Pada malam Senin tgl. 3 September 2006, saya mendapat undangan dari satu Ketua
DKM di Jagakarasa. Isi undangan adalah mengharapkan kesediaan saya untuk
memberikan kultum di salah satu Mushola dalam rangka peresmian pembukana
Pesantren Kilat selama bulan suci Ramadhan.
Dalam materi yang saya bawakan berkaitan dengan banyaknya amaliah-amaliah
yang dilakukan ummat Islam dengan menisbatkan kepada Sunnah Rasulallah. Dalam
pemaparan yg sangat panjang lebar, diakhir kultum saya dicerca oleh salah
seorang tokoh masyarakat. Katanya apa yang saya bawakan merupakan ajaran Wahabi
!!! Saya sebetulnya tidak berpijak disalah satu mazhab. Semua imam mazhab
adalah Imam Ahlussunah Wal Jamaah. Jadi saya tidak bertaqlid dengan salah satu
pemahaman, tapi saya berpijak di atas manhaj pemahaman Kulafaurrasyidin,
Tabiin, Tabiut Tabiin dan Ulama-ulama yang sejalan dengan mereka.
Astagfirullah !!!
Apa sih itu wahabi ? Sebetulnya saya kurang mengerti tentang Wahabi. Namun
saya hanya mengetahui latar belakang Wahabi itu.
Sebagai bahan konfirmasi terhadap mereka-mereka yang mengaku berpijak di atas
Assunah dan Al Qur'an, namun dalam kesehariannya mereka bertolak belakang.
Bahkan menuduh orang yang mencoba untuk menegakkan Assunah dan Al Qur'an, malah
dicap dengan sebutan yang aneh-aneh. Biasanya orang macam itu ibarat tong
kosong bunyinya nyaring. Tidak tahu apa-apa tentang sesuatu, tapi kalau bicara
lagaknya kayak orang mengerti. Orang merasa pinter tapi keblinger, orang merasa
alim padahal goblok dan bodoh.
Lewat milis wongbanten ini, saya ingin mencoba untuk menjelaskan apa itu
Wahabi. Kelompok Wahabi bukanlah kelompok baru dalam menyatakan salahnya
acara-acara bid’ah semacam ini. (Wahabi dinisbahkan kepada pengikut seorang
hamba Allah, Abdul Wahhab, yakni Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah,
red)
Akidah Wahabi dilandaskan pada :
a. Berpegang teguh kepada kitab Allah.
b. Berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah.
c. Berjalan pada garis ajaran Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dan garis
ajaran Khulafa’ Rasyidin setelah beliau serta para Tabi’in dan
d. Meniti jejak para ulama’ al-Salaf al-Sholih, para imam terkemuka dalam
Islam, yaitu para ahli fiqih dan taqwa.
Inilah landasan Akidah Wahhabi dalam hal Ma’rifatullah dan Itsbatush Shifah
(penetapan sifat-sifat ke-Maha Sempurnaan dan ke-Maha Agungan Allah ) yang
diturunkan oleh al-Qur’an dan tertera dalam hadits-hadits shahih serta yang
dipegang teguh oleh para sahabat Rasul- Shalallahu ‘alaihi wassalam-. Wahabi
menetapkan, mengimani dan menerima apa adanya sifat-sifat Allah itu :
- Tanpa tahrif (mengubahnya)
- Tanpa ta’thil (meniadakan ma’nanya)
- Tanpa takyif(mempertanyakan bagaimana atau mengandaikannya), dan
- Tanpa tamtsil (menyerupakan dengan sifat-sifat Makhluk).
Wahabi berpegang pada dasar-dasar aqidah yang dianut oleh para ahlul ‘ilmi
wat-taqwa generasi pendahulu(salaf) dan para imam umat ini yaitu para tabi’in
dan pengikut setia mereka, mereka mengimani bahwa dasar dan fondasi iman adalah
:
شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله
Artinya: Kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan
sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.
Syahadat ini adalah dasar iman, ia harus mengandung ilmu (pengertian dan
keyakinan), amal(tindakan) dan pernyataan lesan, sebagaimana hal itu telah
menjadi ijma’ umat Islam.
Kandungan arti syahadat ini adalah :
a. Kewajiban beribadah (mengabdi) kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya,
dan
b. Bara’ah (berlepas diri) dari penyembah kepada selain Allah, apapun dan
siapapun dia.
Inilah hikmah (Inti tujuan ) diciptakannya Jin dan Manusia. Untuk tujuan ini
pula para Rasul diutus dan kitab-kitab Ilahi diturunkan.
Syahadat ini juga mengandung :
a. Puncak (klimaks) rasa rendah dan rasa cita kepada Allah semata, dan
b. Puncak (klimaks) rasa taat dan pengagungan kepada-Nya.
Inilah din al-Islam (agama Islam) yang Allah tidak akan menerima agama apapun
selainnya baik itu dari kaum-kaum terdahulu maupun dari kaum-kaum yang datang
kemudian. Karena seluruh nabi berpegang kepada dien al-Islam ini dan merekapun
diutus untuk menyeru menuju al-Islam , dan menuju apa yang dikandung oleh makna
al-Islam itu, yaitu al-istislam (berserah diri) kepada Allah semata.
Maka orang yang berserah diri kepada Allah dan kepada selain-Nya, atau
memanjatkan do’a kepada Allah dan kepada selain-Nya ia adalah musyrik, dan
barang siapa yang tidak berserah diri kepada-Nya, ia berarti mustakbir, angkuh
dan enggan menyembah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman :
]وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ
وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [سورة النحل الآية : 36
Artinya : “Dan sesungguhnya kami telah mengutus ke kalangan masing-masing umat
seorang rasul untuk menyeru “Sembahlah (beribadahlah) kepada Allah dan jauhilah
thoghut”.
Akidah Wahabi berasaskan pada pewujudan syahadat (kesaksian) bahwa Muhammad
adalah Rasul Allah, dengan konsekwensi menolak segala aneka bid’ah dan khurafat
serta segala yang bertentangan dengan syari’at yang dibawa Rasulullah, Muhammad
Saw.
Inilah aqidah yang diyakini, dianut dan didakwahkan oleh syekh Muhammad ibn
Abdul Wahhab –rahimahullah-. Barang siapa yang menisbatkan (melekatkan) kepada
beliau aqidah lain yang bertentangan dengan aqidah di atas , berarti ia telah
melakukan kedustaan dan berbuat suatu dosa yang nyata serta menyatakan suatu
hal yang ia tidak memiliki ilmu tentang hal itu, yang kelak akan dibalas oleh
Allah sebagaimana layaknya ancaman kepada para perekayasa kedustaan dan fitnah.
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab telah memaparkan sejumlah tulisan tetang fiqh
(dalam madzhab Imam Ahmad ibn hanbal).Beliau juga menulis beberapa bahasan dan
kajian yang memiliki kekhasan dalam penyuguhan, dan karya-karya tulis yang
bagus seputar Kalimatul-Ikhlas wat-Tauhid(لا إله إلا الله) dan arti syahadat
(kesaksian) terhadap(لاإله إلا الله) serta tentang kandungan makna kalimah
syahadat itu, yang diturunkan oleh al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’, yang
tersimpul dalam dua hal :
a. Pernyataan bahwa selain Allah tidak berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
b. Penetapan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah dan dipertuhankan.
Penyembah (ibadah\ubudiah) kepada Allah ini wajib dilakukan semurni-murninya
dan sesempurna-sempurnanya, terbebas dari unsur syirik (penyekutuan) baik yang
kecil maupun yang besar, baik yang nyata maupun yang samar.
Orang mengetahui karangan-karangan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dan
data-data akurat tentang pikiran, dakwah dan jejak perjuangan beliau, serta
mengetahui aqidah yang dipegang oleh kawan seperjuangan dan murid-murid beliau,
nyatalah baginya bahwa Syeikh adalah sosok yang konsisten pada aqidah pemurnian
tauhid dan perjuangan membasmi bid’ah dan khurafat. Dan itulah garis para
as-Salaf as-Shaleh dan para imam terkemuka.
Mereka hanyalah menentang dan tidak mentolerir ulah para pendukung aqidah sesat
yang mengadakan aneka bid’ah dan khurafat serta peringatan hari-hari besar
bid’ah. Pengadaan dan penyelenggaraan pertemuan untuk acara-acara bid’ah itu
adalah termasuk hal-hal yang tidak diizinkan dan tidak dibenarkan oleh Allah
dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Para ulama’ dan penguasa Saudi
mencegah hal itu karena ia adalah termasuk amalan-amalan baru yang
diada-adakan, sedangkan setiap amalan-amalan baru seluruh umat Islam diperintah
mengikuti As-Sunnah, bukan diperintah mengada-adakan bid’ah , Karena agama
Islam adalah sempurna dan cukup apa yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya
Shallallahu ‘alaihi wassalam dan apa yang diterima sebagai ajaran as-Sunnah
oleh Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu para sahabat, Tabi’in dan orang-orang yang
mengikuti garis mereka.
Pelarangan terhadap penyelenggaraan maulid, hal-hal yang mengandung sesuatu
yang melampaui batas dalam agama (ghuluw) atau mengandung kemusyrikan dan yang
serupa bukanlah tindakan yang non-Islami atau penghinaan terhadap Rasulullah
shallallahu 'alaihi wassalam. Akan tetapi itu justru suatu ketaatan kepada
beliau dan pelaksanaan perintah beliau. Dalam kaitan ini beliau Shalallahu
‘alaihi wassalam bersabda :
إيا كم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين
Artinya : “Jauhilah oleh kamu ghuluw (sikap berlebihan dan melampui batas)
dalam agama. Sesungguhnya penyebab kehancuran kaum sebelum kamu adalah sikap
ghuluw dalam agama.”
Dan beliaupun bersabda :
لاتطروني كما أطرت النصاري ابن مريم، إنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله.
artinya : “Janganlah kamu berlebihan memujiku sebagai mana orang-orang Nasrani
telah berlebih-lebihan memuji dan menyanjung (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya
aku hanyalah seorang hamba. Karenanya, sebutlah (aku) : “Hamba Allah dan
rasul-Nya”.
Nah bandingkan dengan mereka-mereka yang mengaku Ahlussunah wal jamaah,
tetapi tidak sejalan dengan pengakuan mereka. Mereka banyak melakukan
perbuatan-perbuatan kemusyrikan, kurafat dan tahayul.
Demikianlah gambaran tentang jejak-jejak Wahabi.
Wassalamualaikum wr. wb.
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/