Kekerasan di APDN memang menjadi kebutuhan saat ini. Kita butuh 'junior' yang 
nurut dan taat sampai mati. Karena pada gilirannya nanti Junior akan menjadi 
senior. Jatah itu akan datang pada waktunya. Setiap junior memang harus tahu 
diri dan berendah hati menerima 'takdir' yang sudah digariskan. Bukankah di 
kita lebih familiar dengan jargon 'yang muda, yang diragukan'. Kalau belum tua, 
gak perlu didengar. Muda mesti contoh yang tua. 
   
  Soal pukulan di IPDN tidak perlu dipersoalkan. Bukankah menjadi pamong harus 
kuat dan tebal muka? jadi, tamparan selama pendidikan itu sekedar cuci muka 
biar wajah segar dan giat beraktivitas. Pola kepatuhan yang dipaksa pun memang 
cocok untuk negeri kita. Dulu para Irlander sudah terbiasa dengan tunduk kepala 
pada juragan atau kumpeni.
   
  Bukti bahwa para lulusan APDN berguna ialah banyak yang sudah menjadi ajudan 
bupati, sekda, dan gubernur. Artinya memang mereka cocok untuk menjadi 'herder' 
para penguasa kita yang korup. Mau dibubarkan? hari gene minta bubar? Berat 
urusannya, transfer ke rekening ane bisa berkurang. Lumayankan sampingan dari 
nepotisme masukin praja? belum setoran dari tiap pemda yang tidak tertutup 
kemungkinan ada 'sunatan masal' juga.
   
  Hahaha, memang enak jadi rakyat. Protes sana sini, hati lega. Tinggal yang di 
atas yang mesti mikir. Maklum, rakyat itu wajar kalo ngambek.Wong, dia yang 
gaji para penguasa. Makanya setia bayar pajak, biar bisa jadi bosnya penguasa. 
hahaha...
   
   
  Ayo! kerja sana yang bener! enak aja keluyuran!
   
   
  Howgh!
  Setia bayar pajak PPN
   
  

Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          http://www.jurnalnasional.com/new2/?KR=JURNAS&NID=27017

Pendidikan Kedinasan ala Jerman Humanis
Hamburg
Jumat, 20 April 2007
JERMAN
adalah negara yang dikenal di seluruh dunia memiliki angkatan
bersenjata dan warga yang paling disiplin. Tetapi justru
sistem pendidikan kedinasan di Jerman, baik itu pendidikan militer,
polisi maupun pendidikan Beamten (Pegawai Negeri Sipil) menerapkan
nilai-nilai humanis. Tidak ada kekerasan disana. Nuansa akademis lebih
terasa daripada nuansa militeristis.

Ini seolah menegasikan apa
yang disebut-sebut para pembela praktek kekerasan di sekolah praja
seperti IPDN di Indonesia. Seolah-olah kekerasan itu menjadi metode
yang sah untuk mendidik para prajanya agar kelak menjadi birokrat yang
disiplin. Padahal itu sama sekali tidak benar. Mau bukti ? Tengoklah
kehidupan di kampus Universität Bundeswehr (Ubw) - universitas Militer,
di Jerman.

Apa yang ada disana bertolak belakang frontal dengan
apa yang terjadi di IPDN. Kampus universitas Ubw di Hamburg begitu
terbuka untuk umum. Di depan pintu masuk kampus tidak ada pos "jaga
monyet", pos yang biasa ada pada kampus akademi militer kita. Siapapun
memiliki akses bebas masuk ke dalam kampus UBw. 

Tidak ada
mahasiswa yang memakai seragam militer meskipun para mahasiswanya
jelas-jelas adalah para kadet, calon perwira Bundeswehr (angkatan
bersenjata Jerman). Ritual memberi hormat dari mahasiswa yunior kepada
mahasiswa senior ketika mereka berpapasan juga tidak terlihat. Semuanya
terkesan normal seperti kehidupan normal di kampus umum. 

Lebih
menarik lagi, Ubw juga menerima mahasiswa umum dari kalangan sipil
biasa untuk studi disana. Kurikulum di UBw mirip dengan kurikulum
universitas. Program studi yang ditawarkan seperti layaknya universitas
umum semisal teknik sipil, elektro, mesin, informatik, ilmu pendidikan,
ilmu sosial dan ekonomi serta bisnis administrasi. UBw bukan mendidik
tenaga terlatih tapi mendidik intelektual pemikir. 

Program
yang ditawarkan dari Program Diplom (Diplom di Jerman selevel Master,
---red.) sampai Program Post Doktoral. Kurikulumnya berorientasi pada
pendidikan dengan riset sebagai roh dari kehidupan kampusnya. Tidak
mengherankan untuk kegiatan riset ini UBw tercatat menjalin kerja sama
dengan berbagai perusahaan multinasional seperti Deutsche
Forschungsgemeinschaft (DFG) atau lembaga riset Jerman,
DaimlerChrysler, Bosch, Deutsche Telekom, dsb. 

Bagi Jerman,
meskipun sebuah universitas militer, universitas tetaplah tempat untuk
menempa mahasiswanya menjadi berilmu. Sedangkan untuk menempa prajurit
perang yang terlatih biasanya dilakukan di kesatuan tempurnya
masing-masing. Tidak heran dalam sejarah berdirinya UBw di Hamburg
hampir seluruh rektornya bergelar professor doktor, bukan seorang mayor
jenderal. 

Pendidikan khusus yang bersifat kedinasan selain UBw
terdapat juga di Polizeiakademie (akademi kepolisian) dan Hochschule
für Polizei (sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian). Di institusi pendidikan
kepolisian ini kajian-kajian ilmu komprehensif dikembangkan. Riset
interdisiplin ilmu kepolisian seperti sejarah, sosialogi, politik,
hukum, ilmu administrasi dan kriminalogi merupakan kajian utamanya. 

Yang
menarik dari pendidikan kepolisian ini adalah dikembangkannya
penelitian tentang metode hermeneutika ilmu kepolisian. Masalah-masalah
kriminal dikritisi kembali menggunakan metode hermeneutika. Prinsipnya,
untuk menginterprestasikan suatu kejadian kriminal, seorang polisi
tidak lagi bersandar pada deskripsi atau penilaian subyektifnya yang
dipaparkan oleh saksi, tapi didasarkan pada mencari tahu apa yang
diyakini oleh si pelaku atas perbuatannya tersebut. 

Tentu saja
kajian-kajian riset inovatif seperti ini hanya bisa dilakukan pada
institusi pendidikan yang menitikberatkan kajian ilmu sebagai visi
utamanya. Tanpa itu semua, akademi kepolisian tidak lebih dari pada
tempat untuk mencetak perwira-perwira yang jago tembak saja. 

Sedangkan
untuk mendidik Beamten, para pemimpin PNS/birokrat, biasanya dilakukan
di DHV Speyer. Mahasiswa yang studi di DHV ini biasanya telah lulus
universitas dan melakukan studi lanjut dididik untuk menjadi pemimpin
di birokrasi. Oleh karena itu, di DHV Speyer penelitian untuk level
Doktoral dan Post Doktoral mendapat porsi yang besar. Sedangkan untuk
posisi Beamten level bawah pendidikannya cukup dilakukan oleh
Berufausbildung, semacam lembaga pelatihan yang terbuka untuk umum. 

Jerman
memang berbeda dari Indonesia. Institusi pendidikan kedinasan di Jerman
menempatkan pengembangan ilmu sebagai nafas hidupnya, bukan disiplin
kekerasan ala IPDN. Tapi kita semua tahu bahwa militer, polisi dan
Beamten Jerman terkenal dengan disiplin mati dan taat akan hukum.
Teringat kembali dengan tulisan Nietzsche, filosof Jerman, bahwa
keberhasilan pendidikan itu terletak dari kekuatan untuk mentransfer
pengetahuan dengan kasih sayang secara terus-menerus. Bukan dengan
kekerasan.

(Ferizal Ramli)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.
       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke