PIKIRAN RAKYAT
Berita Utama - Edisi 26 Agustus 2001
Herik Akhirnya Meninggal
AWALNYA ia berharap dapat melakukan latihan menembak. Namun
keinginannya itu kandas, bukan hanya karena ia tidak dapat
menyelesaikan rangkaian kegiatan pendidikan dasar Resimen Mahasiswa
Universitas Katolik Parahyangan (Menwa Unpar), tapi karena maut
kemudian menjemputnya.
Herik Tano Senjaya (18), mahasiswa semester I Jurusan Akuntansi
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, menghembuskan nafas
terakhirnya di Rumah Sakit Borromeus Bandung, malam Sabtu (24/8) pukul
23.15 WIB. Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan selama 10 hari,
tanpa sadarkan diri. Senin (27/8) besok, jenazah Herik diberangkatkan
pukul 09.00 WIB dari Rumah Duka Priangan untuk dikremasi di Cikadut
Bandung.
"Orang yang korupsi uang miliaran pun tidak mengalami siksaan seperti
ini. Tapi mengapa anak lugu yang belum banyak mengerti apa-apa ini
harus disiksa hingga terjadi seperti ini. Kami tidak rela," ujar
Memey, salah seorang tante Herik, yang berbicara mewakili kedua
orangtuanya.
Herik, anak bungsu dari dua bersaudara itu, terpaksa menjalani
perawatan di ruang Intensive Care Unit RS Borromeus setelah mengikuti
kegiatan pendidikan dasar Resimen Mahasiswa (Menwa) Unpar yang
berlangsung sejak 28 Juli 2001. Herik hanya mampu mengikuti kegiatan
hingga 14 Agustus lalu. Ia pingsan saat rentang waktu pelaksanaan
kegiatan tahap III berupa long march dari Pondok Bali Subang menuju
kampus Unpar. Pada hari itu juga ia dibawa ke RS Borromeus, setelah
sebelumnya sempat dirawat oleh seorang kiai dan bidan di Subang, serta
dibawa ke RSU Subang.
Menurut keterangan Dr. dr. Rully Roesli, spesialis penyakit dalam yang
menangani Herik semasa sakit, ketika tiba di Borromeus kondisi Herik
sangat mengkhawatirkan. Korban mengalami kelelahan fisik yang luar
biasa, beban fisik yang diterimanya sangat berat dan berlebihan. Hasil
pemeriksaan menyimpulkan, Herik menderita gangguan multi-organ, yakni
gangguan fungsi organ ginjal, paru-paru, fungsi hati, dan otak ("PR",
20/8).
Meski telah merelakan kepergian anak pasangan Achen dan Ilan itu,
namun pihak keluarga besar Herik merasa kurang puas terhadap sikap
Unpar dalam memandang dan menindaklanjuti kasus ini. Mereka menganggap
panitia (Menwa Unpar) tidak profesional dalam melaksanakan
kegiatannya, dan rektorat Unpar kurang dapat mengantisipasi peristiwa
yang sebenarnya pernah terjadi pada beberapa tahun sebelumnya.
"Ini bukan persoalan kegiatan sukarela atau tidak sukarela. Para anak
lugu ini dibodohkan, mereka diminta untuk melakukan ini dan itu. Apa
sih tujuannya, apa sih manfaatnya. Kegiatan seperti ini sudah
seharusnya dihapuskan, jangan sampai ada korban lagi," tutur Memey.
Sementara Hendri, salah seorang keluarga besar Herik lainnya,
menambahkan, pihaknya kini masih menunggu keputusan dari orangtua
Herik mengenai bentuk tuntutan pertanggunggjawaban dari Unpar. "Betul,
ini bukan sebuah kesengajaan, hanya kelalaian. Namun kami juga tidak
ingin kelalaian ini terus berulang," ujarnya.
Sementara itu Pembantu Rektor III Unpar, Ir. FX Budiwidodo Pangarso
MSP, mengatakan, seluruh keluarga besar Unpar turut berduka cita atas
meninggalnya Herik. Budiwidodo beserta beberapa jajarannya pun tampak
melayat ke Rumah Duka Priangan Kamar 9, tempat jenazah Herik
disemayamkan. Begitu pun pengurus Menwa Unpar.
Menanggapi keinginan pihak keluarga Herik yang menuntut
pertanggungjawaban Unpar, Budi menegaskan, dirinya mengusulkan kepada
pihak Yayasan Unpar agar menanggung seluruh biaya pengobatan Herik
selama di rumah sakit.
"Adalah sangat manusiawi jika keluarga Herik mengalami shock dalam
menghadapi kejadian ini. Saya memaklumi sikap itu, dan kami harus siap
menghadapi kemungkinan tuntutan," ujar Budi.
Selain itu, dalam waktu dekat ini, Budi juga akan meminta klarifikasi
dan pertanggungjawaban kepada Menwa Unpar. Menurutnya, proses tersebut
akan dilaksanakan secara intern dengan melibatkan Unpar dan Kodam
sebagai salah satu pembina Menwa.
Anak penurut
Herik lahir di Bandung, 10 November 1982. Ia memiliki seorang kakak
perempuan bernama Yu Oktaviani. Kepada kakaknya itu, Herik pernah
mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti kegiatan Menwa.
"Waktu ditanya alasannya, dia bilang ingin bisa melakukan latihan
menembak. Padahal, kalau tidak salah, Menwa sudah tidak melakukan
latihan menembak lagi. Jadi, ya percuma saja. Sekarang pun jadi
percuma," ujar Oktaviani, sambil meneteskan air mata.
Menurut Oktaviani, Herik tergolong anak yang memiliki banyak teman. Di
rumah pun, alumnus SMU St. Alloysius Bandung itu sangat penurut kepada
orangtua, tidak suka membantah. Kesan senada juga diungkapkan sejumlah
rekan-rekannya yang tampak melayat kemarin.
Menurut Ivone, salah satu rekannya di SMU, Herik memiliki teman yang
cukup banyak, mungkin karena ia baik, ramah, dan murah senyum. Kepada
Ivone, Herik pernah bilang ingin mendaftarkan diri sebagai anggota
Menwa. Dalam bayangan Herik, Menwa itu ramai dan menyenangkan. "Dia
suka, dan dia bilang ingin coba," ujarnya.
Sementara Anton, rekan Herik sejak SLTP, menyatakan keheranannya
terhadap peristiwa yang menimpa Herik. Anton yakin, Herik bukanlah
orang yang lemah. "Saya jadi penasaran, kegiatan seperti apa sih yang
dilakukan Herik di sana?"
Sayang, pertanyaan Anton tidak terjawab dengan tegas oleh Beni
Dominikus, Penanggung Jawab Diksar Menwa Unpar 2001. Beni memang
mengatakan, pihaknya tidak melakukan pemukulan atau penyiksaan yang
bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia. Namun, Beni tidak segera
menjawab sebuah pertanyaan sederhana, apakah terjadi pemukulan (tanpa
menyertakan kalimat "yang bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia")
terhadap Herik ataupun peserta lainnya? (Erman/"PR")***
--
--[YONSATU - ITB]------------------------------------------------------
On-line arsip : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderator : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
-----------------------------------------------------------------------
Anda terdaftar di List ini dg alamat : [email protected]