hehehe, yang ini lebih lucu lagi..
  punteun kang kalo saya ngakak baca pengalaman akang.
  hahaha...
  ini mah jadi kayak lagu Iwan Fals...Mahasiswa yang jadi sarjana karna rajin 
baca kopingho. Skripsi tinggal pesen di kurir. hehehe
  Jangan marah yah, paling tidak kedinasan akang lebih baik karena gak ada yang 
mati dipukulin. Kesian kan orang tua...
   
  punteun ah....
   
   
  Howgh!
  

hilmi ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kang Ferizal dan keluarga wongbantenku,
saya dulu kuliah disekolah kedinasan, 100% mahasiswa nya jadi PNS walaupun 
banyak juga yang resign dari PNS dengan mengikuti aturan tertentu,pola ajar 
sama percis ma kampus2 biasa ,ospek nya cuman dengerin ceramah / presentasi di 
dalam ruangan
tugas ospek nya dulu suruh ngeresume acara dialog di indosiar yang host nya 
wimar witeolar dan syahrir tahun 98an dulu ama suruh catet sari berita radio 
RRI jam 3 atau 4 dini hari, nyatetin harga sayur mayur gitu tuuh .
ga ada seragam, tiap awal taun ajaran baru kita incer senior2 untuk ambil text 
book warisan sekaligus incer catatan2 kuliah dia, biar kuliah cespleng 
n ga DO. pokonamah beda pisan ma IPDN mungkin mirip kali sekolah kedinasna di 
jerman itu hehehehe :D.

segitulaah info sekolah kedinasan yang dulu pernah saya singgahi 
oh..yaaa.. lokasinya juga secara geografis masih di Banten, tapi wongbanten 
dikit banget yang kuliah disitu, mungkin punya cukup dana buat kuliah kali jadi 
ga cari yang gratisan kayak saya hehehe.

wassalam 
ahmad hilmi

----- Original Message ----
From: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, April 20, 2007 4:06:48 AM
Subject: [WongBanten] Pendidikan Kedinasan ala Jerman Humanis

http://www.jurnalna sional.com/ new2/?KR= JURNAS&NID= 27017

Pendidikan Kedinasan ala Jerman Humanis
Hamburg
Jumat, 20 April 2007
JERMAN
adalah negara yang dikenal di seluruh dunia memiliki angkatan
bersenjata dan warga yang paling disiplin. Tetapi justru
sistem pendidikan kedinasan di Jerman, baik itu pendidikan militer,
polisi maupun pendidikan Beamten (Pegawai Negeri Sipil) menerapkan
nilai-nilai humanis. Tidak ada kekerasan disana. Nuansa akademis lebih
terasa daripada nuansa militeristis.

Ini seolah menegasikan apa
yang disebut-sebut para pembela praktek kekerasan di sekolah praja
seperti IPDN di Indonesia. Seolah-olah kekerasan itu menjadi metode
yang sah untuk mendidik para prajanya agar kelak menjadi birokrat yang
disiplin. Padahal itu sama sekali tidak benar. Mau bukti ? Tengoklah
kehidupan di kampus Universität Bundeswehr (Ubw) - universitas Militer,
di Jerman.

Apa yang ada disana bertolak belakang frontal dengan
apa yang terjadi di IPDN. Kampus universitas Ubw di Hamburg begitu
terbuka untuk umum. Di depan pintu masuk kampus tidak ada pos "jaga
monyet", pos yang biasa ada pada kampus akademi militer kita. Siapapun
memiliki akses bebas masuk ke dalam kampus UBw. 

Tidak ada
mahasiswa yang memakai seragam militer meskipun para mahasiswanya
jelas-jelas adalah para kadet, calon perwira Bundeswehr (angkatan
bersenjata Jerman). Ritual memberi hormat dari mahasiswa yunior kepada
mahasiswa senior ketika mereka berpapasan juga tidak terlihat. Semuanya
terkesan normal seperti kehidupan normal di kampus umum. 

Lebih
menarik lagi, Ubw juga menerima mahasiswa umum dari kalangan sipil
biasa untuk studi disana. Kurikulum di UBw mirip dengan kurikulum
universitas. Program studi yang ditawarkan seperti layaknya universitas
umum semisal teknik sipil, elektro, mesin, informatik, ilmu pendidikan,
ilmu sosial dan ekonomi serta bisnis administrasi. UBw bukan mendidik
tenaga terlatih tapi mendidik intelektual pemikir. 

Program
yang ditawarkan dari Program Diplom (Diplom di Jerman selevel Master,
---red.) sampai Program Post Doktoral. Kurikulumnya berorientasi pada
pendidikan dengan riset sebagai roh dari kehidupan kampusnya. Tidak
mengherankan untuk kegiatan riset ini UBw tercatat menjalin kerja sama
dengan berbagai perusahaan multinasional seperti Deutsche
Forschungsgemeinsch aft (DFG) atau lembaga riset Jerman,
DaimlerChrysler, Bosch, Deutsche Telekom, dsb. 

Bagi Jerman,
meskipun sebuah universitas militer, universitas tetaplah tempat untuk
menempa mahasiswanya menjadi berilmu. Sedangkan untuk menempa prajurit
perang yang terlatih biasanya dilakukan di kesatuan tempurnya
masing-masing. Tidak heran dalam sejarah berdirinya UBw di Hamburg
hampir seluruh rektornya bergelar professor doktor, bukan seorang mayor
jenderal. 

Pendidikan khusus yang bersifat kedinasan selain UBw
terdapat juga di Polizeiakademie (akademi kepolisian) dan Hochschule
für Polizei (sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian). Di institusi pendidikan
kepolisian ini kajian-kajian ilmu komprehensif dikembangkan. Riset
interdisiplin ilmu kepolisian seperti sejarah, sosialogi, politik,
hukum, ilmu administrasi dan kriminalogi merupakan kajian utamanya. 

Yang
menarik dari pendidikan kepolisian ini adalah dikembangkannya
penelitian tentang metode hermeneutika ilmu kepolisian. Masalah-masalah
kriminal dikritisi kembali menggunakan metode hermeneutika. Prinsipnya,
untuk menginterprestasika n suatu kejadian kriminal, seorang polisi
tidak lagi bersandar pada deskripsi atau penilaian subyektifnya yang
dipaparkan oleh saksi, tapi didasarkan pada mencari tahu apa yang
diyakini oleh si pelaku atas perbuatannya tersebut. 

Tentu saja
kajian-kajian riset inovatif seperti ini hanya bisa dilakukan pada
institusi pendidikan yang menitikberatkan kajian ilmu sebagai visi
utamanya. Tanpa itu semua, akademi kepolisian tidak lebih dari pada
tempat untuk mencetak perwira-perwira yang jago tembak saja. 

Sedangkan
untuk mendidik Beamten, para pemimpin PNS/birokrat, biasanya dilakukan
di DHV Speyer. Mahasiswa yang studi di DHV ini biasanya telah lulus
universitas dan melakukan studi lanjut dididik untuk menjadi pemimpin
di birokrasi. Oleh karena itu, di DHV Speyer penelitian untuk level
Doktoral dan Post Doktoral mendapat porsi yang besar. Sedangkan untuk
posisi Beamten level bawah pendidikannya cukup dilakukan oleh
Berufausbildung, semacam lembaga pelatihan yang terbuka untuk umum. 

Jerman
memang berbeda dari Indonesia. Institusi pendidikan kedinasan di Jerman
menempatkan pengembangan ilmu sebagai nafas hidupnya, bukan disiplin
kekerasan ala IPDN. Tapi kita semua tahu bahwa militer, polisi dan
Beamten Jerman terkenal dengan disiplin mati dan taat akan hukum.
Teringat kembali dengan tulisan Nietzsche, filosof Jerman, bahwa
keberhasilan pendidikan itu terletak dari kekuatan untuk mentransfer
pengetahuan dengan kasih sayang secara terus-menerus. Bukan dengan
kekerasan.

(Ferizal Ramli)

____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

<!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, 
sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg 
select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} 
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 
0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ 
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ 
padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ 
float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ 
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ 
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } 
#ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{ 
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital
#vithd{ 
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
 #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ 
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li 
.ct{ 
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
 #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a { 
text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} 
#ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 
13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ 
padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ 
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ 
text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc { 
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ 
padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
 #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ 
text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o {font-size:0;} 
.MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} 
blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq {margin:4;} --> 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke