Akang2 semua,
radar banten bagaimanapun pernah menjadi ujung tombak dari berbagai 
gagasan kritis dan bernas para penulis lokal. Positioningnya jelas, 
radar banten media lokal yang (dicitrakan) independen, (terkesan) 
berani dan (sepertinya) berpengaruh ketika itu. Apalagi dalam 
konteks hegemoni kelompok kekerasan di banten, bagi saya radar 
banten amat berani. Ketika baca radar banten saya selalu menanti 
tulisan2 di kolom opini (gagasan). 
Jadi kemudian ketika tulisan yang muncul rektor ITS (beberapa kali), 
pengamat politik nasional atau anggota dpr yang tulisannya sudah 
saya baca kemarin di jawa pos atau indo pos, saya merasa ada yang 
hilang.
saya rindu perdebatan-perdebatan panas di radar banten. polemik 
semacam itu, dalam bentuk adu wacana dan gagasan ciri masyarakat 
cerdas, bukan dengan adu golok. ketika "wadah" itu hilang saya jadi 
sedih. bagi saya, radar banten pun sebetulnya kehilangan positioning 
di belantara media di banten. 
hmm mungkin perlu ada pertemuan "penulis radar banten" dengan 
pengambil kebijakan di radar banten, semodel acara penulis kompas 
yang cukup sering dilaksakan. gimana kang agus? kang gong? akang2 
yang lain?

salam

doelha

Kirim email ke