Ass Wr Wb Kang Dedi dan rekän,

Saya bisa melihat kebenaran dari sudut pandang Kang Dedi. Berbeda
dengan kajian matematik yang kebenarannya pasti, kebenaran dalam ilmu
sosial adalah kebenaran sangat-sangat relatif. Kebenaran dalam ilmu
sosial itukan "cuma perlu" (mohon dipahami saya memakai 2 tanda kutip)
2 aspek terpenuhi: (1) logis dan (2) ada fakta empirik. Dari 2 aspek
tersebut, jelas bahwa apa yang diutarakan Kang Dedi memenuhi kebenaran
sosial. 

Hanya seperti yang sama-2 kita ketahui, karena syarat kebenaran dalam
ilmu sosial itu relatif longgar makanya dalam kajian sosial
kebenarannya menjadi banyak. Kebenaran dalam kajian sosial itu tidak
satu dan mutlak. Kadang-2 kebenaran satu sama lain bisa saling
bertentangan. Untuk itulah dalam kajian sosial selain prinsip
kebenaran, harus juga memenuhi prinsip kebaikan dan kemanfaatan. Jadi,
syarat benar itu a must, itu syarat pertama yang harus dipenuhi, tapi
kalau mau diterapkan dimasyarakat maka harus juga memenuhi syarat baik
dan bermanfaat. 

Kesalahan ekspor demokrasi dari AS ke Timteng adalah kesalahan tidak
memperhatikan unsur baik dan manfaat dalam proses transfernya. Tapi
bagi negara yang menerapkan demokrasi secara alamiah, pada saat ini
lebih baik dari pada sistem otoriter dan ditaktor. Hanya mungkin saja
1000 tahun lalu, otiterisme lebih baik dari demokrasi.  

Khusus untuk statement bahwa barat "menerapkan" ajaran Islam dalam
kasus korupsi itu dilandasi oleh spirit saya bahwa membuat organisasi
rapih dalam kebenaran itu sebenarnya mengikuti petunjuk Allah. Saya
sadar bahwa statement itu sangat mungkin debatable (bisa memicu
perdebatan). Oleh karenanya saya beri 2 tanda kutip, agar Akang/Teteh
bisa melihat spirit saya. Selebihnya saya serahkan pada Akang/Teteh
untuk melihat sisi benar, baik dan manfaat dari statement saya. 

Maaf mungkin tulisan ini sedikit menyimpang dari kajian awal kita
tentang korupsi.

Wassalam,
Ferizal 
 

--- In [email protected], Dedi juanda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Alhamdulillah, 
> Kang Ferizal yang budiman, 
> Mohon maaf bila saya kurang sependapat dengan tulisan
> :
>  
> > Toh orang-2 barat yang tidak "kenal" Islam bisa kok
> > membangun kebaikan
> > secara terorganisir sehingga membentuk masyarakat
> > anti korupsi. Mereka
> > berhasil "Menjalankan" perintah Allah. Lantas apa
> > yang menyebabkan
> > kita yang Islam malah tidak bisa?
>  
> Karena dalam benak saya timbul pertanyaan :
> a. Definisi kebaikan yang seperti apa ? kemudian,
> b. perintah Allah yang seperti apa ?
>  
> Saya pernah diberi buku biografi seorang guru besar
> (Prof), asli Orang Pandeglang, beliau belajar di
> Amerika, tetapi disertasinya dikecam habis-habisan
> karena tidak mau di doktrin oleh Amerika, sehingga
> beliau pulang kembali ke Indonesia dan bercerita
> tentang ilmu barat dan Islam. menarik sekali
> uraiannya. Sehingga kesimpulan saya (mohon maaf)
> kebobrokan bangsa ini ada indikasi pengaruh budaya
> barat yang ditelan mentah-mentah oleh bangsa Indonesia
> tanpa ada seleksi terlebih dahulu.
> contoh konkritnya : Demokrasi yang kebablasan.
> Seharusnya demokrasi ditempatkan untuk individu
> sebagai hamba Allah yang merdeka ( untuk mengemukakan
> pendapat yang benar dan bertanggung-jawab), bukan
> untuk memilih pemimpin.
> Pemimpin dipilih karena memenuhi kriteria yang baik
> sesuai Ajaran Agama kita. antara lain : JUJUR, AMANAH,
> ADIL,Bijaksana, dll,...( pasti ada walau susah
> nyarinya ). 
> Untuk sementara sekian dari saya, mohon maaf bila ada
> yang kurang berkenan.
> Wassalam,
> /dedidj
>   
> 
> 
>    
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com
>


Kirim email ke