diskusi yg menarik sekali,
terima kasih atas komentar-komentarnya,
wawasan sy pun semakin terbuka karenanya...

sedikit berkomentar,
mengenai paragraf:

...Meski demikian, ada hal yang amat berharga di negeri yang berfaham
amat puritan itu: perempuan dan laki-laki boleh masuk keluar masjid baik
di Masjidil haram maupun Masjid Nabawi tanpa pembatas alias hijab
seperti di masjid-masjid di Nusantara atau masjid-masjid di negara
sekulaer. Bahkan di beberapa tempat tentu di banten masjid laki-laki dan
tempat sembahyang dipisah sama sekali dalam bangunan yang berbeda.
Keanehan ini juga tampak misalnya di kantor PKS yang memisahkan ruang
laki-laki dan perempuan...

menurut pengalaman sy, memang di masjidil harom tidak ada hijab antara
laki-laki dan perempuan. tetapi di masjid nabawi ada hijab. disitu
lokasi shaf-shaf laki-laki dan wanita terpisah dimana shaf wanita
disediakan di bagian belakang masjid. bahkan di roudhoh pun ada hijab
antara laki-laki dan wanita.
setidaknya itu yg sy lihat pada tahun 2003 lalu, mungkin sekarang ada
perubahan ya?

CMIIW

salam,


| ibnu thohir albantani
| teknik elektro ITB
| [EMAIL PROTECTED]

--- In [email protected], "a.suryana sudrajat" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> 1. Saya kira kita harus berusaha lebih keras dan tekun lagi untuk
memahami apakah organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah,
Al-Irsyad atau Persis memperoleh pengaruh besar dari doktrin Wahabi.
Bukankah Muhammadiyah, seperti diungkapkan Deliar Noer (Gerakan Modern
Islam...), banyak dipengaruhi oleh gerakan pembaruannya Abduh dan Rasyid
Ridha? Apakah kedua pembaru dari Mesir ini punya geneologi intelektual
dengan Muhammad ibn Abdil Wahab? Mungkin ada bagian tertentu dari ajaran
purifikasi yang mempengaruhi KH Ahmad Dahlan, tapi apakah beliau bisa
disebut penganut Wahabi? Apalagi jika kita mengikuti pemikiran tokoh2
Muhammadiyah sekarang seperti Syafii Maarif, Amin Abdullah, Haedar
Nashir, anak-anak JIMM, klaim bahwa Muhammadiyah itu Wahabi akan terasa
seperti panggang jauh dari api. Ini sama halnya mengatakan bahwa
Nurcholish Madjid pengikut Ibn Taimiyah, meskipun beliau dalam beberapa
hal sangat dipengaruhi oleh Ibn Taimiyah. Ibn Taimiyah yang hidupnya
menderita
>  karena disiksa penguasa ini adalah ilham bagi gerakan dalam
modernisme Islam.
>
>   2. Dalam pada itu kita tidak bisa membayangkan NU seperti di tahun
1920-an. Benar mereka punya doktrin Aswaja yang bersumber pada faham
teologinya Al-Asy'ari dan Al-Maturidi dan berpegang pada mazhab yang
empat (dalam berfikih). Benar kitab  Ihya dari Al-Ghazali juga masih
dipelajari di pesantren-pesantren NU. Tapi, lihatlah organisasi ini
sekarang sedang memasuki sebuah fase yang melampaui modernismenya Abduh
dan Rasyid Ridha. Metode pengambilan hukum yang diintrodusir kalangan
NU, yang berkaitan dengan isu jender dan reproduksi, misalnya, sudah
jauh lebih kaya sekarang. Bahkan metode tarjih yang dipegang oleh
sebagian kalangan  Muhammadiyah terasa tidak memadai lagi. Karena itu
pada zaman kepengurusan Syafii Maarif nama Majlis Tarjih diubah menjadi
Majlis tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam.
>
>   3. Oleh karena itu, ketika hal pengaruh-mempengaruhi sudah semakin
lazim sekarang ini sehingga batas-batas identitas pun semakin kabur,
beragama secara berkotak-kotak atawa ber-firqah-firqah menjadi tidak
relevan, apalagi saling sesat-menyesatkan.
>
>   4. Kalaupun ada kritik yang harus dialamatkan kepada Wahabisme
sebagaimana yang dipraktekkan oleh rezim Arab Saudi sekarang ini adalah
karena puritanismenya menjurus pada intoleransi terhadap berbagai
pemikiran keislaman, ahistoris dalam memahami agama, berpikir
formalistis, dan terkesan anti-ilmu pengetahuan, yang memang
mensyaratkan kebebasan berpikir. Meski demikian, ada hal yang amat
berharga di negeri yang berfaham amat puritan itu: perempuan dan
laki-laki boleh masuk keluar masjid baik di Masjidil haram maupun Masjid
Nabawi tanpa pembatas alias hijab seperti di masjid-masjid di Nusantara
atau masjid-masjid di negara sekulaer. Bahkan di beberapa tempat tentu
di banten masjid laki-laki dan tempat sembahyang dipisah sama sekali
dalam bangunan yang berbeda. Keanehan ini juga tampak misalnya di kantor
PKS yang memisahkan ruang laki-laki dan perempuan.
>
>   5. Kepada moderator, mohon cek tanggapan balik saya mengenai
Al-Qiyadah yang sampai sekarang belum dimuat, karena ada beberapa hal
yang harus saya klarifikasi. Jika moderator merasa perlu untuk
menyensornya, saya ga mo ikutan lagi di milis ini.
>
>   6. Terima kasih.
>
> ucu jauhar [EMAIL PROTECTED] wrote:
>           Oow Wahabi tuh muhammadiyah, persis, Al irsyad ma
> salafi. Trus sekarang dibilang sesat?
> Sedangkan NU ga sesat. Tapi NU kan sering
> bermusyawarah, bermupakat ama muhammadiyah, persis, Al
> Irsyad ma salafi. Orang yang bermufakat ma yang sesat,
> berarti ikut sesat dong.
> Jah.. jadi orang isLam di Endonesa sesat semua dunKz.
> Tapi sesesat-sesatnya orang sesat, masih lebih ga
> sesat orang sesat.
> Tulisan ga sesat di masyarakat sesat, bakal disebut
> tulisan sesat.
> he he he.. rasanya tulisan itu nyang sesat. ha ha ha.
>
> Sesat aja ko repOt.
> Herannya ko nyang ngirim tulisan sesat naMana kayak
> orang sesat. George dan Tigore << ga da tuh di kamus
> bahasa arab =)) =)) =)) wakakakakakaka.
>
> --- SP Saprudin [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > Assalamualaikum wr. wb.
> >
> > Dulur-dulur, barangkali adanya aliran baru seperti
> > LIA
> > EDAN dan al qiyadah al Islamiyah akibat banyaknya
> > perbedaan pendapat diantara ulama-ulama ahlussunnah
> > wal jamaah. Akibat banyak faham dan pendapat Ulama
> > mengakibatkan sebagian orang muslim lari mencari
> > alternatif keyakinan yaitu faham yang menurut mereka
> > tidak akan mendatangkan konflik. Tapi jadi
> > keblinger....
> > Ini menurut analisa saya.....mudah-mudahan benar.
> >
> > Kembali ke masalah WA HABI (kebetulan ua saya
> > namanya
> > Habibi, jadi kalau manggil dia dengan sebut Wa
> > Habi).
> >
> > Kelompok Wahabi selalu menamakan dirinya Salafi
> > adalah
> > pemahaman Islam yang berpegang kepada al Qur'an dan
> > Assunnah dengan merujuk pemahaman pada Sahabat,
> > Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in dalam hal pemahaman dan
> > pengamalan Islam.
> >
> > Wahabi menisbatkan kepada pemahaman Imam Ahmad Bin
> > Hambal, Ibnu Taimiyah dan pelopor wahabi adalah
> > Muhammad bin Abu Wahab.
> > Wahabi adalah Ahlussunah Waljamaah yang menolak
> > ta'wil
> > menetapkan asm'a dan shifat Allah menurut al Qur'an
> > dan Sunnah dan menolak tahrif, ta'thil, takyif dan
> > tamtsil.
> >
> > Wahabi berkembang ke Indonesia, ajarannya diamalkan
> > oleh beberapa organisasi diantaranya Muhammadiyah,
> > Persis, Al-Irsyad dan lainnya. Kelompok wahabi
> > muncul
> > kepermukaan dengan sebutan Salafi.
> >
> > Di Indonesia ada dua versi Ahlussunnah wal jamaah
> > yaitu :
> > 1. Ahlussunnah wal jamaah versi Asy'ariyah yang
> > dipelopori oleh Imam Al Ghazali di Indonesia eksis
> > dengan NU yang dimotori GUS PUR eh salah GUS DUR
> >
> > 2. Ahlussunnah wal jamaah versi Wahabi/Salafi yang
> > dipelopori oleh Imam Ibn Taimiyaah dan Muhammad bin
> > ABu Wahab.
> >
> > Perlu kita ketahui, jika wahabi dikatakan sesat oleh
> > sekelompok orang, lantas bagaimana dengan Al Qur'an
> > dan Terjemahannya yang dicetak oleh Kerjaan Arab
> > Saudi
> > atas perjanjian dengan Departemen Agama R.I. dimasa
> > KH. Munawir Sjadzali MA sekitar thn. 1978 adalah
> > terjemahan menurut pemahaman Wahabi/Salaf. Al Qur'an
> > terjemahan versi Wahabi/Salaf telah beredar luas di
> > masyarakat sampai sekarang ini termasuk di kalangan
> > NU.
> >
> > Kumaha atuh????
> >
> >
> >
> > SP Saprudin
> >
> >
> >
> >
> ________________________________________________________
> >
> > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di
> > di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini
> > juga di http://id.answers.yahoo.com/
> >
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Get easy, one-click access to your favorites.  Make Yahoo! your
homepage.
>

Kirim email ke