Kang Arman dan Rekän, Disini lah masalah kita. Karena meskipun sudah tua tapi ndak sadar juga, bahkan mengajak istri/suami, anaknya, ponakannya, iparnya, dll untuk ikut KKN. Model yang begitu memang tidak pernah sadar, makanya harus dilawan bersama. Tentang bagaimana cara-cara perlawannya maka silahkan jika Akang/Teteh sekalian punya opini di-sharing-kan ke kita-kita.
Salam, Ferizal Ramli --- In [email protected], Arman Arman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > punten saya kutip tulisan Kang Ferizal..... > > "Jika generasi angkatan 40 tahun keatas secara umum menganggap korupsi > itu lumrah. Tapi generasi yang lebih muda banyak yang muak dengan > korupsi. Hidup itu kedepan. Generasi akan berganti. Sementara perang > terhadap korupsi juga dijalankan. Memang masih jauh dari sempurna, > tapi langkah awal sudah dijalankan. Tinggalah kita melanjutkan........." > > seharusnya para generasi angkatan 40 tahun keatas tahu diri donk.......... > emangnya negara ini punya Bapak Moyangnya apa............. > harta negara dikuras demi kepentingan mereka........ > anak&cucu mereka sih enak........... > tinggal menikmati harta Bapaknya walaupun hasil korup......... > > saya lebih sepakat dengan sistem cina dalam memerangi korupsi..... > para koruptor di negara kita memang harus dihukum mati........... > ditembak di alun2............ > biar anak cucunya malu................ > dengan kelakuan Bapaknya............. > > saya heran melihat keturunan para pejabat korup.......... > dengan sombong dan pongahnya mereka memamerkan kekayaan Bapaknya..... > padahal ditengah lingkungan mereka... > banyak masyarakat yang kelaparan...... > dan hidup jauh dibawah garis kemiskinan.......... > > pemerintah kita bisanya cuman ngomong tentang kemiskinan saja....... > tapi sampai hari ini bangsa kita masih tetap hidup miskin............. > > muak deh jadi bangsa indonesia......... > > generasi prustasi dengan negaranya sendiri........ > > > > > Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kang Dedi, Kang Risyaf dan rekän, > > Menarik sudut pandang dari Akang berdua. Saran dari Kang Dedi bahwa > kita harus menata diri dan keluarga kita dalam kebaikan adalah saran > konkrit yang mencerahkan. Dan itu adalah modal awal. Lalu perlu > dikembangkan lagi bahwa setiap individu yang baik harus membuat aturan > main yang baik sehingga kita akan bersama dalam kebaikan. > > Yang indah sebagai mahluk ciptaan Allah adalah, bahwa kita dikarunia > ketidaksempurnaan. Kita dikarunia kecerdasaan, nurani dan pengetahuan > pada saat bersamaan kita juga memiliki hawa nafsu. Kita nafsu melihat > harta, kita nafsu melihat tahta, dan kita juga punya syahwat. Gabungan > kontradiktif yang malah menyebabkan kita menjadi "sempurna" > menjalankan tugas sebagai khalifah. Allah Yang Maha Besar menciptakan > kita dari gabungan kontradiktif tersebut menjadi mahluk yang relatif > sempurna dibandingkan mahluk lain. Kita sempuran; dibandingkan > malaikat yang tidak punya nafsu, dibandingkan setan yang tidak punya > nurani, dibandingkan hewan yang tidak punya pikiran. Kelebihan inilah > yang membuat Allah mempercayakan kita sebagai khalifah. Apabila Allah > Yang Maha Agung percaya bahwa kita bisa menjadi pemimpin, mengisi > hidup dengan kebaikan, lantas alasan apa yang membuat diri kita > sendiri malah tidak percaya dapat berbuat baik? > > Yah, kita hidup butuh materi dan materi bisa membuat kita bisa > terjerumus menuruti nafsu. Tapi Allah yang begitu sayang kepada kita > memberikan cahaya petunjuknya. Dalam kasus korupsi massif yang terjadi > di negara kita ini misalkan, toh Allah sudah kasih petunjuk bahwa > kebaikan apapun yang sendiri-2 pasti akan dikalahkan oleh kejahatan > yang terorganisir. Peraturan/regulasi/UU atau mekanisme perekruitan > yang bersih, sistem kontrol yang efektif, sistem reward dan punishment > yang adil adalah bentuk ikhtiar kita untuk mengikuti petunjuk Allah. > Ini harus dimaknai sebagai ikhtiar untuk MEMBANGUN KEBAIKAN SECARA > TERORGANISIR. > > Toh orang-2 barat yang tidak "kenal" Islam bisa kok membangun kebaikan > secara terorganisir sehingga membentuk masyarakat anti korupsi. Mereka > berhasil "Menjalankan" perintah Allah. Lantas apa yang menyebabkan > kita yang Islam malah tidak bisa? > > Saya bisa paham kalau masyarakat kita pesimis terhadap kasus korupsi > di negara kita. Pesimisme ini merupakan tahapan sosial normal. Ada > tahapan yang menarik menyangkut kesadaran masyarakat: (1) Tenang dalam > ketidaktahuan, lalu meningkat menjadi (2) Gelisah dalam kesadaran, > lalu meningkat lagi menjadi (3) Dinamis dalam keberhasilan. > > Pada masa ORBA 30 tahun, korupsi itu gila-gilaan. Tak tersetuh. Orang > bangga kok menjadi koruptor. Saat itu kita mengalami Bonanza minyak. > Itu uang Bonanza minyak yang tak terhingga dikorup habis oleh ORBA > beserta kroni-kroninya. Mengapa kita begitu tenang dengan korupsi > dashyat itu? bahkan begitu terlena dibuatnya. Jawabnya, karena kita > tidak tahu bahwa terjadi kesalahan massif dalam masyarakat kita. > Karena kita tidak tahu maka kita tenang padahal kondisi lalu itu jauh > lebih dashyat kerusakaan moralnya dari pada hari ini. > > Lalu kenapa hari ini kita begitu gelisah dengan korupsi? Gelisah itu > bagus berarti kita sadar ada yang salah. Lalu kita melakukan > perbaikan. Pembuatan peraturan anti korupsi atau penegak hukum > terhadap koruptor adalah bentuk koreksi kita terhadap kesalahan yang > terjadi. Karena kesalahan korupsi ini begitu kronis maka tentu saja > hasil dari proses perbaikannya tidak cepat. Butuh waktu. Inilah yang > membuat kita gelisah. Bahkan bisa membuat kita putus asa dan menyerah. > > Tapi kalau kita berhasil mengatasi maka kita akan menikmati hasilnya. > Lantas jika Akang/Teteh bertanya apa yag membuat kita perlu optimis? > Jawabnya karena masyarakat kita saat ini telah sadar betul bahayanya > korupsi dan mulai melangkah menuju perbaikan. Kita mulai melawan > apapun yang berbau korupsi. Minimal jika ada diantara Teteh/Akang yang > profesinya koruptor, maka saya yakin tidak berani terang-2 an seperti > dulu. > > Jika generasi angkatan 40 tahun keatas secara umum menganggap korupsi > itu lumrah. Tapi generasi yang lebih muda banyak yang muak dengan > korupsi. Hidup itu kedepan. Generasi akan berganti. Sementara perang > terhadap korupsi juga dijalankan. Memang masih jauh dari sempurna, > tapi langkah awal sudah dijalankan. Tinggalah kita melanjutkan... > > Salam, > Ferizal Ramli > > --- In [email protected], Dedi juanda <dewa99@> wrote: > > > > Saudaraku yang dirahmati Allah, > > Saya hanya tersenyum bila membaca tulisan "model > > begini", karena tiga tahun masuk dan berhadapan > > langsung dengan MAFIA PERADILAN, jadi tahu persis > > semuanya orang bilang tentang apa itu "Regulasi" > > apalagi produk "HUKUM". > > Selagi manusia membutuhkan materi jangan harap ?!!... > > Hikmah buat saya pribadi, lebih baik menata diri > > sendiri, beri tauladan kepada keluarga (Istri & Anak), > > perbanyak amal ibadah buat bekal kelak ke akherat. > > Insya Allah,...Selamat. > > /dedidj > > > > --- Risyaf Ristiawan <barakatak_jol_leos@> > > wrote: > > > > > intinya adalah seorang top pimpinan Republik Mimpi > > > eh latah ...seorang Presiden Republik Indonesia, > > > Gubernur, Bupati dan Walikota itu harus tegas > > > terhadap corruption by greedy !!! bukan begitu Pak ? > > > mungkin langkah yang harus diambil untuk menciptakan > > > good governance adalah rekrutmen aparat penegak > > > hukum dari Jaksa, Hakim, Kepolisian dan aparat KPK > > > untuk mendapatkan orang-orang yang punya mental > > > benci korupsi bukan mendapatkan orang-orang yang > > > bermental doyan diajak korupsi. > > > > > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > > From: Ferizal Ramli <framliz@> > > > To: [email protected] > > > Sent: Monday, April 16, 2007 8:25:32 PM > > > Subject: [WongBanten] Re: Mencoba membedah anatomi > > > Korupsi _ Membandingkan > > > > > > Rekän, > > > > > > Saya mencoba menjawab pertanyaan Mas Agung dan Mas > > > Saparudin tentang > > > kondisi negara lain. Karena sifatnya tulisan bebas, > > > maka mohon maaf > > > jika jawaban saya mungkin tidak sistematik. Tapi > > > yang penting sekedar > > > sharing info saja. > > > > > > XXX > > > > > > Mencoba membandingkan dengan Negara lain > > > > > > Membandingkan kasus korupsi aparat birokrasi antara > > > Indonesia dengan > > > Jerman misalkan, sangat-sangat tidak relevan. Sistem > > > Pengendaian > > > Manajemen mereka sudah begitu mapan bahkan terlalu > > > mapan. Dengan kerja > > > super tekun saja, kita butuh berpuluh tahun untuk > > > seperti mereka. > > > > > > Data base mereka terintegrasi dan berkolaborasi satu > > > sama lain. > > > Semuanya tersistem dan ter-cross-check secara > > > sistematis. Bahkan > > > Landesamt (semacam Pemda Jerman) memakai standard > > > software SAP sebagai > > > support sistemnya. Untuk perbandingan kalau di > > > Indonesia hanya > > > perusahaan papan atas saja seperti Astra > > > Internasional yang mampu > > > pakai standard software SAP. Pemda di Indonesia? > > > cukuplah pakai MS > > > Word dan Excel dan tidak terintegrasi, plus sedikit > > > HTML lah untuk > > > buat website-nya :). Sedangkan di Jerman misalkan > > > yang namanya > > > konsep-2 canggih data base seperti OLTP (Online > > > Transaction > > > Processing) proses transaksi dengan online atau OLAP > > > (Online > > > Analitical Processing) proses mengalisa data secara > > > online adalah > > > suatu kejamakan dilakukan oleh Pemda-nya. Artinya > > > apa?, Jika seluruh > > > transaksinya pakai OLTP, maka mana ada tuh yang > > > namanya "salam temple" > > > dengan aparat, pungutan liar, kuitansi palsu, dsb, > > > dsb. > > > > > > Bagi saya, ÂDeutschland ist kein Vorbild für uns" > > > (Jerman tidak bisa > > > kita jadi model untuk dicontoh). Sistem di Jerman > > > saat ini masih > > > terlalu jauh buat kita capai. Tapi Cina dan Malaysia > > > itu bisa jadi > > > contoh yang bagus. Apa kunci sukses pemberantasan > > > korupsi di Cina? > > > Satu kata kunci penting, mereka langsung memberi > > > punish pada yang > > > bersalah. Begitu ketangkap korup yah dihukum berat. > > > Eksekusinya > > > langsung tidak dinunda-nunda. Ini memberikan efek > > > takut. > > > > > > Indonesia sebenarnya bukan tidak tahu itu. > > > Pemerintah pusat ingin > > > mem-punish juga para aparat koruptor. Persoalannya, > > > aparat hukumnya > > > juga korup. Akibatnya, sulitkan membersihkan korupsi > > > sementara aparat > > > hukumnya korup? Nah, solusi pemerintah dibentuklah > > > team ad hock macam > > > KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Ini ide bagus, > > > tapi ini masih belum > > > cukup. Korupsinya sudah massif di birokrasi, terlalu > > > banyak. KPK tidak > > > sanggup mem-punish seluruh koruptor. Lalu KPK buat > > > prioritas, dipilah > > > dan dipilih. Sekarang malah oleh masyarakat, KPK > > > terkesan itu tebang > > > pilih. Inilah kelemahan sistem ad hock, tidak > > > sistemik dan fundamental. > > > > > > Pusat pun sebenarnya mencoba memberantas korupsi > > > lebih sistemik. Pola > > > perekruitan PNS dua tahun lalu secara computerized > > > model UMPTN adalah > > > strategi bagus. Anak menteri, gubernur, bupati, > > > sekwilda, ketua > > > DPR/DPRD yang ndak lulus tes, yah ndak bisa jadi > > > PNS. Ini bagus > > > sekali. Tapikan seperti yang pernah saya tulis, > > > aparat birokrasi itu > > > berani melawan kebijakan Âpolitical will" jika > > > dirasa merugikan > > > kepentinganya. Jadilah, para Pemda di Indonesia > > > memprotes sistem > > > rekruitment bersih yang dilakukan pusat. Makanya, > > > berkaca pada > > > Thailand, yang mereka lakukan terlebih dahulu adalah > > > rekruitment > > > bersih di level Jaksa dan Hakim. Bukan langsung > > > aparat birokrasi, > > > karena aparat birokrasi jika kompak korup maka > > > berani menentang dan > > > kuat untuk melawan aturan yang benar. > > > > > > Tapi Teteh/Akang ndak perlu pesimis tentang itu. > > > Meskipun belum > > > sempurna, ternyata di Indonesia ini masih banyak > > > orang baik. Coba > > > lihat di daerah Sragen yang Bupatinya berhasil > > > membuat system "good > > > corporate government", atau di Bantul bupatinya > > > mampu me-manage > > > anggaran sehingga system kesehatan di Puskesman dan > > > RSUD-nya sangat > > > maju dan dapat diakses masyarakat kecil. Lihat di > > > Buleleng dimana > > > Bupatinya berhasil membuat system pendidikan gratis > > > dari SD sampai > > > SMU. Artinya apa?, keberhasilan ini adalah buah dari > > > mereka membangun > > > system yang efektif, atau minimal me-reduksi peluang > > > korupsi. > > > > > > Salam, > > > Ferizal Ramli > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "Ferizal Ramli" > > > <framliz@ > wrote: > > > > > > > > Korupsi Struktural (2) > > > > > > > > Rekän semua Yang Terhormat, > > > > > > > > Lantas apa beda kita dengan Negara maju? Kenapa > > > aparat kita berkubang > > > > begitu dalam sebagai koruptor? > > > > > > > > Lihat mekanisme rekruitmen PNS-nya. Pernahkah kita > > > dengar di Jerman > > > > atau Inggris penerimaan PNS-nya atas dasar > > > saudaranya Gubernur atau > > > > Bupati atau Sekwilda? Yang terjadi justru > > > sebaliknya. Jika ada > > > > hubungan saudara maka salah satu harus mundur. > > > Bukan malah menarik > > > > seluruh saudara jadi PNS mumpung masih berkuasa. > > > > > > > > Sebenarnya pemerintah pusat sudah belajar banyak > > > tentang perekruitan > > > > PNS secara efektif. Mereka mencontoh pola UMPTN di > > > Univ Negeri. Pola > > > > UMPTN ini kan pola standard penerimaan mahasiswa > > > baru di negara-2 maju > > > > sehingga menghasilkan input bagus. Rekruitment > > > dengan UMPTN ini > > > > efektif. Apa Akang/Teteh pikir UGM, ITB, UI > > > misalkan bisa > > > > mempertahankan kualitasnya semata-mata karena > > > proses belajar mereka > > > > yang bagus? Saya yakin, pola rekruitmen calon > > > mahasiswa baru yang > > > > efektiflah juga berperan penting sehingga mereka > > > bisa mendapatkan > > > > input terbaik. Pola UMPTN ini di-benchmark oleh > > > pemerintah pusat untuk > > > > merekrut PNS tahun 2004 (atau 2005?) kalau tidak > > > salah. Hasilnya, > > > > calon PNS yang diterima adalah yang terbaik. Bisa > > > dibayangkan jika > > > > mekanisme ini mentradisi di PNS kita. Kita akan > > > punya PNS-2 terbaik > > > > dimasa yang akan datang. > > > > > > > > Sayangnya, kebijakan perekruitan ini malah > > > ditentang oleh Pemda-2 > > > > > === message truncated === > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > > --------------------------------- > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! > > [Non-text portions of this message have been removed] >
