BPK dan Korupsi Korporasi- (1) Mas Saprudin, Mas Agung, Mas Sony, Mas Aditya dan Rekän lainnya,
(Rangkaian tulisan ini mungkin bahasan saya yang pertama dan yang terakhir tentang korupsi korporasi, selanjutnya saya lebih suka menulis tentang korupsi di aparat dan politisi) Sebenarnya, saya sudah mencoba menutup" diri tentang keberadaan korupsi korporasi. Dada ini begitu bergemuruh menahan marah dibuatnya, kadang-2 aliran darah ini mengalir begitu cepat dibuatnya. Tapi realitas mengatakan, untuk sementara waktu saya pribadi berkompromi membiarkan" korupsi korporasi berlalu begitu saja. Bukan saya permisif tapi sementara ini kita tidak mampu berbuat banyak untuk mengatasinya. Pada kasus korupsi korporasi saya menganut falsafah; "selemah-lemahnya iman, yaitu membiarkan sesuatu terjadi meskipun hati ini sangat keras menentangnya". Tapi pada korupsi Aparat dan Politisi sangat menganut falsafah sekuat-kuatnya iman; cuma ada satu kata: LAWAN!!! Hanya karena Mas Agung membicarakan tentang eksistensi BPK maka ijinkan saya mencoba menulis semampu saya dari sudut yang relatif berbeda. BPK sebagai institusi yang tidak kredible sampai saat ini adalah suatu yang sangat berbahaya. Jika ini dibiarkan terjadi berlarut maka kita akan semakin dimangsa oleh MNC (perusahaan multi nasional asing). Apabila tetap dibiarkan kredibilitas BPK dibawah top 5 big Kantor Akuntan Publik (PWC, DT, EY, KPMG, termasuk Almarhum KAP AA-Arthur Andersen), maka semua kekayaan kita akan dikeruk. Kenapa? Karena sejarah mencatat merekalah para top KAP sebenarnya yang paling terlibat dalam korupsi korporasi. Mau bukti? Tengok krisis moneter hampir 10 tahun lalu. 65-an dari 80 an perusahaan (Kalau ndak salah) tiba-2 bangkrut mendadak karena dampak krisis moneter. Padahal hanya beberapa bulan sebelumnya laporan keuanganya ketika diedit oleh KAP Top Big-5 dengan penilaian WTS (Wajar Tanpa Syarat atau Unqualified Opinion"). Hampir 50 dari perusahaan yang bangkrut itu diaudit oleh Alm KAP AA yang saat itu nomor 2 terbesar di dunia. Sisanya diaudit oleh KAP Top Big-5 lainnya. Pertanyaannya; bagaimana mungkin perusahaan yang dinyatakan sehat walafiat, laporan keuangannya WTS, bisa tiba-tiba mati mendadak secara massal karena krisis moneter? Toh di negara lain tidak ada kok yang perusahaan mengalami kematian massal karena krisis moneter. Tidak perlu menjadi akuntan ahli untuk tahu disana pasti ada skandal besar! Tapi karena BKP sebagai wakil publik Indonesia begitu lemah, maka berbagai skandal yang dilakukan oleh para korporasi itu dibiarkan berlalu begitu saja Salam, Ferizal Ramli --- In [email protected], SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Jadi binun ana nih??? kasus yang sedang ditanyakan (oleh Pak Sony) adalah kajian formula struktur kekuasaan sebuah negara (lihat tulisan Pak Ramli) konteksnya dengan upaya pemberantasan korupsi di negara Indonesia.Terutama sulitnya pemberantasan korupsi di tingkat korporasi. Apakah pemberantasan korupsi sekarang ini ada kaitannya dari persaingan kelas dominan (penguasa) dengan yang tidak berkuasa (oposisi)? > > Apakah ana mesti buka buku akuntansi dulu ya, biar tahu ada tindakan korupsi. Apakah ente termasuk bagian dari masyarakat permisif dengan tindakan koruspi??? > > > SP Saprudin > > > > ----- Pesan Asli ---- > Dari: Agung Sedayu <[EMAIL PROTECTED]> > Kepada: [email protected] > Terkirim: Selasa, 3 April, 2007 4:44:59 > Topik: Re: [WongBanten] Re: Mencoba membedah anatomi Korupsi > > Niatnya emang harus kuat, terutama ya ... dari diri > pribadi kita lebih dulu. > Kudu cerdas, smart bahasa manejemen na, terus > wanian... > > Saya terinspirasi dosen akuntansi saya, > bahwa korupsi di ina memang seolah-olah terdesigned by > sistem dlm hal ini sistem keuangan. > System keuangan meliputi ; perencanaan( budgeting) , > pencatatan(akuntans i), pengawasan(audit) dan > pelaporan/penyajian pertanggungjawaban( akuntabilitas) . > > Kelihatannya bisa sangat sederhana memang. > Perkembangan akhir-akhir ini memang sudah ada beberapa > pemkab/kot yang sudah melaksanakan akuntansi modern, > yg menerbitkan laporan keuangan daerahnya. > > Bahkan BPK pun memberi pendapat disclaimer thdp > laporan keuangan pemerintah pusat. > > <hanya pendapat saya> > > --- sony harseno <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > bung, > > > > dari negara-negara yang anda kaji, bagaimana formasi > > struktur kekuasaan di negara2 itu, dan ada ga > > perbedaan yang begitu besar terkait perihal struktur > > kekuasaan dan relasi2nya dg di indonesia. kalo saya > > sederhanakan dari anatomi yang bung bikin, 3 dari 5 > > aktor adalah bagian dari aparatus koersif negara > > yang > > jelas sangat berkaitan dengan permisifitas kelas > > dominan yang berkuasa. saya pikir korporasi besar > > pun > > tidak lepas dari relasi ini. > > > > kedua, saya teringat statement Pramono Anung ttg > > tebang pilih yang menimpa kader2 PDIP di birokrasi, > > apakah pemberantasan korupsi terkait dengan > > persaingan > > antar kelas dominan saja (kelas dominan yg berkuasa > > vs > > dg yg tidak berkuasa?) > > > > mohon pencerahan, dan terimakasih > > > > sound! > > > > --- Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > > > Yth sdr Dian dan rek�n, > > > > > > Lama atau sebentar memberantas korupsi adalah > > > terletak dari kemauan kita bersama untuk memulai. > > > Betapa pun kecilnya suatu masalah apabila kita > > tidak > > > pernah mulai memperbaikinya maka tetap saja tidak > > > pernah terselesaikan. Tapi berkaca dari beberapa > > > negara yang berhasil memerangi korupsi maka > > > pemberantasan korupsi adalah suatu keniscayaan. > > > > > > Yth sdr Dian dan rek�n, > > > > > > Lama atau sebentar memberantas korupsi adalah > > > terletak dari kemauan kita bersama untuk memulai. > > > Betapa pun kecilnya suatu masalah apabila kita > > tidak > > > pernah mulai memperbaikinya maka tetap saja tidak > > > pernah terselesaikan. Tapi berkaca dari beberapa > > > negara yang berhasil memerangi korupsi maka > > > pemberantasan korupsi adalah suatu keniscayaan. > > > > > > Hanya mohon maaf karena data saya tentang Banten > > > masih sangat terbatas ---mengingat sudah 5 tahun > > > terakhir ini tinggal di negeri orang--- maka saya > > > tidak bisa memberikan opini yang spesifik tentang > > > Banten. Jadi, sebelum saya menulis pendapat saya > > > alangkah baiknya jika ada diantara teteh atau > > akang > > > yang lain mau sedikit sharing tentang Banten > > > khususnya tentang penyakit patologi korupsi. > > > > > > Saya pikir wacana ini cukup bagus jika kita > > > diskusikan bersama di milis wong Banten. Ini bisa > > > memberi kemajuan buat Banten di masa depan. > > Apalagi > > > korupsi bukan cuma masalah Banten tapi masalah > > kita > > > bersama. Jadi, saya setuju dengan sdr Dian kenapa > > > tidak segera kita mulai bersama untuk berkampanye > > > anti korupsi. > > > > > > Sementara seperti itu dulu, dan saya mengharapkan > > > urun rembug dari rekan-2 lainnya. > > > > > > Wassalam, > > > > > > Ferizal Ramli > > > > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, dian agusdiana > > > <dian_agd92@ ...> wrote: > > > > > > > > Kang, pertanyaannya sekarang adakah cara untuk > > > > memberantas korupsi di Banten dan butuh waktu > > > berapa > > > > lama? mengingat di Banten saat ini : > > > > 1. Gubernurnya adalah anak dari penguasa (de > > > facto) d > > > > banten yang melanggengkan cara-cara korupsi, > > > kolusi > > > > dan nepotisme. menurut saya kekalahan Zul dan > > > Marisa > > > > juga merupakan kekalahan melawan korupsi. > > > > 2. korupsi di tingkat aparat penegak hukum > > sangat > > > > mencolok. ini berdasarkan pengalaman saya > > > menangani > > > > sebuah kasus di pengadilan tangerang. > > > > 3. politisi banten masih terhegemoni oleh > > penguasa > > > (de > > > > facto). contohnya kasus anggota dewan yang dapat > > > > dengan mudah disodorkan oleh ketua dprd( kalo > > > tidak > > > > salah ingat) kepada sang penguasa (de facto) > > untuk > > > > dihina dina. Hal lain, Dewan hanya mengejar > > > anggaran > > > > proyek untuk dikorup, sehingga ide apapun untuk > > > proyek > > > > dibuat/diadakan, supaya ada anggaran yang bisa > > > > dikorupsi. Tukhul yang naik daun pun menjadi ide > > > untuk > > > > pengadaan proyek. > > > > bukan saya pesimis, tapi tampaknya pemberantasan > > > > korupsi di tingkat yang gampang pun ternyata > > tidak > > > > gampang dilaksanakan di Banten, juga di > > indonesia > > > . > > > > > > > > > > > > > > > > --- Ferizal Ramli <framliz@ > wrote: > > > > > > > > > Mencoba membedah anatomi Korupsi > > > > > > > > > > Rek�n, > > > > > > > > > > Mohon maaf jika ditulis agak panjang lebar... > > > > > > > > > > Dari hasil kajian yang saya ikuti ternyata ada > > 5 > > > > > kelompok penting > > > > > aktor korupsi. Maaf pembagian ini cuma untuk > > > > > menyederhanakan model: > > > > > (1) Aparat Penegak Hukum (Jaksa, Hakim, Polisi > > > > > dengan karakteristik > > > > > agak berbeda) > > > > > (2) Aparat Birokrasi (PNS sipil dan dengan > > > > > karateristik tertentu > > > > > polisi juga termasuk disini) > > > > > (3) Politisi (Parpol dan DPR) > > > > > (4) Masyarakat Umum (yang tidak masuk dalam > > > golongan > > > > > memiliki yang > > > > > kekuasaan) > > > > > (5) Korporasi > > > > > > > > > > Korupsi yang paling sulit diberantas adalah > > > Korupsi > > > > > Korporasi. Negara > > > > > majupun saat ini masih berperang dengan para > > > aktor > > > > > korupsi korporasi. > > > > > Ingat kasus ENRON yang menyebabkan skandal > > besar > > > > > Wallstreet. Atau di > > > > > Jerman kasus VW, Deutsche Bank, Telkom, dsb, > > > dsb. > > > > > Dampak dari korupsi > > > > > korporasi jauh lebih hebat dan lebih susah > > > diatasi. > > > > > Kenapa? karena > > > > > mereka lebih lihai. Apakah Indonesia tidak ada > > > > > korupsi korporasi? > > > > > Jelas banyak, kasus Exxon, Freeport, > > Pertamina, > > > > > BLBI, adalah contoh-2 > > > > > korupsi korporasi. Economic Hitman-nya John > > > Perkins, > > > > > merupakan cerita > > > > > gamblang tentang korupsi korporasi. Hanya > > jangan > > > > > mimpi kasus korupsi > > > > > bisa diatasi saat ini. Itu tahap yang paling > > > > > sophisticated! Harus > > > > > dimulai dari tahap yang paling gampang... > > > > > > > > > > Tapi bisakah korupsi diberantas? Jawabnya > > bisa, > > > > > bahkan kita harus > > > > > jihad untuk memberantas itu. Bagaimana > > caranya? > > > > > > > > > > Dari hasil studi kasus beberapa Negara yang > > > sukses > > > > > memberantas korupsi > > > > > dalam waktu relative "singkat" biasanya > > > mengikuti > > > > > pola berikut: > > > > > > > > > > Tahap I: Memberantas korupsi pada level Aparat > > > > > Penegak Hukum. Ini yang > > > > > paling mudah, karena aparat penegak hukum itu > > > tidak > > > > > memiliki > > > > > "kekuasaan" nyata di masyarakat. Korps mereka > > > > > (kecuali polisi) tidak > > > > > bisa melawan. Kekuasaan Jaksa dan Hakim itu > > cuma > > > > > dipersidangan jadi > > > === message truncated === > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > Be a PS3 game guru. > Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games. > http://videogames. yahoo.com/ platform? platform= 120121 > > > > > > ________________________________________________________ > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. > http://id.mail.yahoo.com/ > > [Non-text portions of this message have been removed] >
