulis berbakat. Saya membaca karya 
Anda, "Sayap-sayap Ababil." Bagus, amat bagus karya Anda. Teruskan!
  Saya tahu Anda adik kelas saya, tapi kita tak terlalu saling mengenal. 
   
  Yang paling membuat saya kaget: Anda mengatakan saya pernah bekerja sebagai 
asisten pengajar di FIB-UI??? Dan pernyataan itu dikemukakan oleh Anda seolah 
saya yang mengatakan itu: JADI ASISTEN PENGAJAR DI UI. Mungkin Anda terlambat 
masuk milis, dan lebih percaya "ceunah" daripada membuktikan sendiri. 
   
  Tidak pernah sekalipun saya mengaku2 sebagai ASISTEN PENGAJAR DI UI. Harap 
diketahui, saya alumnus Undip, mana mungkin bisa jadi asisten pengajar di UI. 
Itu ngaco! Jelas saja Endang, kawan Anda itu, tak kenal saya. Karena toh memang 
saya tak pernah ngajar di sana.
   
  Kalau saya pernah bekerja sebagai asisten peneliti (untuk Asvi Warman Adam) 
di LIPI itu benar. Silahkan saja Anda tanya ke LIPI, Lantai 11, Pusat 
Penelitian Politik, Jl. Gatot Subroto Kav. 11 -12. Kalo dari tanabang, Anda 
pake metromini 604. Turun di depan Planet Holywood atau Hotel Kartika Chandra. 
Nyebrang, lantas jalan ke kiri. Nah ada gedung bundar di sana. Masuk saja, naik 
lift ke lt. 11. Tanya saja kepada Dhurorudin Mashad (Kordinator pnelitian, 
Kabid Tata Operasional), apakah yang namanya Bonnie Triyana yang orang 
Rangkasbitung itu pernah kerja di LIPI sebagai asisten peneliti? Jangan tanya 
sama Endang, kalaupun ada nama Endang, itu Endang Turmudi. Dia di Lantai enam, 
peneliti PMB-LIPI. Pasti dia juga tak kenal aku, dan kalau jawabannya negatif, 
bisa runyam urusannya. Kini kontrak saya sudah habis, setelah bekerja selama 1 
tahun di sana.
   
  Nah, supaya gak simpang siur lagi tentang di mana saya beraktivitas, saya 
akan tambah lagi:  sekarang saya bekerja di Harian Jurnal Nasional (Jurnas) 
sebagai asisten redaktur (reporter senior). Kalau masih gak percaya silahkan 
tanya saja, jangan ke Endang lagi! Endang mah pasti gak tahu, kasihan dia kalau 
disuruh mencari tahu saya terus.Apalagi sampai bikin "Oning Watch," 
hihihihihi.... Nanti akan timbul fitnah lagi. Koran ini Pemrednya Ramadhan 
Pohan, dulu koresponden Jawa Pos di Washington. Juga ada Taufik Rahzen di sini. 
Kalau masih simpang siur, main saja ke kantor Jurnas. Dari Tanabang, naik bus 
ke Rawamangun. Alamatnya jl. Pemuda No. 34, sebelah kiri kalo dari Pramuka, 
sebelah kanan kalo dari Pulo Gadung. Paling 100 meter dari perempatan Arion 
Mal. 
   
  Kalau Anda mau nulis, silahkan kirimkan saja cerpennya ke sini, siapa tahu 
saya bisa bantu, juga untuk yang lain (bageur pan aing!).. kirim saja ke [EMAIL 
PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] Lumayan honornya, beneran neh.. 
   
  Kemudian, Asal Bung Firman tahu, saya tidak pernah menyatakan keluar dari Tim 
Penulisan sejarah Rangkas!!! Masuk saja tidak, bagaimana mau disebut keluar???? 
Kalo sebagai konseptor ya! Sebagai peneliti yang masuk Tim, wah.. gak tuh. 
Mungkin lebih lengkap tanyakan Pak Amir (Asda 2), dia mungkin lebih tahu.  
Apalagi karena urusan gak kebagian jatah??? Wah..wah...wah... Anda kemakan 
omongan gak bener neh... Lagipula ada hikmahnya pekerjaan itu tak saya pegang: 
pertama, akan mengganggu pekerjaan saya di Jakarta, kedua, banyak omongan gak 
bener yang akan melayang kepada saya. Seratus-dua ratus juta mah kecil, bung.. 
(saya bicara dari sudut pandang Soeharto).
   
  Tanya saja Bung Tebe tentang hal ini. Dia juga tahu asal-usulnya. Dan 
keterangannya dijamin bukan ceunah!!!
   
  Anda harus menyesuaikan dengan iklim diskusi di milis ini. Tanya Bung 
Saprudin atau Bung Sony bin UGM atau malah Kang GG sendiri (anu sok 
pundungan..hihiihi soryy coy..), sehebat apa debat dan pertentangan kita di 
milis ini, toh tak sampai menghujam domain private orang. Bung, Anda masih 
muda, demikian saya. Orang Belanda bilang: "Met het warm hart, en een koel 
hofdt," hati boleh panas, kepala harus tetap dingin. Kalo sekedar 
celetak-celetuk humor iseng mah jangan sampai membuat Anda jadi reaksioner 
begitu... biasa ajaaaa lageeeeeeeee....
   
  Beginilah yang membuat saya kapok "berbakti" di kampung sendiri. Belum lagi 
layar terkembang, gelombang hinaan datang mengguncang.... hihihiih asoy geboy 
ah...
   
  Tabik,
   
  Bonnie,
  Orang Lembur Rangkas di Batavia, bukan asisten pengajar UI, bukan anak Tryana 
Syam'un, gak pernah nerima uang 280 jutaaaaa...(masih ada lagi yang perlu 
diklarfikasi??), gak begitu mendalami filsafat (dua rius ieu mah..)
  
"Daday Rahmat Hidayat S, SE" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Saya setuju dengan ungkapan Kang Saprudin, tapi saya juga agak penasaran, 
maka untuk menghindari ghibah, tidak ada salahnya Kang Boni diberi 
kesempatan hak jawab, sebagai klarifikasi. Tapi ulah panas kitu, ieu mah 
sakadar, ngabuktikan siapa gerangan Kang Boni anu piawai dalam hal sajarah. 
....sok Kang Boni silakan mungkin bisa memuaskan rekan Firman yang sesama 
alumni dan sealmamater... .
OOT, , saya memimpikan ada -pengarang atau siapapun dari Banten yang bisa 
membuat cerita Fiksi yang berdasarkan sejarah... sepertinya perlu kolaborasi 
antara sejarahwan yang ngerti babad Banten, terus dirangkaikan cerita yang 
settingnya Banten, pada zaman dulu, tapi atmospherenya zaman kiwari... 
semoga saja ada ya.
Terima kasih
wassalam.
DRH
Masih ingin berdamai, tapi hanya perlu kejelasan.

----- Original Message ----- 
From: "SP Saprudin" <[EMAIL PROTECTED]>

Maaf kawan, lain kali kalau nanya urusan person, harap jangan di replay ke 
semua members, anda harusnya bisa menjaga personality orang lain. Memang 
tujuannya baik, tapi rada-rada menjatuhkan itu mah.

Cukup kirim ke e-mail yg bersangkutan. Pan urang sarua urang lembur, ngan 
beda tempat, ente Rangkas urang di Bayah. Kitu lah dak !!

firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Bon, kalau ente bener urang lembur, harusnya ente juga ada di 
lembur, kalau nggak jadi sejarawan, minimal nyieun mie ayam uun atawa baso 
ismo. masak, uang 280 juta malah diambil sama Nina lubis buat membukukan 
sejarah lebak. Ente kamana bae ongkoh urang lembur? malah kaluar ti tim, 
hanya gara2 pembagian jatah duit hehehe....jadi inget "Sajak Seonggok 
Jagung" Rendra.
kok urang lembur kayak gitu dak. terus denger2 dari salah satu member milis 
ini, katanya ente jadi dosen/asisten di jurusan sejarah FIB-UI. tapi kok 
sudah tiga tahun aku disana gak pernah ketemu ente ya. bahkan aku tanya ke 
mahasiswa sejarah dari banten, si endang, ga kenal sama ente. nah lho.
Btw, salam kenal aja deh.aku adik kelasmu di smu 1 rangkasbitung. ok lupakan 
barthes, dan segala macamnya. mungkin aku salah milis untuk diskusi ginian. 
aku cabut aja deh. sori ya bro.

Salam,

FV

Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Hueheuheuhe dasar Oning !

Pan kita kabeh lagi belajar lain ? ari kamu emang
darimana karah ??
nggak tau kitu ari Barthes jeung Jaro dainah itu masih
saudara?

SOk lah.. ngke urang ngobrol hubungan jaro dainah,
pierce, saussure, Hjemslev, Foucoult, Barthes, Haji
Bai, Haji Chasan, Bu atut, Triyana, ternyata
bersaudara, lain kitu karah ?

Punten ari urang rangkas lagi diskusi selalu keluar
"kearifan lokal" nya, lain kitu karah ??

Mangga ..
nb. Ning ... inget (Udin Petot) supaya nggak lieur
diskusi Filsafat..

--- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Capek aing mah ngomong "intelek" mending urang
> ngalor ngidul bae dak didieu mah.. ulah mamawa si
> Pierce, komo si Barthes mah (kiper Perancis lain??)
>
> Mun ceuk Jaro Dainah, filsuf ti Cikeusik, ikon tea
> hartina delan diwadahan kada se'eng. Ari ceuk Haji
> Chasan mah, semiotika tea hartina proyek pembangunan
> gedung di propinsi Banten.
>
> Tah, beda deui ceuk Haji Bai mah. Ceuk manehna mah
> simbol tea adalah jalan Kota Rangkas anu
> dilebarkan... kitu tah..
>
> Maklum bae nyah, kami mah budak lembur. Teu wasa
> ngomong filsafat ala intelek... rada mabok yeuh....
>
> punten ah...
>
> Oning tea budak lembur...
>
> firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> sebelum bicara ngalor ngidul, tempatkan
> dulu "kata"
> pada tempat yang benar. bedakan antara ikon, simbol
> dan indeks. tiga istilah ini diambil dari semiologi
> Pierce (versi Amerika) atau semiotika (versi
> Barthes)yang pada akhirnya mengakar pada pemikiran
> yang sama yang dilontarkan aoleh ferdinand de
> saussure, bapak linguistik. Nah lho pusingnya
> hehehe...baru ngomong, RD itu simbol, ikon, apa
> indeks? ayo ngegoogle semuanya....buka lagi kamus.
> jangan malu buka buku!
>
> salam kenal,
>
> Firman venayaksa
> (Presiden Rumah Dunia)
> http://venayaksa.multiply.com
> www.rumahdunia.net
> --- yusuf marwoto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Kenapa musthi berdebat sih? Ketika perbuatan baik
> > yang kita lakukan diketahui oleh orang lain, saya
> > kira tak ada salahnya. Kita tak perlu malu. Namun,
> > yang salah adalah saat kita berbuat tidak baik dan
>
> > diketahui oleh orang lain, kita tidak merasa malu.
>
> >
> > saya tidak tahu secara dekat dengan RD, tapi saya
> > sering mengunjungi web.nya, dan milis-milis
> > tetangga. Secara naluri saya merasa RD sudah
> > berbuat baik. Jadi, apa salahnya ketika ada yang
> > memberinya label sebagai icon perubahan? gak usah
> > alergi dengan label. Hidup dimana pasar berkuasa,
> > label adalah hal yang penting. Tak hanya modal
> > kapital yang membutuhkan label, tapi modal sosial
> > juga membutuhkannya.
> >
> > Yusuf
> >
> > Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > sok aya nu bisa nerjemahkeun teu ?
> >
> > he ..ehehe he he.. dont be so ridiculous, all wong
> > Banten able to understand our beloved local
> > language,
> > and how about you ?
> >
> > Ikon ? ah saya mah jadi inget charles sanders
> > pierce... eta tah orang Bojong Soang tea, ceunah
> > ceuk
> > manehna Ikon mah acuan nu boga kemiripan rupa,
> > siga
> > gambar meong nyaeta ikon tina binatangna
> > meong.tapi RD
> > lain meong kan ?
> >
> > Heuheuh ... sugan bae nya bener eta RD bisa jadi
> > ikon
> > perubahan, ja ikon perubahan banten acan aya nya ?
> > naon tah ? ayeuna mah pan RD can disepakati jadi
> > naon-naon ? sugan pas ngumpul bisa ngahasilkeun,
> > semacam Protokol Ciloang, atau Memorandum, atau
> > Referendum, atau Proklamasi RD... hehehehe ...
> > terserah!
> >
> > what ever lah .. tapi emang katilast na mah aya di
> > RD/
> >
> > Mangga urang sauyunan kita kumpul, ngopi, ngarokok
> > (sori kaum anti tembakau), jeung "ngabako" nu
> > serius,
> > cegeur jeung hade pikiran pikeun Banten ...
> >
> > nb. pokok na mah kami hayang ilu ! (punten teu
> > tiasa
> > nymbang Khong Guan jeng sajabina, maklum PKB
> > (Pengangguran Kelas Berat)
> >
> > mangga !
> >
> > --- ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > > Wakakakak...
> > > Masalah berubah aja ko jadi pada sewot.
> > > Mo ikon atawa ga, saya rasa RD tetap RD,
> > > menyebarkan bibit baca.
> > > Kalo cuma ikon, rasanya sayang. Ikon itu kan
> > cuma
> > > simbol, seperti patung yang lebih sering digusur
> > di
> > > Banten ini. :-))
> > > RD itu Ikon perubahan, apa memang motornya
> > > perubahan?
> > >
> > > Kang, dmana tempatnya dan kapan tanggalnya,
> > lebih
> > > baik
> > > diserahkan ke wong banten diluar sana. Soalnya,
> > > mereka
> > > memerlukan persiapan waktu yang matang.
> > Sementara
> > > kita
> > > yang ada di Banten atawa yang deket-deket
> > lokasi,
> > > bisalah nyempetin diri (kalo kmarin lupa euy).
> > >
> > > Masalah babawaan, berhubung dah da yang bawa
> > khong
> > > guan, dah da yang bawa kursi, makanan hingga air
> > > mineral. Bahkan dah da yang bawa konsep, ari
> > kitu
> > > saya
> > > cuma kabagian mawa do'a jeung beuteung bae. :-))
> > >
> > > Oe Tjoe - Semangat Pelawan
> > >
> > > --- "Jaya, Komarudin"
> > <[EMAIL PROTECTED]>
> > > wrote:
> > >
> > > > huehahaha
> > > > bajuri asli
> > > >
> > > > -----Original Message-----
> > > > From: rt.shova kharisma
> > > > [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > > > Sent: Sunday, July 30, 2006 9:23 AM
> > > > To: [email protected]
> > > > Subject: Re: [WongBanten] Banten Merdeka (RD
> > IKON
> > > > PERUBAHAN BANTEN!!!!)
> > > >
> > > >
> > > > let's TRANSLATE it for me, pleaseeee
> > > > within indonesia language...mr.aziz..
> > > >
> > > > --- Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > >
> > > > > meunang teu kami ilu ? ja kami mah aktivis
> > lain,
> > > > > pinter henteu, tapi pokok na mah kami mah
> > hayang
> > > > ilu
> > > > > !
> > > > >
> > > > >
> > > > > sok sararieun kami mah lamun aya jalema
> > pinter
> > > > > ngumpul, kade aya intel, bisi ditewak..
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > > --- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > > > >
> > > > > >
> > > > > > KAWAN-KAWAN SEMUANYA,
> > > > > >
> > > > > > INI SAYA TULIS PAKE HURUF KAPITAL (TANPA
> > > ISME)
> > > > > > SEMUA, BIAR TEGAS BIAR JELAS. RD ITU SALAH
> > > SATU
> > > > > IKON
> > > > > > PERUBAHAN DI BANTEN, ITU BENAR. YANG
> > > MERAGUKAN,
> > > > > > MINIMALNYA GAK PERNAH MAEN DAN BERKENALAN
> > > DENGAN
> > > > > > CENTENG-CENTENG RUMAH DUNIA.
> > > > > >
> > > > > > KALO AKU SETUJU DENGAN PERNYATAAN KANG
> > GG,
> > > > LEPAS
> > > > > > BAHWA KANG GG PENGELOLA UTAMA RD, BAHWA RD
> > > > ADALAH
> > > > > > IKON PERUBAHAN DI BANTEN.
> > > > > >
> > > > > > DUS, DENGAN MENYATAKAN DIRI SEBAGAI IKON
>

Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin 
accept no liability for any loss or damage arising
from the use of this E-Mail or attachments.


         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke