Kang Hilmi dan rekän,

Klo wong Banten sedikit kuliah di Kampus Kang Hilmi mungkin ada 2 alasan:
(1) Seperti yang sudah disinyalir Kang Hilmi, bahwa Wong Banten cukup
sejahtera maka tidak tertarik kuliah yang gratis :), atau
(2) Ndak lulus tes masuk :)

Yah, kita sama-2 tahu lah kualitas pendidikan dasar dan menengah
Banten. Tidak terlalu menggembirakan. Ketika saya sekolah di SMPN PM
(salah satu sekolah favorit di Kodya Cilegon), lulusan terbaik saat
itu NEM-nya 49 kalau tidak salah. Satu-satunya NEM 49 (dari 6 mata
kuliah SMP kalau tidak salah) dari 350 an siswa dalam 1 sekolah. Saya
begitu kagum sekali saat itu pada teman saya yang bisa meraih NEM
setinggi itu.

Kelak, kekaguman saya berubah menjadi keterkejutan. Setelah saya tahu,
bahwa untuk masuk SMU 1 Teladan Yogya, dibutuhkan NEM minimal 51.
Jadi, lulusan terbaik SMPN PM itu jika saat itu daftar ke SMU 1
Teladan Yogya, tidak akan diterima. 

Ketika saya daftar sekolah di SMU Cilegon (Kaveling), saya ingat NEM
tertinggi yang diterima saat ituadalah seorang teman alumnus SMU 2
Cilegon. NEM-nya 47 (maaf saya lupa angka persisnya). Jika pada tahun
yang sama saya bandingkan antara SMU Kodya 1 Yogya dengan SMU Kodya 1
Cilegon maka kesimpulannya:
(1) Tidak ada satupun dari 350 an siswa baru SMU 1 Kodya Cilegon
memiliki NEM 51.
(2) Terdapat 350 an siswa baru SMU 1 Kodya Yogya yang memiliki NEM
minimal 51. Konon khabarnya saya dengar NEM tertinggi yang diterima
saat itu di SMU 1 Yogya adalah 59. Artinya, hampir seluruh mata
pelajaran bernilai 10.

Kodya Cilegon punya ribuan industri, Kodya Yogya tidak. Kodya Cilegon
dekat dengan Ibu Kota, Kodya Yogya terletak di pelosok. Kodya Cilegon
punya pelabuhan yang menjadi urat nadi penghubung perekomian 2 pulau
utama, Kodya Yogya terletak terpencil dan cuma punya tanah gersang
model Gunung Kidul atau Gunung Menoreh. Sekalinya subur di utara di
Sleman, tapi tiap tahun harus berurusan dengan bencana Merapi. Tapi
kenapa kualitas pendidikan dasar menengah di Kodya Cilegon dengan
Kodya Yogya seperti bumi dengan langit? Tidak bisa dibandingkan karena
memang tidak pantas untuk dibandingkan...

Salam,
Ferizal Ramli 


--- In [email protected], Lawang bagja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> hehehe, yang ini lebih lucu lagi..
>   punteun kang kalo saya ngakak baca pengalaman akang.
>   hahaha...
>   ini mah jadi kayak lagu Iwan Fals...Mahasiswa yang jadi sarjana
karna rajin baca kopingho. Skripsi tinggal pesen di kurir. hehehe
>   Jangan marah yah, paling tidak kedinasan akang lebih baik karena
gak ada yang mati dipukulin. Kesian kan orang tua...
>    
>   punteun ah....
>    
>    
>   Howgh!
>   
> 
> hilmi ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Kang Ferizal dan keluarga wongbantenku,
> saya dulu kuliah disekolah kedinasan, 100% mahasiswa nya jadi PNS
walaupun banyak juga yang resign dari PNS dengan mengikuti aturan
tertentu,pola ajar sama percis ma kampus2 biasa ,ospek nya cuman
dengerin ceramah / presentasi di dalam ruangan
> tugas ospek nya dulu suruh ngeresume acara dialog di indosiar yang
host nya wimar witeolar dan syahrir tahun 98an dulu ama suruh catet
sari berita radio RRI jam 3 atau 4 dini hari, nyatetin harga sayur
mayur gitu tuuh .
> ga ada seragam, tiap awal taun ajaran baru kita incer senior2 untuk
ambil text book warisan sekaligus incer catatan2 kuliah dia, biar
kuliah cespleng 
> n ga DO. pokonamah beda pisan ma IPDN mungkin mirip kali sekolah
kedinasna di jerman itu hehehehe :D.
> 
> segitulaah info sekolah kedinasan yang dulu pernah saya singgahi 
> oh..yaaa.. lokasinya juga secara geografis masih di Banten, tapi
wongbanten dikit banget yang kuliah disitu, mungkin punya cukup dana
buat kuliah kali jadi ga cari yang gratisan kayak saya hehehe.
> 
> wassalam 
> ahmad hilmi
> 
> ----- Original Message ----
> From: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, April 20, 2007 4:06:48 AM
> Subject: [WongBanten] Pendidikan Kedinasan ala Jerman Humanis
> 
> http://www.jurnalna sional.com/ new2/?KR= JURNAS&NID= 27017
> 
> Pendidikan Kedinasan ala Jerman Humanis
> Hamburg
> Jumat, 20 April 2007
> JERMAN
> adalah negara yang dikenal di seluruh dunia memiliki angkatan
> bersenjata dan warga yang paling disiplin. Tetapi justru
> sistem pendidikan kedinasan di Jerman, baik itu pendidikan militer,
> polisi maupun pendidikan Beamten (Pegawai Negeri Sipil) menerapkan
> nilai-nilai humanis. Tidak ada kekerasan disana. Nuansa akademis lebih
> terasa daripada nuansa militeristis.
> 
> Ini seolah menegasikan apa
> yang disebut-sebut para pembela praktek kekerasan di sekolah praja
> seperti IPDN di Indonesia. Seolah-olah kekerasan itu menjadi metode
> yang sah untuk mendidik para prajanya agar kelak menjadi birokrat yang
> disiplin. Padahal itu sama sekali tidak benar. Mau bukti ? Tengoklah
> kehidupan di kampus Universität Bundeswehr (Ubw) - universitas Militer,
> di Jerman.
> 
> Apa yang ada disana bertolak belakang frontal dengan
> apa yang terjadi di IPDN. Kampus universitas Ubw di Hamburg begitu
> terbuka untuk umum. Di depan pintu masuk kampus tidak ada pos "jaga
> monyet", pos yang biasa ada pada kampus akademi militer kita. Siapapun
> memiliki akses bebas masuk ke dalam kampus UBw. 
> 
> Tidak ada
> mahasiswa yang memakai seragam militer meskipun para mahasiswanya
> jelas-jelas adalah para kadet, calon perwira Bundeswehr (angkatan
> bersenjata Jerman). Ritual memberi hormat dari mahasiswa yunior kepada
> mahasiswa senior ketika mereka berpapasan juga tidak terlihat. Semuanya
> terkesan normal seperti kehidupan normal di kampus umum. 
> 
> Lebih
> menarik lagi, Ubw juga menerima mahasiswa umum dari kalangan sipil
> biasa untuk studi disana. Kurikulum di UBw mirip dengan kurikulum
> universitas. Program studi yang ditawarkan seperti layaknya universitas
> umum semisal teknik sipil, elektro, mesin, informatik, ilmu pendidikan,
> ilmu sosial dan ekonomi serta bisnis administrasi. UBw bukan mendidik
> tenaga terlatih tapi mendidik intelektual pemikir. 
> 
> Program
> yang ditawarkan dari Program Diplom (Diplom di Jerman selevel Master,
> ---red.) sampai Program Post Doktoral. Kurikulumnya berorientasi pada
> pendidikan dengan riset sebagai roh dari kehidupan kampusnya. Tidak
> mengherankan untuk kegiatan riset ini UBw tercatat menjalin kerja sama
> dengan berbagai perusahaan multinasional seperti Deutsche
> Forschungsgemeinsch aft (DFG) atau lembaga riset Jerman,
> DaimlerChrysler, Bosch, Deutsche Telekom, dsb. 
> 
> Bagi Jerman,
> meskipun sebuah universitas militer, universitas tetaplah tempat untuk
> menempa mahasiswanya menjadi berilmu. Sedangkan untuk menempa prajurit
> perang yang terlatih biasanya dilakukan di kesatuan tempurnya
> masing-masing. Tidak heran dalam sejarah berdirinya UBw di Hamburg
> hampir seluruh rektornya bergelar professor doktor, bukan seorang mayor
> jenderal. 
> 
> Pendidikan khusus yang bersifat kedinasan selain UBw
> terdapat juga di Polizeiakademie (akademi kepolisian) dan Hochschule
> für Polizei (sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian). Di institusi pendidikan
> kepolisian ini kajian-kajian ilmu komprehensif dikembangkan. Riset
> interdisiplin ilmu kepolisian seperti sejarah, sosialogi, politik,
> hukum, ilmu administrasi dan kriminalogi merupakan kajian utamanya. 
> 
> Yang
> menarik dari pendidikan kepolisian ini adalah dikembangkannya
> penelitian tentang metode hermeneutika ilmu kepolisian. Masalah-masalah
> kriminal dikritisi kembali menggunakan metode hermeneutika. Prinsipnya,
> untuk menginterprestasika n suatu kejadian kriminal, seorang polisi
> tidak lagi bersandar pada deskripsi atau penilaian subyektifnya yang
> dipaparkan oleh saksi, tapi didasarkan pada mencari tahu apa yang
> diyakini oleh si pelaku atas perbuatannya tersebut. 
> 
> Tentu saja
> kajian-kajian riset inovatif seperti ini hanya bisa dilakukan pada
> institusi pendidikan yang menitikberatkan kajian ilmu sebagai visi
> utamanya. Tanpa itu semua, akademi kepolisian tidak lebih dari pada
> tempat untuk mencetak perwira-perwira yang jago tembak saja. 
> 
> Sedangkan
> untuk mendidik Beamten, para pemimpin PNS/birokrat, biasanya dilakukan
> di DHV Speyer. Mahasiswa yang studi di DHV ini biasanya telah lulus
> universitas dan melakukan studi lanjut dididik untuk menjadi pemimpin
> di birokrasi. Oleh karena itu, di DHV Speyer penelitian untuk level
> Doktoral dan Post Doktoral mendapat porsi yang besar. Sedangkan untuk
> posisi Beamten level bawah pendidikannya cukup dilakukan oleh
> Berufausbildung, semacam lembaga pelatihan yang terbuka untuk umum. 
> 
> Jerman
> memang berbeda dari Indonesia. Institusi pendidikan kedinasan di Jerman
> menempatkan pengembangan ilmu sebagai nafas hidupnya, bukan disiplin
> kekerasan ala IPDN. Tapi kita semua tahu bahwa militer, polisi dan
> Beamten Jerman terkenal dengan disiplin mati dan taat akan hukum.
> Teringat kembali dengan tulisan Nietzsche, filosof Jerman, bahwa
> keberhasilan pendidikan itu terletak dari kekuatan untuk mentransfer
> pengetahuan dengan kasih sayang secara terus-menerus. Bukan dengan
> kekerasan.
> 
> (Ferizal Ramli)
> 
> ____________ _________ _________ _________ _________ __
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail. yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica,
clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean,
sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg
* {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text
p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital
> #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; }
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a {
text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px
13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov
ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov
li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor
.ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o
{font-size:0;} .MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{
font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq {margin:4;} --> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
>  Check outnew cars at Yahoo! Autos.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke