WCDS,

Saya ingin menanggapi posting pak Syafril tentang apa yang disampaikan Pak
Kurtubi.

Terus terang saya malu kalau membaca/mendengar pernyataan-pernyataan Pak
Kurtubi. Mestinya seorang doktor dari Colorado tidak bicara seperti itu.
Seperti yang ditulis pak Syafril, Pak Kurtubi bilang di semua negara: BBM
disubsidi. Saya nggak tahu dia datanya dari mana. Setahu saya, yang
mensubsidi BBM hanya beberapa negara berkembang. Di antaranya India, yang
lebih miskin dari kita, yang mensubsidi minyak tanah. Itu pun juga nggak
terlalu besar. Di sana harga minyak tanah sekitar Rp. 1500/liter.

Kemudian pak Kurtubi selalu bilang biaya produksi Pertamina lebih rendah
dibanding kilang Singapura. Saya rasa hanya pak Kurtubi-lah satu-satunya
orang yang bilang begitu. Bagaimana mungkin biayanya lebih rendah kalo
teknologi kilangnya kuno. Kilang Singapura adalah kilang modern dengan skala
produksi yang sangat besar. Apakah biaya produksi Pertamina bisa lebih
rendah kalau investasi kilangnya di mark up. Sebagai contoh, investasi
Kilang Balongan adalah dua kali kilang sejenis. Satu-satunya advantage yang
dipunyai Pertamina adalah karena minyak mentahnya disubsidi (dalam bentuk
Domestic Market Obligation).

Kemudian juga pak Kurtubi selalu bilang Pertamina adalah natural monopoli.
Menurut saya, yang benar adalah regulated monopoli. Karena monopoli
Pertamina dibuat oleh pemerintah. Dan melalui UU Migas yang baru, hak
monopoli itu akan dilepas.

Wassalam,
Oetomo Tri Winarno


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>


Kirim email ke